spot_img
Sabtu, Juli 20, 2024
spot_img
BerandaEKONOMIKomunitas Petani Milenial Hadir sebagai Respons Krisis Regenerasi Petani di NTB

Komunitas Petani Milenial Hadir sebagai Respons Krisis Regenerasi Petani di NTB

Mataram (Suara NTB) – Meskipun stigma generasi muda terhadap profesi petani masih dianggap sebagai pekerjaan kasar, Komunitas Petani Milenial hadir sebagai wadah untuk merespon krisis regenerasi petani di Provinsi NTB. Tidak seperti profesi lain yang lebih menjanjikan masa depan, Petani Milenial memandang bahwa, sektor pertanian menjadi sebuah pekerjaan yang bisa dipetik hasil akhirnya di kemudian hari.

Yudistira, selaku pendiri komunitas petani milenial mengakui, saat ini generasi muda lebih banyak yang terjun ke dunia politik. Sedangkan kebutuhan ril di masyarakat ataupun di ekonomi daerah yaitu salah satunya sektor pertanian. Namun, kontribusi anak muda masih sangat minim. Ia mencoba melirik generasi milenial maupun generasi Z untuk mencoba masuk ke dunia pertanian, meskipun sebagian besar latar belakang mereka tidak dari sektor pertanian.

“Contohnya saya dari background pendidikan, enggak sinkron bahkan enggak balance banget kalau masuk ke pertanian,” katanya. Saat ini, jumlah anggota Komunitas Petani Milenial yang tergabung, kurang lebih 200 orang di seluruh Provinsi NTB. Baik dari kalangan mahasiswa, pasca sarjana, dan petani muda yang sudah mulai bertani.

Yudistira menyebutkan empat langkah yang akan menjadi program kerja utama petani milenial, yaitu program eksplorasi, yang mana program ini terfokus pada program pelatihan untuk meningkatkan kapasitas SDM, baik pengurus petani milenial dan para petani pada umumnya. Pun bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan tentang teknologi, seperti teknik modernisasi dalam bertani.

Kemudian yang kedua yaitu, program Balai Agro. Program ini semacam pendampingan ketika ada permasalahan di petani. Mereka akan memberikan pendampingan berupa edukasi, pelatihan, dan apapun yang terkait tentang kebutuhan mereka. Selain itu, terdapat program Festival Tani Raya, yang mana muatannya seperti bisnis matching. Sehingga, petani-petani di NTB mampu mengekspor atau pun memamerkan apa yang menjadi hasil produk dari hasil pertanian.

“Jadi, kita undang stake holder terkait bahkan investor-investor yang akan menjadi pasaran-pasaran hasil produk dan sebagainya, atau pun yang akan diolah ke industri yang lebih terbarukan,” jelasnya.

Program terakhir yang ditawarkan berupa Database Agropeta. Program ini terfokus pada data-data di sektor agro, seperti pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan, kelautan hingga kehutanan. Ia berharap, ini akan memudahkan peneliti untuk melakukan penelitian di sektor agro. Nantinya, mereka akan menggandeng pemerintah, NGO, BUMD dan sebagainya untuk mendapatkan sumber data tersebut.

“Dan Alhamdulillah, sejak beberapa bulan terakhir komunitas ini terbentuk, kami mendapatkan respon yang sangat bagus dari beberapa lembaga yang kami datangi seperti Bank BCA, Bank NTB, Dinas pertanian, OJK, Bank Indonesia,” ungkapnya.

Ia juga menyebutkan program tambahan seperti aksi hijau, semacam penanaman atau pun penghijauan. Kemudian Family Gathering, yang akan menjadi evaluasi jangka panjang dan jangka pendek nantinya.

Petani Milenial pada dasarnya terfokus pada lima sektor yaitu, pertanian, peternakan, kehutanan, perkebunan dan kelautan. “Untuk saat ini, karena kita masih menggarap, jadi fokus ke satu sektor saja yaitu pertanian,” jelasnya.

Ia beharap, para petani milenial yang sudah tergabung dan yang akan menjadi anggota ke depannya, untuk tetap menjaga semangat. “Jangan pernah menganggap hal ini sebagai hal bodoh atau gila. Kita percaya bahwa yang kita mulai hari ini adalah yang Insha Allah akan kita panen di masa depan nanti,” pungkasnya. (ulf)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -


Most Popular

Recent Comments