Kota Bima (Suara NTB) – Bemo kuning dan bemo hijau yang pernah menjadi transportasi andalan warga Kota Bima kini nyaris tak terlihat di jalanan. Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bima menyebut perubahan pola mobilitas masyarakat yang beralih ke kendaraan pribadi menjadi penyebab utama meredupnya angkutan kota tersebut.
Aktivitas bemo kuning dan bemo hijau masih cukup ramai hingga sekitar 2017. Namun, seiring meningkatnya kepemilikan kendaraan pribadi, terutama sepeda motor, jumlah angkutan kota terus berkurang. Memasuki 2026, keberadaannya hampir tak lagi terasa.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Bima, Drs. Is Fahmin, M.A.P., mengatakan perkembangan sektor transportasi telah mengubah kebiasaan masyarakat dalam memilih moda perjalanan.
“Seiring dengan perkembangan zaman, kemajuan yang begitu luar biasa, sehingga berimbas juga ke transportasi. Dengan munculnya banyaknya motor dan hampir semua menggunakan kendaraan bermotor, masyarakat sekarang ini tidak lagi menggunakan angkutan umum,” ujarnya, Senin (10/6).
Menurut Fahmi, perubahan tersebut berdampak langsung terhadap usaha angkutan kota. Banyak pengusaha memilih menghentikan operasional karena pendapatan tidak lagi menutupi biaya operasional.
“Kami sudah bertanya juga, ‘Kenapa tidak jalan?’ Mereka bilang, ‘Aduh rugi, Pak.’ Minat masyarakatnya yang sudah turun,” katanya.
Ia mengakui masih ada beberapa armada yang bertahan, tetapi jumlahnya sangat terbatas.
“Identitas terhadap suatu kota itu hilang. Angkot masih ada, tapi sekarang ini hanya tinggal satu, dua, tiga unit saja yang aktif,” ujarnya.
Fahmi menilai kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Kota Bima. Sejumlah daerah di Indonesia juga mengalami penurunan aktivitas angkutan kota akibat perubahan kebutuhan dan pilihan transportasi masyarakat.
Dampak lain yang turut dirasakan adalah menurunnya aktivitas di terminal. Terminal Tipe C Kumbe dan Jati Baru kini jauh lebih lengang dibanding beberapa tahun lalu.
“Terminal kita ada, petugas kita ada, tidak ada masalah dengan itu. Semua kelengkapan sudah siap melayani. Permasalahannya kembali lagi, penumpangnya yang tidak ada,” katanya.
Ia menjelaskan, angkutan umum yang melayani rute Kumbe-Sape maupun Jati Baru-Wera kini beroperasi dalam jumlah terbatas. Dalam sehari, armada yang beroperasi hanya beberapa unit karena minim penumpang.
Meski demikian, Dishub Kota Bima tetap membuka peluang bagi pengusaha yang ingin menghidupkan kembali angkutan umum dengan menyediakan trayek dan pelayanan perizinan.
Menurut Fahmi, pengembangan transportasi umum tetap harus mempertimbangkan kebutuhan masyarakat dan kelayakan usaha. “Yang bisa kami lakukan adalah tetap menjaga sistemnya. Trayek tetap kami siapkan. Kalau ada pengusaha yang ingin menghidupkan kembali angkutan umum, kami sangat terbuka. Silakan mengurus izin trayek, kami siap melayani,” terangnya.
Di sisi lain, ia mengingatkan meningkatnya penggunaan kendaraan pribadi dapat menjadi tantangan baru bagi Kota Bima. Kepadatan lalu lintas mulai terlihat di sejumlah ruas jalan.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Dishub Kota Bima terus melakukan penataan lalu lintas, mulai dari pengaturan parkir hingga penerapan jalur satu arah di sejumlah ruas jalan guna menjaga kelancaran arus kendaraan di dalam kota. (hir)


