Mataram (Suara NTB) – Seorang guru fisika dari Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 16 Mataram, Ahmad Chaero Saihu, berhasil menciptakan inovasi teknologi yang mampu mengubah limbah air wudu menjadi energi listrik. Rekayasa teknologi ramah lingkungan ini diberi nama Pengelolaan Air Wudu Jadi Listrik atau “Pawali”. Inovasi tersebut kini ikut serta dalam program Inovasi Daerah (Inovda) 2026.
Pria yang akrab disapa Saihu ini menjelaskan bahwa ide menciptakan ‘Pawali’ berawal dari keprihatinannya melihat volume air wudu yang terbuang sia-sia setiap hari.
“Nah, muncul ide itu karena memang saya lihat anak-anak ini saat berwudu itu memang dibuang-buang air itu. Dan saya lihat di mana pun, bukan cuma di sekolah, di masjid mana pun, lebih banyak air yang terbuang daripada dipakai,” ujarnya, Jumat (29/5).
Berangkat dari keresahan tersebut, Saihu mulai merancang alat yang mampu mengonversi bekas air wudu menjadi listrik siap pakai. Untuk menekan biaya, ia memanfaatkan barang-barang bekas yang ada di lingkungan sekolah, seperti ember, pipa, dan genteng.
“Jadi, yang dibeli itu hanya beberapa item lah yang memang jadi listriknya. Yang menjadi penggerak utamanya itu memang harus dibeli,” tutur Saihu.
Secara teknis, ‘Pawali’ bekerja dengan mekanisme yang cukup sederhana. Air bekas wudu yang telah ditampung dialirkan menuju turbin penggerak. Aliran air tersebut akan memutar turbin untuk mengubah energi kinetik (gerak) menjadi energi listrik, yang kemudian disimpan ke dalam sebuah power bank (bank energi) berkapasitas 10.000 mAh.
Meskipun sederhana, inovasi ini memiliki keunggulan tersendiri dibanding sistem turbin konvensional yang biasanya membutuhkan arus air yang sangat deras.
“Kendala awalnya kita, bagaimanapun yang namanya turbin adalah harus ada ketinggian air. Biasanya turbin itu di mana pun pasti airnya harus deras, ketinggiannya harus maksimal, kemudian debit airnya itu harus tinggi. Nah, kelebihan (inovasi) kami di sana, kami tidak butuh debit air besar, hanya ketinggian sampai 30 senti saja sudah bisa bergerak,” jelas Saihu.
Dalam tahap uji coba, Saihu memasang sembilan buah ember sebagai wadah penampung air bekas wudu para siswa. Berdasarkan kalkulasinya, satu ember akan terisi penuh setelah digunakan oleh empat orang siswa berwudu. Artinya, dibutuhkan 36 siswa untuk memenuhi seluruh sembilan ember tersebut. Setiap sembilan ember air yang dialirkan mampu menghasilkan daya hingga 4 watt.
Di SMPN 16 Mataram sendiri, terdapat sekitar 270 siswa muslim yang berwudu setiap kali masuk waktu salat. Dengan jumlah siswa tersebut dan daya yang dihasilkan per harinya, Saihu memperkirakan wadah penyimpanan energi dapat terisi penuh dalam hitungan minggu.
“Nah, jadi perkiraan saya 10.000 mAh ini penuh selama 4 minggu,” jelasnya.
Selain menghasilkan energi alternatif, keberadaan ‘Pawali’ juga membawa dampak positif bagi Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di kelas. Pembelajaran fisika kini menjadi jauh lebih interaktif dan aplikatif, sehingga siswa dapat memahami teori konversi energi secara konkret.
Saihu menceritakan bahwa sebelumnya siswa hanya bisa melihat demonstrasi alat konversi energi gerak ke listrik dalam skala kecil yang kurang memberikan gambaran nyata.
“Dengan begitu, kalau kita buat real-nya langsung, mereka akan paham. Anak-anak lebih mudah memahami konsep,” terangnya.
Ke depannya, Saihu berharap penerapan sistem ‘Pawali’ tidak hanya terbatas di area sekolah, melainkan dapat diadaptasi oleh masyarakat luas untuk mengolah berbagai jenis limbah air rumah tangga lainnya.
“Kalau harapan itu, yang penting alat ini bisa dimanfaatkan untuk sebanyak-banyak pengguna. Artinya apa? Yang selama ini air terbuang, bisa dimanfaatkan lagi. Bukan hanya air wudu sebenarnya, bisa air cuci piring dan sebagainya itu. Intinya kita menampung dan menghasilkan,” pungkasnya (sib/*)


