BerandaEKONOMIHarga ‘’Spare Part’’ Motor Naik, Oli dan Ban Paling Tinggi

Harga ‘’Spare Part’’ Motor Naik, Oli dan Ban Paling Tinggi

Mataram (Suara NTB) – Harga suku cadang (spare part) kendaraan, khususnya sepeda motor mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir.

Kenaikan harga ini tidak lepas dari dampak perang di Timur Tengah, dan makin lemahnya nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS.

Tidak hanya harga yang terus merangkak naik, pasokan sejumlah komponen juga dilaporkan berkurang sehingga berpotensi memicu kenaikan harga lanjutan dalam waktu dekat.

Salah seorang pemilik bengkel resmi di Mataram mengungkapkan, kenaikan harga spare part terjadi secara bertahap dan bahkan tercatat sudah tiga kali mengalami penyesuaian harga dalam kurun waktu satu bulan terakhir.

“Sudah sekitar sebulan ini naik. Bahkan dalam satu bulan bisa sampai tiga kali naik harga. Yang paling terasa itu oli dan ban. Komponen lain juga ikut naik,” ujarnya kepada Suara NTB, Selasa, 9 Juni 2026.

Menurutnya, kenaikan harga terjadi hampir setiap pekan dengan besaran sekitar Rp15 ribu hingga Rp20 ribu untuk sejumlah produk. Oli mesin yang sebelumnya dijual sekitar Rp60 ribu kini telah mencapai Rp80 ribu per botol.

Sementara paket oli mesin dan oli gardan yang sebelumnya dijual sekitar Rp80 ribu kini sudah menyentuh Rp100 ribu.

Selain kenaikan harga, pelaku usaha bengkel juga menghadapi persoalan keterbatasan pasokan barang dari distributor. Jumlah pengiriman yang diterima jauh lebih sedikit dibandingkan kondisi normal.

“Barangnya ada, tetapi dikirim sedikit. Biasanya saya menerima sekitar 50 dus, sekarang hanya dikirim 20 dus. Jadi stok di lapangan semakin terbatas,” katanya.

Ia menilai kondisi, ini berpotensi kembali mendorong kenaikan harga apabila pasokan tidak segera membaik. Apalagi permintaan servis dan penggantian komponen kendaraan tetap berjalan normal.

Sebagai bengkel resmi yang berada di bawah jaringan main dealer, pihaknya mengaku tidak bisa menaikkan harga secara bebas karena margin keuntungan telah ditentukan oleh perusahaan. Kondisi berbeda justru bisa terjadi di bengkel umum yang tidak terikat dengan ketentuan harga dari distributor resmi.

“Kalau kami bengkel resmi ada ketentuan harga dan keuntungan dari perusahaan. Tidak boleh melebihi itu. Tetapi kalau bengkel yang tidak terikat dengan main dealer, kemungkinan harga jualnya bisa lebih tinggi,” ujarnya.

Diketahui, eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah dinilai berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap industri otomotif nasional. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang memicu blokade Selat Hormuz sejak akhir Februari 2026 menjadi salah satu faktor utama yang memicu situasi seperti saat ini. Gangguan pada jalur logistik energi global dapat menimbulkan efek berantai pada berbagai sektor industri, termasuk otomotif di Indonesia.

Pelaku usaha berharap distribusi barang dari distributor dan pabrikan dapat kembali normal sehingga lonjakan harga tidak semakin membebani pengguna kendaraan bermotor. (bul)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO