Kamis, Maret 12, 2026

BerandaEKONOMITabung Pink untuk ASN: Cara NTB Menata Keadilan Energi

Tabung Pink untuk ASN: Cara NTB Menata Keadilan Energi

Deru mesin MotoGP menggema di Sirkuit Pertamina Mandalika, Sabtu siang 4 Oktober 2025. Fermín Aldeguer, pebalap muda Spanyol dari BK8 Gresini Racing, melesat kencang menembus panas lintasan demi mengejar catatan waktu terbaik. Sehari kemudian di balapan puncak, ia berdiri di podium, disambut riuh sorak penonton.

Di luar lintasan, semangat lain juga tengah dipacu. Pertamina dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat bergegas menata ulang jalur energi rumah tangga: mengganti tabung gas melon 3 kilogram dengan Bright Gas 5,5 kilogram bagi aparatur sipil negara (ASN). Sebuah langkah kecil menuju keadilan energi di Bumi Gora.

Masih di area sirkuit, di antara gemuruh penonton balap MotoGP, Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus bersama Pemerintah Provinsi NTB meluncurkan program “Trade-In Bright Gas untuk ASN”.

Tak ada raungan mesin, tapi semangatnya sama: mengejar efisiensi dan ketepatan. Bila Aldeguer memacu motor demi podium, pemerintah daerah dan Pertamina memacu kebijakan agar gas bersubsidi 3 kilogram benar-benar dinikmati mereka yang berhak.

Eko Ricky Susanto, Direktur Pemasaran Regional Pertamina Patra Niaga, menjelaskan bahwa program ini menjadi yang pertama di Indonesia. Sekitar 1000 ASN golongan III dan IV akan menjadi peserta awal, menukar tabung 3 kilogram mereka dengan gas pink atau Bright Gas 5,5 kilogram lewat harga khusus.

“Selain memberikan pilihan energi yang lebih berkualitas, kami juga antar langsung ke rumah lewat Pertamina Delivery Service,” ujar Eko Ricky Susanto.

Program ini disebut Eko sebagai pilot project pertama di Indonesia. Pertamina juga menggandeng koperasi di tiap instansi pemerintah agar distribusi Bright Gas lebih mudah dijangkau ASN.

Menurut Eko, program ini menjadi salah satu terobosan Pertamina bersama pemerintah daerah untuk mendukung kebijakan energi berkeadilan serta mendorong ASN memberi contoh dalam penggunaan LPG non-subsidi.

Bagi Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal, kebijakan ini bukan sekadar promosi produk energi. Ia melihatnya sebagai upaya konkret memastikan subsidi LPG 3 kilogram benar-benar menyentuh masyarakat yang berhak.

Iqbal mengaku, program ini akan menjadi pilihan utama ASN dalam memenuhi kebutuhan energi rumah tangganya. “Tidak ada instruksi khusus, ini mekanisme pasar saja. Dengan adanya stimulan harga dari Pertamina, saya yakin ASN akan beralih ke Bright Gas,” katanya.

Pemprov NTB dan Pertamina berencana memperluas program ini ke tingkat kabupaten/kota setelah tahap awal di lingkup Pemprov. “Kita mulai dari pemerintah provinsi dulu, nantinya bisa berkembang ke kabupaten dan kota,” ujar mantan Dubes RI untuk Turkiye ini.

Para pelaku UMKM di Sirkuit Mandalika juga menggunakan Bright Gas selama perhelatan MotoGP Mandalika 2025.(Suara NTB/fan)
Para pelaku UMKM di Sirkuit Mandalika juga menggunakan Bright Gas selama perhelatan MotoGP Mandalika 2025.(Suara NTB/fan)

Dari Gas Melon ke Energi Berkeadilan

Najamuddin Amy, Kepala Biro Perekonomian Setda NTB, menyebut program trade-in Bright Gas lahir dari keprihatinan lama: gas melon yang seharusnya untuk masyarakat miskin kerap ‘raib’ dari pasaran menjelang hari besar keagamaan.

“Pak Gubernur sering menerima laporan kelangkaan gas 3 kilogram, padahal stok sebenarnya cukup. Karena itu, beliau ingin menegaskan kembali: gas bersubsidi bukan untuk ASN,” kata Najamuddin.

Melalui surat edaran yang dikeluarkan oleh Gubernur, para kepala dinas diminta mengingatkan pegawainya agar beralih ke gas non-subsidi. Pemerintah juga menugaskan Dinas Perdagangan dan Dinas ESDM untuk memantau pasokan di lapangan.

