Senin, April 27, 2026

BerandaNTBKOTA BIMASarung Nggoli Dongkrak UMKM di Festival Rimpu

Sarung Nggoli Dongkrak UMKM di Festival Rimpu

Kota Bima (Suara NTB) – Tenunan khas Bima, Sarung Nggoli atau Tembe Nggoli, mencatat peningkatan permintaan selama pelaksanaan Festival Rimpu Mantika 2026. Momentum festival budaya tahunan ini, mendorong penjualan pelaku UMKM sekaligus memperluas promosi tenun tradisional ke pasar yang lebih luas.

Puluhan ribu peserta ambil bagian dalam Pawai Rimpu Mantika 2026, dengan mengenakan rimpu berbahan Sarung Nggoli dalam beragam motif dan warna. Penggunaan tenun tradisional secara massal tersebut, menjadi daya tarik utama festival yang mengangkat rimpu sebagai identitas perempuan Bima.

Salah satu pelaku usaha tenun, Mega mengaku mengalami peningkatan pesanan menjelang hingga selama festival berlangsung. Permintaan datang tidak hanya dari masyarakat lokal, tetapi juga wisatawan dari berbagai daerah yang menjadikan Sarung Nggoli sebagai oleh-oleh khas.

“Permintaan mulai meningkat sejak menjelang festival, dan selama kegiatan berlangsung kami terus menerima pesanan dari pengunjung maupun pembeli dari luar daerah,” ungkapnya, Sabtu (25/4).

Ia menjual Sarung Nggoli dengan harga berkisar Rp300 ribu-Rp900 ribu, bergantung pada motif dan tingkat kerumitan.

“Mulai dari harga Rp300 ribu sampai Rp900 ribu, Tergantung motif dan warga harganya,” Sebutnya.

Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Koperindag), terus mendorong penguatan kapasitas pengrajin agar mampu memenuhi permintaan pasar yang meningkat.

Kepala Dinas Koperindag Kota Bima, Ruslan, SE., MM., mengatakan peningkatan permintaan selama festival menjadi indikator positif bagi pertumbuhan UMKM berbasis budaya lokal.

“Kami melihat permintaan sarung nggoli meningkat signifikan selama Festival Rimpu Mantika. Momentum ini terus kami dorong melalui pelatihan dan pendampingan bagi pengrajin agar kualitas produk tetap terjaga,” ujarnya, Sabtu (25/4).

Menurutnya, pembinaan berkelanjutan diperlukan agar produk tenun lokal mampu bersaing di pasar yang lebih luas serta berkelanjutan.

Festival Rimpu Mantika 2026 mengusung tema “Ekonomi Kreatif Sebagai Mesin Pertumbuhan Ekonomi Daerah.” Tema tersebut diarahkan untuk memperkuat sektor ekonomi kreatif berbasis budaya lokal sekaligus meningkatkan nilai ekonomi produk tradisional.

Sementara itu, Sekretaris Deputi Bidang Pengembangan Strategis Ekonomi Kreatif Kementerian Ekonomi Kreatif RI, Abdul Malik menyebut, Kota Bima telah masuk sebagai kota kreatif. Status tersebut dinilai menjadi modal penting dalam mendorong pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal.

“Bima sudah memiliki kekuatan di berbagai sektor, mulai dari kuliner, budaya hingga event daerah. Ini harus dijaga dan dikembangkan,” tuturnya.

Ia menegaskan, event daerah seperti Festival Rimpu Mantika memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan industri kreatif di daerah.

Pemerintah pusat juga mendorong pemerintah daerah bersama komunitas kreatif untuk memetakan dan mendaftarkan lebih banyak potensi kekayaan intelektual, tidak hanya motif kain tenun, tetapi juga kuliner khas hingga berbagai ekspresi budaya lainnya. Upaya ini diharapkan memperkuat posisi Kota Bima sebagai kota kreatif yang berdaya saing dan berkelanjutan. (hir)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO