Mataram (Suara NTB) – Agenda Nonton Bareng (Nobar) film dokumenter “Pesta Babi” Kolonialisme di Zaman Kita, pada Sabtu (9/5) sangat digemari penonton.
Film dokumenter karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale ini, merupakan film dokumenter investigatif hasil kolaborasi Watchdoc, Jubi Media, Ekspedisi Indonesia Baru, Pusaka, dan Greenpeace Indonesia. Film yang berdurasi 90 menit itu, menyoroti deforestasi dan eksploitasi alam di Papua akibat upaya perluasan perkebunan sawit dan tebu oleh sebuah perusahaan.
Sepanjang film, penonton disuguhi dampak nyata pencaplokan tanah adat dan hutan di Papua, untuk mendukung perluasan perkebunan sawit dan tebu. Tidak kalah menegangkan, adalah upaya masyarakat adat Papua untuk mempertahankan tanahnya melalui satu ritual adat yakni “Pesta babi” sebagai simbol perlawanan.
Sejumlah penonton yang tak mendapat tempat memilih menunggu di luar sembari menanti agenda lanjutan yakni diskusi film.
Dalam penyampaiannya, Abdul Latif menegaskan bahwa film “Pesta Babi” merupakan karya jurnalistik investigatif. Dengan demikian, informasi berikut hal-hal yang disampaikan di dalamnya merupakan situasi nyata yang terjadi di Papua.
“Film ini sebagai karya jurnalistik investigatif dokumenter, itu membuka fakta lapangan, membuka sesuatu yang aksesnya untuk kita tahu itu hari ini sangat sulit. Bukan hanya karena dia jauh, letaknya Papua yang di ujung timur sana ,” ujarnya.
Sementara itu, Yan Mangandar meminta penonton untuk menjadikan film “Pesta Babi” karya Dandhy dan tim sebagai bahan refleksi. Ia mengingatkan bahwa upaya deforestasi yang terjadi di Papua, juga tengah berlangsung di NTB, khususnya yang ada di Pulau Sumbawa dan Sekotong, Lombok Barat.
“Kalau mungkin di sana (Papua,red) skalanya aparat. Nah, kalau di NTB sendiri kita melihat tahun 2019, tanah masyarakat dirampas secara paksa,” ungkapnya. (sib)

