spot_img
Kamis, Januari 22, 2026
spot_img
BerandaNTBLOMBOK TENGAHMusim Hujan, Volume Sampah Naik 10 Ton per Hari

Musim Hujan, Volume Sampah Naik 10 Ton per Hari

Praya (Suara NTB) – Memasuki musim penghujan volume sampah yang diangkut Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lombok Tengah (Loteng) mengalami kenaikan sekitar 10 ton per hari. Dari rata-rata 80 ton sampah per hari di luar musim hujan, menjadi 90 ton per hari. Wilayah Kota Praya masih menjadi penyumbang volume sampah terbanyak di Loteng sejauh ini.

Kepala DLH Loteng Lalu Sarkin Junaidi, saat ditemui Suara NTB di Grand Royal Hotel Batujai, Kamis (11/12/2025), mengatakan kenaikan volume sampah harian di Loteng dipicu oleh adanya kiriman sampah dari wilayah hulu. Sampah ini terbawa air melalui sungai dan saluran drainase yang ada.

Pasalnya, kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai atau saluran drainase masih rendah, sehingga ketika hujan turun, sampah-sampah yang terbuang masuk ke daerah hilir. Terutama wilayah Kota Praya. “Akibatnya, sejumlah wilayah Kota Praya kerap diterjang banjir. Karena tumpukan sampah yang masuk membuat air meluap,” terangnya.

Meski mengalami kenaikan, Sarkin mengaku pihaknya masih bisa menanganinya. Dalam arti, semua sampah masih bisa diangkat dan dikirim ke TPA Pengengat dengan jumlah armada pengangkut yang ada. Hanya saja, kenaikan volume sampah tersebut turut meningkatkan kekhawatiran soal kondisi TPA Pengengat yang semakin menumpuk setiap hari.

Pemerintah daerah, lanjutnya, sejauh ini belum mampu melakukan pengolahan sampah untuk bisa menekan jumlah sampah yang masuk ke TPA. Di mana sampah yang ada hanya diangkut tanpa bisa diolah terlebih dahulu.

“Sejauh ini kita belum memiliki fasilitas pengolahan sampah yang bisa mengurangi volume sampah. Kita baru bisa mengakut sampah dari tempat pembuangan sampah sementara ke TPA saja. Belum sampai mengolahnya,” imbuh mantan Camat Kopang ini.

Sehingga yang diharapkan peran serta masyarakat untuk bisa membantu mengurangi sampah. Dengan cara mengolah dan memilah sampah sejak dari rumah tangga. Misalnya, sampah dapur atau sampah organik bisa diolah menjadi kompos. Sementara sampah plastik bisa dipilah dan bisa menjadi tambahan pendapatan.

Kalau tidak begitu, volume sampah tidak akan pernah turun. Bahkan akan terus naik. Di satu sisi daya tampung TPA Pengengat juga terbatas. Dan, lambat laun akan penuh juga jika tidak ada upaya mengurangi volume sampah sejak dari rumah tangga.

Diakuinya, ada rencana pembangunan TPA regional disetiap daerah oleh Pemprov NTB, walau itu masih wacana. Tetapi langkah itu bukan menjadi solusi jangka panjang. “Solusi yang paling efektif dalam menekan jumlah volume sampah yakni dengan mengolah sejak dari rumah tangga,” tegasnya. (kir)

RELATED ARTICLES
IKLAN

VIDEO