PEMERINTAH Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan, terus berinovasi dalam meningkatkan kualitas lingkungan melalui program gowes monitoring bertajuk Gowes Monitoring Keberhasilan Lingkungan (Gombal). Program ini difokuskan untuk memantau sekaligus memastikan efektivitas implementasi pengelolaan sampah organik berbasis sistem “Tempah Dedoro” di tingkat lingkungan.
Inisiatif tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Wali Kota Mataram yang mendorong pengelolaan sampah berbasis sumber dan partisipasi masyarakat. Dengan pendekatan yang sederhana namun aktif, aparatur kelurahan turun langsung ke lapangan menggunakan sepeda untuk melakukan pemantauan secara berkala.
Lurah Bintaro, Rudy Herlambang, menegaskan bahwa program Gombal hadir bukan sekadar simbolis, melainkan sebagai langkah konkret dalam memastikan fasilitas Tempah Dedoro dimanfaatkan sebagaimana mestinya.
“Jangan hanya dipasang, tetapi tidak pernah dimonitoring. Kita harus memastikan penggunaannya sesuai peruntukan. Misalnya, jangan sampai tempat tersebut justru digunakan untuk membuang plastik,” ujarnya, Minggu (26/4/2026).
Ia menjelaskan, kegiatan monitoring dengan bersepeda memberikan sejumlah keuntungan, di antaranya kemudahan menjangkau gang-gang sempit serta interaksi langsung dengan masyarakat. Selain meninjau keberadaan dan penggunaan Tempah Dedoro, tim juga memantau kondisi kebersihan lingkungan secara umum.
Dalam pelaksanaannya, tim Gombal kerap menemukan sejumlah kendala di lapangan, seperti keterlambatan pengangkutan sampah ke tempat pembuangan sementara (TPS) maupun masih adanya pencampuran sampah organik dan nonorganik oleh warga.
Untuk mengatasi hal tersebut, pihak kelurahan langsung berkoordinasi dengan kepala lingkungan setempat. Jika ditemukan tumpukan sampah, penanganan dilakukan secara cepat dengan memilah sampah di lokasi. Sampah organik akan diarahkan ke Tempah Dedoro terdekat untuk diolah, sedangkan sampah nonorganik dibawa ke TPS.
Saat ini, monitoring intensif baru dilakukan di Lingkungan Telaga Mas sebagai lokasi percontohan. Sementara itu, pembangunan Tempah Dedoro di lingkungan lainnya masih berlangsung secara bertahap.
Rudy menambahkan, keberhasilan program ini sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat. Oleh karena itu, pihaknya terus mendorong partisipasi berbagai elemen, mulai dari aparatur kelurahan, Karang Taruna, kader lingkungan, kepala lingkungan, hingga ketua RT dan kalangan remaja.
Menurutnya, keterlibatan generasi muda menjadi kunci dalam membangun kesadaran lingkungan yang berkelanjutan. “Kami ingin menumbuhkan kebiasaan peduli lingkungan sejak dini, sehingga ke depan pengelolaan sampah bisa menjadi budaya masyarakat,” ujarnya.
Program Gombal sendiri mulai dilaksanakan pada awal April 2026 dan hingga kini terus berjalan secara fleksibel. Tidak ada jadwal baku dalam pelaksanaannya, namun dalam satu pekan kegiatan ini biasanya dilakukan dua hingga tiga kali, menyesuaikan kondisi dan kebutuhan di lapangan.
“Jika dilakukan serentak biasanya pada hari Jumat, tetapi tidak harus hari itu. Monitoring bisa dilakukan kapan saja,” pungkasnya. (pan)

