Giri Menang (Suara NTB) – Sapi kurban Bantuan Kemasyarakatan Presiden (Banmaspres) Prabowo Subianto di Kabupaten Lombok Barat (Lobar) diperkirakan memiliki bobot mencapai 1,030 ton. Sapi yang diberi nama Rengganis (Ireng Gagah Manis) tersebut merupakan jenis simmental cross milik warga di Lingkungan Menang, Kecamatan Gerung, Lobar.
Pemilik kandang ternak Atang Setyanoro, mengatakan, untuk kali ketiga sapi peliharaannya bisa terpilih untuk dibeli oleh Presiden sebagai hewan kurban pada hari raya Iduladha nanti. Kendati berat sapinya di urutan ketiga di NTB, tetapi lolos seleksi oleh tim Pusat. Berat sapinya pada penimbangan pada saat puasa lalu mencapai 1,030 ton, tetapi sedikit mengalami penurunan. “Tetapi alhamdulillah sudah mulai normal (naik beratnya) saat ini mungkin ada sudah 1,015 ton,” kata Atang, pada media saat ditemui di kandang ternaknya, Selasa (12/5).
Untuk harga sapi yang dibeli presiden ini, sejauh ini belum dipastikan tetapi ditafsir akan dibeli seharga Rp136 juta. Harga sapi kurban Banpres ini naik dari tahun lalu sebesar Rp128 jutaan. Karena kondisi harga ternak sapi saat ini memang mengalami kenaikan.
Dalam memelihara sapi bakalan ini, kata dia, terletak pada kenyamanan sapi. Rajin dimandikan, tidak banyak nyamuk sehingga nyaman untuk makan. “Intinya kebersihan kandang dan vitamin, dan paling utama pemberian pakan. Tapi kembali lagi kenyamanan sehingga nafsu makannya bagus,” imbuhnya.
Peternak, Makbul mengatakan bahwa jenis sapi Banpres itu simmental cross berwarna hitam. Sapi ini hasil penyimpangan simmental dan berangus. “Sapi ini memang kita siapkan ikut seleksi Banpres,” imbuhnya. Tahun lalu, sapinya dibeli oleh presiden Jokowi, dilanjutkan kali ini oleh Presiden Prabowo.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Lombok Barat, Lalu Mohammad Hakam, mengatakan dari tiga sapi yang diusulkan pihaknya, hanya satu yang lolos verifikasi. “Satu yang lolos verifikasi dengan berat 1,01 ton,” ujarnya.
Hakam menjelaskan bobot sapi kurban pesanan Presiden Prabowo tahun ini lebih rendah dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 1,26 ton. “Plafon harganya itu Rp 139 juta. Kalau sapi ini belum kami tahu harganya, yang pasti harganya di atas Rp100 juta,” imbuhnya.
Ia mengaku belum mengetahui jadwal distribusi (dropping) sapi kurban tersebut. Penentuan lokasi penyaluran daging kurban sepenuhnya menjadi kewenangan Sekretariat Presiden (Setpres). “Terkait dengan dropping-nya bukan kewenangan kami, itu pembeli atau Presiden melalui Setpresnya,” jelasnya.
Di sisi lain, Hakam menyebut jumlah hewan kurban yang dipotong di Lombok Barat terus mengalami peningkatan sejak tahun 2024.Untuk tahun 2026, ia memastikan ketersediaan hewan kurban dalam kondisi surplus bahkan sebagian dikirim ke luar daerah. “Untuk hewan kurban kita di Lombok Barat surplus, bahkan kami yang mengirim ke luar daerah,” katanya. (her)

