Tanjung (Suara NTB) – Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lombok Utara, menggelar Orientasi dan Diskusi bertema Ekoteologi: Merajut Spiritualitas, Lokalitas dan Isu Global”, di Aula Kantor Kemenag KLU, Kamis (28/5/2026). Momen tersebut diharapkan semakin memperkuat sinergi antara spiritualitas, budaya lokal dan kesadaran global dalam menjaga keberlanjutan lingkungan hidup.
Dalam diskusi tersebut, hadir Wakil Bupati Lombok Utara, Kusmalahadi Syamsuri, ST., MT., Sekretaris Daerah Kabupaten Lombok Utara, Sahabudin, Sos., M.Si., Rektor Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Sriwijaya, Tangerang Banten Edi Ramawijaya Putra, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lombok Utara, Dr. H. Jalalussayuthy, unsur Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), para pengawas, guru agama Buddha, penyuluh lintas agama, serta pegawai di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lombok Utara.
Kesempatan tersebut juga dilaksanakan penandatanganan komitmen bersama dalam mewujudkan Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM).
Dalam keterangannya, Wakil Bupati Lombok Utara, Kusmalahadi Syamsuri, menyampaikan tema ekoteologi memiliki makna yang sangat mendalam karena seluruh agama pada dasarnya mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan alam dan lingkungan.
“Agama Islam, Buddha maupun Hindu sama- sama mengajarkan bagaimana menjaga keseimbangan dengan alam. Kebersihan itu sebagian dari iman, sehingga menjaga alam dimulai dari diri sendiri dan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.
Wabup menyatakan, Lombok Utara memiliki potensi alam dan wisata yang sangat besar sehingga harus dijaga dan dikelola dengan baik. Menurutnya, saat ini investor mulai melirik potensi daerah Lombok Utara, termasuk sektor pertanian dan perkebunan seperti kopi dan kakao yang telah menembus pasar ekspor.
Ia berharap, diskusi yang digelar Kemenag tersebut menghasilkan sebuah rumusan yang memberi masukan bagi pembangunan di daerah, terutama dalam menyelaraskan kondisi alam dengan kebijakan pemerintah daerah.
Kusmalahadi juga menyoroti berbagai persoalan lingkungan yang dihadapi Lombok Utara, seperti persoalan sumber mata air, pengelolaan kawasan wisata, hingga pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem di kawasan hutan dan wilayah adat.
“Nilai-nilai agama dan kearifan lokal memiliki peran penting dalam menjaga alam. Saya mengapresiasi masyarakat Hindu dan Buddha yang konsisten menjaga tradisi dan aturan adat terkait pelestarian lingkungan. Kadang aturan itu tidak tertulis, tetapi dipatuhi masyarakat. Ini yang bagus sebenarnya, bagaimana keseimbangan alam tetap dijaga,” ungkapnya.
Wabup menambahkan, saat ini isu global berkembang demikian banyak. Oleh karenanya ia berharap, diskusi lintas masyarakat beragama ini dapat menghasilkan rumusan yang bermanfaat bagi Lombok Utara.
Selain kegiatan orientasi dan diskusi, acara tersebut juga dirangkaikan dengan kegiatan kurban dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah. Pada lduladha tahun ini, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lombok Utara mengurbankan sebanyak 4 ekor sapi. Daging kurban kemudian dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan, khususnya para orang tua jompo dan anak yatim di wilayah Kabupaten Lombok Utara sebagai bentuk kepedulian sosial dan semangat berbagi kepada sesama. (ari)


