spot_img
Minggu, Juli 14, 2024
spot_img
BerandaBlogKunjungi Al-Aziziyah,  FKSPP dan Kemenag Lobar Intensifkan Pembinaan dan Evaluasi

Kunjungi Al-Aziziyah,  FKSPP dan Kemenag Lobar Intensifkan Pembinaan dan Evaluasi

Giri Menang (Suara NTB) – Forum Kerja Sama Pondok Pesantren (FKSPP) dan Kementerian Agama (Kemenag) Lombok Barat (Lobar) terus berupaya mengintensifkan pembinaan ke pondok pesantren (ponpes) yang ada di wilayah tersebut. Menyusul beberapa kejadian akhir-akhir ini yang menimpa ponpes. Seperti yang menimpa Ponpes Al-Aziziyah Gunungsari. Kemenag dan FKSPP pun sudah turun ke ponpes tersebut.

Senin (1/7), Ketua FKSPP Lobar, TGH. Muh. Nafsin Khalily bersama pengurus berkunjung ke jajaran pengurus Ponpes Al Aziziyah Kapek. Jajaran FKSPP diterima oleh Sekretaris Umum Ponpes Al-Aziziyah TGH Munawir, S.H.,M.H., dan pihak ponpes lainnya.

Ketua FKSPP berharap segera dicarikan solusi dan jalan keluar terhadap kejadian di ponpes tersebut. Ia juga berharap kasus ini jangan sampai dibesar-besarkan. “Silakan proses hukum tetap seperti biasa dan media agar lebih berimbang dalam pemberitaan, sehingga tidak merembet kemana mana, karena imbas dari pemberitaan ini minat orang tua memondokkan putra putrinya di pondok pesantren semakin berkurang, apalagi kasus ini menjelang penerimaan santri dan santriwati baru,” katanya.

Pihaknya akan intensif melakukan pembinaan-pembinaan seperti tahun-tahun sebelumnya kepada semua pengurus ponpes di Lobar.  Pembinaan in dilakukan agar kontrol dan SOP di ponpes semakin lebih diperhatikan dan bisa diterapkan oleh pihak pondok agar lebih banyak memberikan perlindungan kepada santri dan santriwati yang sedang mondok menuntut ilmu agama.

Sementara itu, pihak Ponpes Al-Aziziyah menyampaikan terima kasih atas kehadiran pengurus FKSPP Lobar yang memberikan dukungan atas ujian yang sedang dihadapi. FKSPP Lobar, lanjut dia, adalah lembaga yang pertama kali berkunjung memberikan dukungan.

Dengan harapan yang sama, pihaknya berharap solusi yang diberikan FKSPP agar permasalahan yang dihadapi oleh segera selesai dengan azaz kekeluargaan. “Salah satu santriwati yang meninggal dunia adalah salah satu santri yang sangat baik dan tradisi tradisi khotaman Al-Qur’an yang dihadiahkan untuk Almarhumah sudah  dilakukan,” ujarnya.

Ia menambahkan sejak awal terjadi persoalan tersebut, pihak ponpes langsung bergerak dalam menyelesaikan kasus yang terjadi.

Sementara itu Kepala Kemenag Lobar H. Haryadi Iskandar menyampaikan dalam menyikapi sejumlah persoalan yang belakangan ini banyak muncul di lingkungan ponpes  beberapa waktu terakhir ini, pihaknya lebih intensif lagi melakukan evaluasi keberadaan ponpes yang ada di Lobar.

Pihaknya sudah melakukan komunikasi dan koordinasi dengan FKSPP Lobar untuk melakukan evaluasi terhadap keberadaan ponpes ini.” Kita akan lakukan evaluasi, kita sudah koordinasi dengan Forum Kerja Sama Pondok Pesantren di Lombok Barat,”katanya.

Evaluasi yang akan dilakukan ini berkaitan dengan keberadaan sarana dan prasarana yang ada ponpes, kemudian keberadaan manajemen pondok,dan bagaimana sistem pendidikan yang dijalankan. Semua aspek ini akan dibahas dalam pertemuan yang nantinya akan dilaksanakan oleh Kemenag bersama seluruh ponpes yang ada di Lobar.” Semua permasalahan akan kita bahas nantinya, nanti semua pimpinan pondok pesantren akan kita kumpulkan,” ujarnya.

Saat ini dari hasil pantauan dari Kemenag, ada ditemukan penerimaan santri melebihi kapasitas ruangan tempat tinggal santri di pondok, kemudian pihak Kemenag juga ke depannya akan mendorong agar ponpes ini memberlakukan setiap penerimaan santri baru agar memberlakukan kewajiban pemeriksaan kesehatan atau ada surat keterangan sehat setiap mau masuk ponpes. “Ke depannya perlu diberlakukan masuk pondok pesantren ada surat keterangan sehat, masuk pesantren tidak ada penyakit bawaan,” paparnya.

Pasalnya ketika ada calon santri yang mau masuk pesantren, dan ada menderita penyakit bawaan,  seperti sakit asma atau penyakit yang lainnya. Ini menurutnya akan mempengaruhi kegiatan belajar mengajar di pondok, apalagi dalam satu minggu atau dalam satu bulan harus kontrol, ini pasti tidak akan efektif. Karena santri tidak bisa belajar secara efektif, kemudian pihak pengelola juga tidak bisa memberikan perhatian yang maksimal.” Kalau memang ada santri yang ada penyakit bawaan, lebih baik diberikan pulang dan menjalani perawatan di rumah,”sarannya.

Karena jika sedang sakit dan menjalani perawatan di pondok, penanganan santri yang sakit ini kurang maksimal oleh pihak pondok, akibatnya ketika terjadi sesuatu, pasti pihak pondok yang disalahkan karena dianggap lalai. “Hal seperti ini harus jadi perhatian ke depannya, kalau ada yang sakit lebih baik dirawat di rumah, jadi santri yang masuk ke pondok itu adalah santri yang benar-benar sehat,” imbuhnya.

Untuk pembinaan terhadap ponpes, lanjut Hariyadi pihaknya aktif melakukan apel secara bergiliran di ponpes sebagai bentuk pembinaan. Terkait dengan kasus di Pondok pesantren Al-Aziziyah, pihaknya sudah turun dan meminta agar pengelola ponpes untuk terbuka terhadap masalah yang sebenarnya. “Pihak pesantren sudah menyatakan kalau mereka akan terbuka, untuk membuktikan itu pihak pondok siap terbuka untuk membuka CCTV-nya,” tegasnya.

Jika misalkan nantinya ada  dugaan tersebut terbukti, dan benar kejadiannya, tentu Kemenag akan memberikan tindakan, terhadap ponpes.(her)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -



Most Popular

Recent Comments