Gubernur Iqbal bahkan mengirim surat resmi ke BPH Migas dan Pertamina, meminta tambahan pasokan harian dari 120 ribu menjadi 150 ribu tabung LPG 3 kilogram per hari. Permintaan itu dikabulkan. “Kita ingin memastikan, saat ASN beralih, tidak ada masyarakat yang kesulitan mencari gas,” ujar Najamuddin.

Di saat yang sama, Pertamina menggandeng koperasi di lingkungan instansi pemerintah untuk menjadi titik distribusi Bright Gas. Strateginya sederhana tapi efektif: menjadikan koperasi ASN sebagai simpul baru energi non-subsidi. Dengan begitu, transisi tidak sekadar imbauan, tapi juga kemudahan. “Kita ingin membuat beralih itu mudah dan dekat,” tambahnya.

Insentif untuk Kelas Menengah

Pengamat Ekonomi dari Universitas Mataram, M. Firmansyah, memandang langkah Pemprov NTB dan Pertamina ini sebagai insentif sosial yang cerdas. Selama ini kata dia, pemerintah terlalu fokus memberi bantuan untuk masyarakat miskin, sementara kelas menengah—yang jumlahnya kian membengkak—justru kerap luput dari perhatian.

“ASN itu kan kelompok menengah. Mereka bukan miskin, tapi juga bukan kelompok yang bisa bebas membeli apa pun. Di sinilah posisi Bright Gas 5,5 kilogram menjadi relevan,” katanya.

Firmansyah menjelaskan, gas melon 3 kilogram selama ini menjadi simbol subsidi yang tidak selalu tepat sasaran. Di banyak daerah, tabung hijau itu masih ditemukan di dapur para pekerja bergaji tetap, bahkan di rumah pejabat. Ia menyebut fenomena ini sebagai “distorsi keadilan energi,” di mana bantuan negara tidak lagi menyentuh mereka yang paling membutuhkan.

“Kelas menengah seharusnya diarahkan untuk mandiri, tapi dengan pendekatan insentif, bukan paksaan,” ujarnya.

Bagi Firmansyah, kebijakan ini bukan hanya soal energi, tapi juga psikologi sosial. ASN, dengan posisi mereka yang strategis di masyarakat, punya peran simbolik dalam menanamkan budaya adil dan mandiri.

Ia menganggap langkah NTB ini sebagai eksperimen kebijakan yang pantas dicatat, karena di balik tabung pink itu, tersimpan pesan moral yang jauh lebih besar: energi bersih bukan hanya soal bahan bakar, tapi juga soal etika.

Kebijakan baru ini mendapat respon yang positif dari para ASN. Tarmizi, ASN di Biro Administrasi Pimpinan Setda NTB mengatakan, kebijakan ini sudah sangat tepat, sebab ASN tak seharusnya menggunakan gas melon karena itu untuk masyarakat miskin,

“ASN jangan pakai gas melon. Kita ini masyarakat yang cukup, punya gaji dan tunjangan,” ujarnya.

Tarmizi mengaku sudah lama menggunakan gas non-subsidi. “Dulu waktu awal konversi minyak tanah ke gas di tahun 2012, saya sempat pakai yang 3 kilo. Tapi begitu lihat tulisan di tabungnya ‘hanya untuk masyarakat miskin’, saya langsung ganti. Masa iya saya doakan diri sendiri jadi miskin?” ujarnya sambil tertawa.

Ia menilai program trade-in ini bukan beban, melainkan bentuk tanggung jawab sosial. “Kalau negara sudah kasih arah, ya kita dukung. ASN itu harus jadi contoh,” katanya.

Langkah kecil itu kini sedang dirapikan agar bisa diperluas ke kabupaten dan kota. Pemerintah provinsi menyiapkan tahapan agar ASN di seluruh NTB bisa ikut serta.
Bagi Gubernur Iqbal, inisiatif ini lebih dari sekadar pergantian tabung gas.

“Kita sedang membangun budaya baru. Budaya ASN yang sadar energi dan adil dalam memanfaatkan subsidi,” katanya.

Di tengah riuh festival dan panas yang menyengat di Pertamina Mandalika International Circuit, peluncuran program itu mungkin tampak sederhana. Namun dari tabung gas berwarna merah muda itulah, NTB sedang menyalakan api kecil menuju energi yang lebih berkeadilan.(fan)

IKLAN Ucapan Selamat Pelantikan Rektor Baru UNRAM
RELATED ARTICLES
IKLAN Ucapan Selamat Pelantikan Rektor Baru UNRAM




VIDEO