BerandaBIMAKebijakan Efisiensi Anggaran, Dispar Tidak Leluasa Menata Destinasi Wisata

Kebijakan Efisiensi Anggaran, Dispar Tidak Leluasa Menata Destinasi Wisata

Bima (Suara NTB) – Kebijakan efisiensi anggaran mempersempit ruang gerak Dinas Pariwisata Kabupaten Bima, dalam menata destinasi wisata. Meski demikian, upaya menjaga geliat sektor pariwisata melalui penguatan sumber daya manusia (SDM), sertifikasi pramuwisata, hingga membangun jejaring promosi antar destinasi wisata.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bima, Muhammad Akbar mengatakan, keterbatasan anggaran berdampak langsung pada program penataan fisik destinasi wisata. Namun, kondisi itu tidak membuat pemerintah daerah berhenti melakukan pembenahan sektor pariwisata.

“Efisiensi anggaran ini sangat mempersempit ruang kita untuk bergerak. Tetapi kita tidak boleh pasrah dengan keadaan. Walaupun sedikit-sedikit, kita cobalah untuk bagaimana terus menggeliat,” ujarnya, Senin (25/5).

Menurut Akbar, pemerintah daerah tetap berupaya membuka peluang dukungan anggaran melalui berbagai skema untuk mendukung pengembangan destinasi wisata. Di tengah keterbatasan tersebut, Dispar memilih fokus memperkuat kualitas SDM pariwisata yang dinilai paling dibutuhkan saat ini.

Ia menilai, kunjungan wisatawan ke Kabupaten Bima masih cukup baik meski penataan destinasi belum maksimal. Karena itu, kesiapan pramuwisata dan tour guide menjadi perhatian agar wisatawan tetap mendapat pelayanan dan informasi yang baik selama berkunjung.

“Yang perlu dipersiapkan juga itu adalah SDM kita sebagai pramuwisata, tour guide, dan lain sebagainya. Nah sehingga mereka ini harus punya lisensi,” katanya.

Akbar mengatakan, pemerintah daerah akan mendorong legalisasi dan sertifikasi pramuwisata melalui pemberian lisensi. Selain itu, Dispar juga memperkuat kerja sama dengan agen perjalanan untuk mengarahkan wisatawan datang ke Kabupaten Bima.

“Tugas pemerintah itu adalah bagaimana melegalisasi mereka dengan lisensi, kemudian bagaimana bekerja sama dengan agent travel yang ada di mana-mana untuk mengarahkan tamunya ke Bima,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga menyiapkan konsep jejaring promosi antar destinasi wisata. Melalui pola itu, pramuwisata di setiap kawasan wisata diharapkan dapat memperkenalkan destinasi lain kepada wisatawan.

“Saya ingin ada jejaring wisata. Jadi ketika orang datang ke Pantai Wane misalnya, mereka (Pramuwisata) bisa menceritakan bagaimana keadaan Pantai Lariti, bagaimana keadaan Tambora, Oi Marai, Pantai Pink, Gili Banta dan destinasi wisata lainnya,” katanya.

Menurutnya, pola promosi tersebut diharapkan memperluas pergerakan wisatawan dan meningkatkan dampak ekonomi masyarakat di kawasan wisata. “Nah sehingga bikin orang penasaran dengan destinasi wisata yang lain dan mereka memiliki minat mengunjungi ke sana gitu,” tandasnya. (hir)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO