Giri Menang (Suara NTB) – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) melakui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan menggencarkan kegiatan Gerakan Pangan Murah (GPM) sebagai upaya pengendalian inflasi sekaligus menjaga daya beli masyarakat. Pasalnya laju inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) pada Mei 2026 tercatat sebesar 3,78 persen.
Salah satu lokasi GPM yang digelar adalah di Kantor Desa Taman Ayu, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat, Jumat (5/6/2026).
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTB, Lalu Mirza Amir Hamzah, menegaskan penyediaan pangan dengan harga terjangkau harus dirasakan seluruh lapisan masyarakat, termasuk warga yang tinggal di wilayah terpencil.
“Gerakan Pangan Murah ini merupakan bentuk kepedulian pemerintah terhadap rakyat. Tidak hanya di perkotaan, tetapi juga sampai ke daerah-daerah pelosok. Kita harus memberikan pelayanan terbaik terutama dalam penyediaan bahan pangan yang terjangkau,” ujarnya di Kantor Desa Taman Ayu, Gerung.
Menurutnya, pemerintah berupaya menghadirkan harga kebutuhan pokok yang lebih murah dibandingkan harga pasar sebagai salah satu langkah strategis menekan laju inflasi di daerah. “Harga yang kita hadirkan dalam Gerakan Pangan Murah tentu dibuat semurah mungkin. Ini bagian dari upaya pengendalian inflasi agar kebutuhan masyarakat tetap dapat dijangkau,” katanya. Terlebih pada angka BPS Bulan Mei, angka inflasi mencapai 3,78 persen.
Disebutkan terdapat dua komoditi penyumbang inflasi di semua kabupaten /kota di NTB. “Itu ada bahan bakar rumah tangga dan minyak goreng, sehingga di sini (kegiatan GPM) kami hadirkan minyak goreng,” terangnya.
Warga pun antusias pada kegiatan GPM ini, mereka banyak mencari dan membeli minyak goreng karena menjadi komoditas penyumbang inflasi.
Berdasarkan hasil pemantauan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB, kondisi harga kebutuhan pokok di pasar hingga saat ini masih dalam kategori aman dan terkendali.
“Alhamdulillah, kondisi harga sembako di NTB masih aman. Namun pengendalian inflasi tidak bisa dilakukan oleh satu instansi saja. Kita harus bergerak bersama-sama, termasuk dengan Satgas Pangan dan seluruh pihak terkait agar harga di tingkat masyarakat tetap terjangkau,” tegasnya.
Sementara itu, komoditas cabai masih mengalami fluktuasi harga di beberapa wilayah, namun belum menjadi faktor utama yang mendorong inflasi daerah.”Cabai masih ada kenaikan di beberapa tempat, tetapi secara umum bukan komoditas teratas penyumbang inflasi saat ini,” katanya.
Ia menambahkan, GPM akan terus dilaksanakan secara rutin setiap bulan, tidak hanya menjelang hari-hari besar keagamaan.”Setiap bulan kita agendakan Gerakan Pangan Murah. Jadi bukan hanya saat menjelang hari raya. Lokasi pelaksanaannya akan menyesuaikan dengan daerah yang terindikasi mengalami kenaikan harga kebutuhan pokok,” katanya.
Pihaknya pun terus berupaya mengendalikan dan menekan inflasi ini. Dari sisi ketersediaan bapok di NTB, relatif masih aman. Tetapi distribusi juga berpengaruh, selain penyediaan bahan baku. Selain itu pihaknya memperkuat tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) baik di provinsi maupun kabupaten kota. TPID ini sangat membantu dalam stabilisasi harga.
“Tidak bisa hanya kami Dinas Pertanian dan ketahanan pangan sendiri, ini perlu kolaborasi dengan semua instansi, kabupaten kota, termasuk Satgas Pangan Polda ikut memantau sebagai bagian pengendalian Inflasi di lapangan,’’ ujarnya..
Selain pelaksanaan GPM, pemerintah juga menyalurkan bantuan pangan berupa beras melalui Perum Bulog. Di Desa Taman Ayu, bantuan tersebut diberikan kepada 1.343 penerima manfaat yang telah terdata.
“Kami juga menyalurkan bantuan pangan beras melalui Bulog. Di Desa Taman Ayu hari ini sebanyak 1.343 orang menerima bantuan tersebut. Semua program ini ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat,” ucapnya. (her)


