Mataram (suarantb.com) – Semakin berkembangnya pariwisata NTB, daerah ini sangat rentan terkena wisata toksik. Pembangunan di mana-mana, menyebabkan terjadinya perubahan iklim yang berdampak pada anomali cuaca dan panas bumi.
Direktur Eksekutif Yayasan Partisipasi Muda, Neildeva Despendya Putri menyatakan, penting untuk anak muda mengetahui bagaimana dampak wisata toksik ke depan. Untuk itu, pihaknya menggelar Academia Politica lokakarya pembuatan kebijakan publik yang berfokus pada isu lingkungan, khususnya perubahan iklim dan pelestarian ekosistem laut di NTB.
Lewat program ini, para peserta yang terdiri dari anak muda dan aktivis lokal diajak untuk memahami proses perumusan kebijakan dan dampaknya terhadap lingkungan. Selain itu, pembangunan sektor pariwisata yang pesat di NTB juga wajib dikawal agar tidak berdampak negatif pada lingkungan.
“Kita berharap dari Akademia Politica ini bisa melahirkan kebijakan-kebijakan baru yang lebih melek isu perubahan iklim. Jadi nanti ketika mereka jadi leader di daerahnya, atau mungkin bisa nyalon, kebijakan yang mereka buat tidak akan merusak lingkungan,” ujarnya, Sabtu, 18 Oktober 2025.
Pemilihan NTB sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa alasan. Wilayah ini merupakan bagian dari Coral Triangle atau segitiga terumbu karang dunia bersama Ambon, yang memiliki ekosistem laut sangat penting bagi keberlangsungan lingkungan.
“Jadi penting banget menjaga alamnya, terutama terumbu karang dan daerah mangrove,” lanjutnya.
Menurutnya, laut memiliki peran besar dalam melindungi bumi dari dampak perubahan iklim. Terumbu karang dan mangrove, sambungnya memiliki kemampuan menyimpan karbon dan menjadi habitat penting bagi kehidupan laut.
“Terumbu karang bisa jadi rumah ikan, juga bisa menyimpan karbon. Begitu juga dengan mangrove, mereka bisa menyerap emisi karbon supaya nggak keluar ke atmosfer dan bikin bumi makin panas,” katanya.
Hal serupa disampaikan oleh Peneliti Konservasi SORCE, Raja Aditya Sahala yang menyatakan bagaimana pentingnya peran terumbu karang dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut.
Menurutnya, sektor bahari sangat mempengaruhi pariwisata NTB. Apalagi, salah satu pariwisata yang paling diminati di daerah ini adalah pantai. “Saya menjelaskan apa fungsi terumbu karang dan apa dampaknya jika mereka rusak terhadap sektor wisata dan juga biota-biota laut,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, ia berharap peserta yang sebagian besar merupakan pemuda asli Lombok dapat memahami pentingnya menjaga ekosistem laut dan ikut menyebarkan kesadaran itu ke lingkungan sekitarnya.
“Pesertanya beragam, jadi mereka bisa berkontribusi sesuai bidangnya. Yang dari ilmu kelautan bisa jadi pemandu wisata eco-friendly karena mereka punya lisensi penyelaman dan dasar ilmu konservasi. Yang dari sosial bisa membuat media atau iklan edukatif tentang fungsi terumbu karang dan mangrove,” katanya.
Di samping itu, Kabid Pengembangan Destinasi Dinas Pariwisata Provinsi NTB, Chandra Aprinova menegaskan, pentingnya peran generasi muda dalam menjaga keberlanjutan pariwisata daerah. Untuk itu, pihaknya sangat mengapresiasi kegiatan Academia Politica yang diselenggarakan oleh Yayasan Partisipasi Muda tersebut.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini, karena melatih kepekaan, awareness, serta kemampuan anak muda dalam memahami mekanisme pengambilan keputusan, khususnya terkait pariwisata berkelanjutan,” katanya.
Menurutnya, pariwisata NTB saat ini sangat bergantung pada daya tarik alam dan budaya lokal. Karena itu, menjaga kelestarian lingkungan menjadi tanggung jawab bersama, terutama generasi muda yang mendominasi komposisi penduduk NTB.
“Sebagian besar wisatawan datang untuk menikmati keindahan alam kita. Maka anak muda perlu menjadi garda terdepan menjaga lingkungan dari sampah, polusi kendaraan, dan emisi karbon,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya tindakan kecil yang berdampak besar, seperti membuang dan memilah sampah pada tempatnya hingga membawa kembali sampah pribadi dari lokasi wisata.
“Hal sederhana seperti itu bisa dimulai dari rumah. Ketika datang ke destinasi wisata, minimal bawa pulang kembali bungkus makanan atau minuman agar tidak menumpuk di lokasi,” katanya.
Terkait maraknya pembangunan di kawasan wisata yang menuai penolakan warga, ia menegaskan bahwa setiap proyek harus melalui tahapan hukum dan analisis lingkungan.
Lebih jauh, ia menyebut generasi muda memiliki pengaruh besar terhadap arah kebijakan publik, termasuk sektor pariwisata.
“Sekitar 50 persen penduduk kita adalah generasi muda. Mereka tidak hanya menentukan keputusan politik, tapi juga arah kehidupan sosial dan budaya. Dalam pariwisata, mereka adalah pelaku utama, baik sebagai pengunjung maupun agen promosi,” ungkapnya.
Dispar NTB berharap dari kegiatan seperti Akademia Politica, akan lahir pemuda-pemuda yang mampu menjadi agen perubahan dalam pembangunan pariwisata yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
“Anak muda bisa menjadi agen promosi, penjaga lingkungan, sekaligus pelaku ekonomi kreatif yang memanfaatkan daya tarik alam. Itulah esensi dari pariwisata berkelanjutan, menjaga lingkungan, melestarikan budaya, dan menghasilkan ekonomi,” pungkasnya. (era/*)


