Kondisi jalan menuju daerah terpencil Dusun Serero Desa Sekotong Tengah, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat (Lobar) sangat memprihatinkan. Kondisi jalan rusak selama puluhan tahun menyebabkan mereka harus bertaruh nyawa untuk bisa ke puskesmas, pasar dan aktivitis lainnya. Warga yang sakit dan melahirkan harus digotong ke fasilitas kesehatan. Ekonomi warga juga mandek akibat terhambat jalan rusak tersebut.
DUA dusun di wilayah terpencil ini, yakni Serero Timur dan Serero Barat berada di atas ketinggian. Dua dusun ini dihuni oleh sekitar 600 jiwa dengan mata pencaharian penduduk setempat dari bertani dan beternak. Awalnya mereka hidup dengan penerangan dari tenaga surya. Beberapa tahun kemudian, warga berswadaya memasang listrik PLN, sehingga warga pun tidak lagi kesusahan karena bergantung dari tenaga surya.
Warga rela membayar dengan biaya besar agar bisa mengakses listrik. Karena warga telah jemu dijanjikan untuk dipasangkan oleh pemerintah. Penderitaan warga belum juga usai. Karena salah satu persoalan utama mereka yakni jalan belum juga ditangani hingga saat ini. Jalan menuju dua dusun hampir mencapai 5 kilometer. Sepanjang jalan itu sebagian besar jalan tanah dengan kondisi rusak, berkubang lumpur ketika hujan.
Pada saat hujan melanda belum lama ini, jalan tanah tersebut nyaris putus. Warga lagi-lagi berswadaya memperbaiki jalan tanah tersebut sehingga bisa dilalui. Mereka dibantu oleh Pemdes dan anggota DPRD NTB serta dari sumbangan dermawan yang baik hati.
Kadus Serero Timur, Nurhat mengaku persoalan jalan rusak ini terjadi hampir puluhan tahun silam. Sejak masih kecil hingga Ia dewasa dan menikah bahkan memiliki anak. Tetapi tak kunjung dibangun pemerintah.
“Panjang jalan ini 5 kilometer dari aspal daerah bagian bawah,”sebutnya.
Jalan rusak inipun menghambat semua aktivitas warga, baik ke pasar, sekokah dan puskesmas. Yang paling membahayakan keselamatan warga, ketika ada yang sakit atau melahirkan. Kerap kali warga tidak bisa dibawa ke puskesmas hingga melahirkan di rumah. Kalaupun dibawa ke puskesmas, terlebih pada malam hari ketika musim hujan warga harus menggotong.
“Kalau siang hari mungkin banyak yang menolong, tapi kalau malam hari, itu cukup beberapa keluarga dan tetangga yang menggotong. Itupun digotong hingga ke jalan yang bisa dilalui kendaraan roda empat dalam kondisi cuaca panas, kalau hujan berat,” ujarnya.
Potensi perekonomian juga terhambat. Di daerah itu, memiliki potensi pertanian, tembakau, kelapa dan lainnya. Untuk akses pengangkutan hasil panen terhambat, begitupula petani yang memasarkan hasil panen terhambat jalan rusak tersebut.
Kalaupun ada kendaraan yang mau mengangkut, warga harus membayar lebih mahal lagi. “Warga terpaksa membayar, ketimbang barang tidak nyampai,”keluhnya.
Kadus Serero Barat Fathur juga mengaku jalan ini menjadi ujung tombak kegiatan masyarakat. “Kami tertinggal akibat jalan ini,” ungkapnya.
Jalan ini vital bagi warga, karena salah satu yang menopang kemajuan ekonomi sebuah dusun adalah jalan.
Warga hampir jenuh gotong royong sejak era pemerintahan baik presiden hingga Bupati terdahulu sampai era saat ini, tidak ada yang mau membangun jalan tersebut. Padahal jika jalan itu dibangun, tidak saja memudahkan warga dari sisi pelayanan kesehatan, pendidikan, perekonomian warga juga hidup sehingga masyarakat bisa meningkatkan derajat ekonominya. Dengan begitu warga bisa keluar dari ketertinggalan dan kemiskinan. (her)

