Mataram (Suara NTB) – Pengusaha beras premium di Kota Mataram, enggan memasok beras jenis premium ke ritel maupun pusat perbelanjaan. Pasalnya, kebijakan pemerintah menetapkan harga eceran tertinggi (HET) Rp14.900 per kilogram merugikan pelaku usaha. Sementara, harga gabah dan plastik melonjak drastis.
Pengusaha beras premium di Kota Mataram mengeluhkan, pemerintah pusat belum ada perubahan kebijakan terhadap harga eceran tertinggi beras premium. Harga Rp14.900 per kilogram yang dijual di ritel maupun pusat perbelanjaan merugikan pengusaha lokal. Di satu sisi, harga gabah dibeli dari petani mulai mahal. Kondisi ini juga belum termasuk beban harga plastik yang naik signifikan. “Bayangkan harga plastik sudah naik. Gabah yang kita beli dari petani saja Rp7.700 per kilogram. Kita mau dapat untung dari mana,” kata pengusaha beras yang enggan dikorankan identitasnya.
Ia tidak mau memproduksi beras apabila hanya rugi. Suka tidak suka atau mau tidak mau kata dia, masyarakat akan menjadi korban. Pasalnya, pasokan beras yang biasanya dibeli di ritel dan pusat perbelanjaan kosong. “Terpaksa sekarang kosong stok beras premium lokal,” katanya.
Kekosongan stok beras premium lokal belum berani dijamin selama pemerintah tidak mengubah kebijakan terhadap HET. Pihaknya juga tidak ingin dirugikan dengan kebijakan tersebut, sehingga harus dicarikan solusi jangka panjang. Ia justru menduga pemerintah membiarkan pengusaha penggilingan padi mengambil pasar pelaku UMKM.
Pengusaha penggilingan padi memiliki modal besar, memiliki alat lengkap serta berani berspekulasi meskipun mendapatkan keuntungan. Berbeda halnya pengusaha beras kecil hanya mencari keuntungan kecil dari setiap satu kilogram beras. “Kita belum bayar tenaga, operasional dan lain-lain. Harga yang dijual di toko itu tidak mungkin kita lepas sesuai HET. Toko tidak mau dititipkan dengan harga segitu,” jelasnya.
Kepala Bidang Baranag Pokok dan Penting Dinas Perdagangan Kota Mataram, Sri Wahyunida dikonfirmasi kondisi beras premium yang kosong di ritel maupun pusat perbelanjaan lewat sambungan telepon maupun pesan pribadi belum memberikan tanggapan apapun hingga berita ini ditulis. (cem)

