BerandaNTBLOMBOK TIMURLPSDM NTB Luncurkan “Akademi Iklim” untuk Masyarakat Inklusi dan Berkeadilan

LPSDM NTB Luncurkan “Akademi Iklim” untuk Masyarakat Inklusi dan Berkeadilan

 


DALAM upaya mewujudkan masyarakat inklusi serta setara dalam menghadapi krisis iklim, Lembaga Pengembangan Sumber Daya Manusia (LPSDM) Nusa Tenggara Barat meluncurkan program unggulan bertajuk Akademi Iklim atau yang mereka sebut sebagai ruang koneksi “Bumi Kita”.


Direktur LPSDM NTB, Ririn Hayudiani, menjelaskan program ini dirancang untuk menghubungkan berbagai kalangan tanpa sekat dan perbedaan. “Bumi kita ini sebenarnya ruang koneksi yang akan menghubungkan semua orang dari berbagai kalangan, tanpa sekat, tanpa perbedaan, yang kemudian ingin meningkatkan kapasitas dirinya melalui proses pembelajaran,” ujarnya.


Terdapat tiga topik besar yang ditawarkan dalam akademi tersebut: Pertama, membangun kesetaraan gender dan inklusi sosial. Kedua, membangun kesadaran kolektif tentang perubahan iklim, adaptasi perubahan iklim, dan kebumian. Ketiga, pemberdayaan ekonomi.


Ketiga tema ini akan dikelola menjadi sesi-sesi pembelajaran bagi peserta dari beragam latar belakang, mulai dari mahasiswa fresh graduate, aparat pemerintah desa dan kabupaten, hingga komunitas akar rumput (grassroot).


Ririn menekankan pentingnya program ini di tengah situasi keterbatasan sumber daya dan ketergantungan pada donor. “Selama ini program kita tergantung pada pendanaan donor. Dengan situasi negara yang semakin represif terhadap ruang sipil dan keterbatasan sumber daya finansial, sosial, maupun manusia, kami mencoba mengelolanya melalui media ‘Bumi Kita’,” jelasnya.


Ia juga menyoroti perlunya membangun kesadaran tidak hanya di tingkat masyarakat, tetapi juga dalam tata kelola pemerintahan. “Pemerintah desa sering mengeluh tidak tahu bagaimana mengintegrasikan perubahan iklim dalam perencanaan. Atau bagaimana konsep kesetaraan gender bisa mencegah perkawinan anak dan kekerasan terhadap perempuan. Nah, di sinilah mereka bisa belajar bersama,” tambah Ririn.


Program ini dirancang berkelanjutan. Setelah masa pembelajaran selesai, pengelolaan akan dikembalikan ke komunitas untuk pemberdayaan lanjutan, seperti pembelian bibit, penanganan kebencanaan, dan kegiatan lain tanpa jeda. Kelas perdana atau batch pertama akan ditempatkan sesuai kebutuhan ruang, dan jika peserta sedikit, akan dikelola dengan pendekatan yang lebih santai namun tetap fokus.


“Ini untuk mendekatkan kebutuhan kelompok muda yang ingin meningkatkan kewaspadaan terhadap isu iklim dan ketimpangan sosial,” pungkas Ririn. (rus)



IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO