Mataram (Suara NTB) – Menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah yang sudah menembus level Rp18.000 per dolar AS pada awal Juni 2026 ini ternyata belum memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas penukaran valuta asing (valas) di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Pantauan di kantor PT Tri Putra Darma Valuta di Jalan Langko, Mataram, Jumat, 5 Juni 2026, menunjukkan aktivitas penukaran mata uang asing berlangsung normal bahkan cenderung sepi. Tidak terlihat antrean maupun lonjakan masyarakat yang memanfaatkan tingginya kurs dolar AS untuk menukarkan simpanan mereka ke rupiah.
Kondisi ini kontras dengan tempat penukaran valas di Jakarta yang justru tengah mengalami peningkatan transaksi karena banyak pemilik dolar memilih merealisasikan keuntungan saat nilai tukar mata uang Negeri Paman Sam berada di level tinggi.
Pemilik PT Tri Putra Darma Valuta yang juga Ketua Asosiasi Pedagang Valuta Asing (APVA) Provinsi NTB, Darda Subarda, mengatakan fenomena tersebut belum terlihat di NTB. Menurutnya, pasar valas di daerah ini memiliki karakteristik yang berbeda karena lebih banyak bergantung pada sektor pariwisata dibanding aktivitas bisnis dan proyek-proyek besar.
“Kalau di tempat kami malah sepi. Mungkin kalau di perkotaan besar berbeda. Kalau kita di Mataram dan destinasi wisata justru kecenderungannya menurun karena kami dominan mengandalkan wisatawan. Sementara wisatawan juga sedang sepi,” terangnya.
Darda menjelaskan, secara teori penguatan dolar AS seharusnya mendorong masyarakat yang memiliki simpanan dolar untuk menukarkannya ke rupiah karena nilai tukarnya sedang tinggi. Namun kondisi tersebut tidak terjadi di NTB.
Ia menilai salah satu penyebabnya adalah minimnya aktivitas spekulasi valuta asing oleh masyarakat lokal di NTB. Jika pada masa lalu, banyak masyarakat yang membeli dolar saat murah lalu menjualnya kembali ketika kurs naik, pola tersebut kini hampir tidak terlihat lagi.
“Dulu sekitar tahun 2011 banyak penukaran lokal. Ketika ada pergerakan nilai tukar, orang beli dolar, tunggu naik lalu dijual lagi. Sekarang sudah sangat berkurang. Mungkin karena kondisi ekonomi yang sedang sulit sekarang ini,” tambahnya.
Menurut Darda, tingginya transaksi penukaran dolar ke rupiah yang terjadi di Jakarta bisa jadi dipengaruhi oleh perputaran ekonomi yang lebih besar. Aktivitas proyek pemerintah, investasi, dan kegiatan usaha berskala nasional yang banyak terpusat di wilayah tersebut membuat kebutuhan likuiditas rupiah lebih tinggi dibanding daerah.
“Kalau di Jawa mungkin banyak yang menukar dolar ke rupiah karena proyek-proyek pemerintah dan aktivitas ekonomi lebih terpusat di sana. Pergerakan ekonominya memang lebih dominan di pusat,” ujarnya.
Di sisi lain, lesunya kunjungan wisatawan turut memukul bisnis penukaran valas di NTB. Darda mengungkapkan volume transaksi yang terjadi saat ini jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Kalau dibandingkan tahun lalu pada bulan yang sama, penurunannya bisa mencapai 20 persen. Ini memang kelihatannya sedang berat,” katanya.
Ia menambahkan, sebagian besar wisatawan yang datang saat ini hanya melakukan penukaran dalam jumlah kecil. Transaksi yang terjadi umumnya berkisar puluhan dolar AS atau euro, sehingga tidak memberikan dampak berarti terhadap perputaran usaha penukaran valuta asing.
“Sekarang yang menukar kadang hanya 20 dolar atau 20 euro. Jumlah orang yang datang mungkin relatif sama karena aktivitas pariwisata masih ada, tetapi nilai yang ditukar kecil-kecil,” ujarnya.
Kondisi serupa, lanjut Darda, juga dirasakan oleh anggota APVA lainnya di berbagai daerah wisata di NTB. Sejumlah pelaku usaha penukaran valas di kawasan wisata seperti Kuta Mandalika maupun Gili Trawangan dilaporkan mengalami stagnasi transaksi.
“Anggota-anggota yang lain juga merasakan hal yang sama. Kalau di Kuta dan Gili mungkin cenderung stagnan. Kalau dulu, banyak yang wait and see, sekarang situasi ekonomi memang tidak banyak bergerak,” imbuhnya.
Pelaku usaha berharap pergerakan sektor pariwisata kembali meningkat pada musim liburan pertengahan tahun agar dapat mendorong aktivitas penukaran valuta asing yang selama beberapa bulan terakhir mengalami perlambatan. Dengan meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara, kebutuhan penukaran mata uang asing di NTB diharapkan kembali bergairah meski kondisi nilai tukar global masih berfluktuasi. (bul)
Gunakan tombol panah atas dan panah bawah untuk mengatur ukuran panel kotak meta.PosBlok
Paragraf
Mulai dengan komponen dasar dari semua cerita.
Warna
Teks
Latar belakang
Tipografi
Ukuran font
Tingkat Lanjut
Lewati ke blok terpilihBuka panel publikasi


