BerandaNTBLOMBOK BARATAkibat Jalan Rusak, Warga Dusun Teluk Gok-Telaga Lupi Sekotong Lombok Barat Hidup...

Akibat Jalan Rusak, Warga Dusun Teluk Gok-Telaga Lupi Sekotong Lombok Barat Hidup Terisolasi

 

Giri Menang (Suara NTB) – Akses jalan kabupaten yang menghubungkan beberapa dusun di sepanjang pesisir Desa Sekotong Barat Kecamatan Sekotong Lombok Barat (Lobar), yakni Dusun Medang, Teluk Gok, Telaga Lupi, dan Gerisak Desa Sekotong Barat rusak parah. Kondisi akses jalan ini hampir 25 tahun lamanya dikeluhkan warga, lantaran aktivitas mereka terganggu bahkan nyaris hidup terisolasi.


Berbagai potensi yang ada di wilayah itu, seperti perikanan, pariwisata dan lainnya menjadi terhambat. Warga berharap agar jalan sepanjang 3-4 kilometer tersebut diperbaiki pemerintah. Pantauan Suara NTB, akses jalan mulai dari jalur masuk Dusun Medang menuju beberapa dusun rusak. Jalan tanah dan berbatu menyulitkan kendaraan lewat di akses tersebut.


Pengunjung yang menggunakan kendaraan harus ekstra hati-hati melewati jalur tersebut. Di wilayah itu, tampak tambak ikan dan garam. Warga membuka usaha jasa transportasi menuju Gili-gili yang ada. Warga juga membuka usaha ikan bakar. Namun, potensi itu tak bisa maksimal dikembangkan akibat kondisi jalan rusak tersebut.


Terbaru, dari video yang diunggah di media sosial bernama Fitri, tampak warga menaiki kendaraan pikap melewati jalan rusak berbatu. Warga didominasi perempuan itu membawa peralatan seadanya untuk gotong royong memperbaiki jalan rusak tersebut. Semangat gotong royong warga ini sangat menyentuh perasaan, kerena tidak saja bapak atau ibu-ibu tetapi anak-anak juga ikut gotong royong.


Dalam video berdurasi lima menit itu, dikatakan warga, jalan bukan sekadar infrastruktur tetapi urat nadi dari kehidupan, baik pendidikan, kesehatan, ekonomi, akses distribusi hasil pertanian, perikanan dan lainnya. Ketika jalan rusak atau tidak layak, maka kesengsaraan dialami warga karena semua aspek hidup ikut terhambat.


“Kondisi ini dialami warga di Teluk Gok, hampir 25 tahun lamanya. Belum ada kebijakan konkret mengenai penanganan infrastruktur dan kemiskinan ekstrem di wilayah ini,” keluh warga.


Warga pun secara swadaya melakukan gotong royong rutin setiap pekan memperbaiki jalan itu agar sedikit layak dilalui warga yang beraktifitas sehari-hari, terutama anak-anak ke sekolah. Di tengah ketidakpastian penanganan jalan itu dari pemerintah, warga tidak berpangku tangan. Mereka justru patungan dari swadaya seadanya untuk perbaiki jalan tersebut.


Menurut warga, ketika warga berswadaya perbaiki jalan, menjadi sinyal kuat adanya ketimpangan prioritas pembangunan di daerah ini. Warga memahami bahwa setiap pergantian kepemimpinan membawa visi dan gaya kerja berbeda. Namun, itu tidak menjadi alasan memperlambat usulan dari warga yang telah lama diperjuangkan. Baik usulan infrastruktur dasar, jalan, dan pelayanan publik menjadi kebutuhan kolektif masyarakat yang lahir dari musyawarah dan perjuangan panjang.


Sebab jika usulan ini terhambat, tak direalisasikan maka yang menjadi korban adalah rakyat. Seharusnya, harapan warga, transisi kepemimpinan memperkuat kesinambungan pembangunan. Warga berharap siapapun pemimpin saat ini komitmen terhadap terhadap kebutuhan dasar masyarakat. “Jalan ini telah lama rusak parah, jadi tolong para pemimpin kami juga butuh diperhatikan,” imbuhnya.


Tak saja warga, pengunjung juga mengeluhkan kondisi jalan tersebut. “Kondisi jalan ini rusak sekali, padahal ini jalan wisata menuju Gili Sudak,” kata Yayan. Menurutnya jika jalan ini bagus, maka banyak pengunjung yang akan datang dan memilih ke Gili melalui wilayah setempat, sehingga ekonomi warga setempat menjadi berkembang. “Sayang potensi daerah ini besar, tapi jalannya rusak. Pemerintah harus segera bangun,” harapnya.


Dirinya beberapa kali berwisata ke Gili Sudak dan menyeberang naik perahu warga di kawasan itu. Jaraknya dekat membuat akses ini menjadi salah satu alternatif bagi pengunjung yang mau ke Gili Sudak dan Gili Kedis. Akan tetapi, jalannya yang rusak menjadi kendala pengunjung.


Ketua RT 03 Bangko Palut Dusun Medang, Sahar mengaku akses jalan sepanjang 3 kilometer dari jalan utama kondisinya rusak parah. “Panjang jalan di daerah kami yang rusak sekitar 3 kilometer,” sebutnya.


Jalan ini perlu ditangani pemerintah, karena menghambat tidak saja potensi pariwisata religi pura, Teluk Gok dan beberapa Gili yang dekat dengan kawasan itu. Bahkan, pengunjung dari luar sering kali datang ke pura dan Goa Landak tersebut menggunakan bus. Pengunjung ini mengeluh karena kondisi jalan yang rusak tersebut. Tidak itu saja, aktivitas perekonomian warga juga terganggu, baik warga mau ke pasar, menjual hasil tangkapannya dan dari sisi kesehatan serta pendidikan juga ikut terganggu.


Jalan kabupaten itu tidak saja dilalui warga Medang, namun beberapa dusun yakni Gunung Ketapang, Geresak, Telaga Lupi dan Teluk Gok. Warga kesulitan ke fasilitas pelayanan kesehatan, terutama ketika melahirkan, karena selain jauh jaraknya, kondisi jalan itu juga menghambat warga.
Sementara itu, Kepala Desa Sekotong Barat, H. Saharudin tak menampik kondisi jalan kabupaten tersebut. “Ya memang kondisinya begitu (rusak),” akunya.


Pihaknya sudah mengusulkan ke Pemkab Lobar untuk penanganan namun belum ada tindaklanjut. Yang sudah dilakukan penanganan dari program DPRD menimbun akses jalan itu, sehingga bisa dilalui dengan layak dan aman.


Sementara dari desa sendiri tak mampu karena membutuhkan anggaran besar. Pihaknya sudah melakukan pentaludan di kawasan pemukiman warga terdampak air laut pasang tahun 2023 lalu. Sementara itu Kadis PUPRPKP Lalu Ratnawi mengatakan bahwa untuk ruas jalan ini memang kondisinya sangat memperihatinkan.


Pihaknya pun telah lama mengatensi. “Mudah-mudahan segera bisa tangani karena kemarin tidak masuk usulan Musrenbang juga,” jelasnya. Pihaknya berupaya agar bisa mendapatkan penanganan pada tahun 2027. (her)



IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO