Praya (Suara NTB) – Puluhan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dari sejumlah sekolah di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) mendatangi Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Loteng. Aksi ini dilakukan untuk menuntut pembayaran Tunjangan Profesi Guru (TPG) yang sejak bulan Januari 2026 belum dibayar. Tidak hanya itu para guru PAI juga menuntut transparansi pengelolaan TPG yang terkesan tertutup.
Aksi dimulai sekitar pukul 10.00 Wita. Para guru PAI perwakilan dari sejumlah kecamatan tersebut meminta bertemu langsung dengan Kepala Kemenag Loteng. Mereka ingin mendengarkan secara langsung penjelasan terkait belum dibayarkannya TPG di tahun ini. Mengingat banyak guru PAI lain yang TPG-nya sudah dibayarkan.
“Kami datang bukan untuk mengemis. Tapi untuk menuntut apa yang menjadi hak kami. Jadi segera bayar hak kami,” teriak Sugianto, perwakilan guru PAI.
Ia mengungkapkan, mereka seharusnya sudah menerima TPG atau sertifikasi tenaga pendidik (Serdik) terhitung mulai bulan Januari 2026. Tapi pada kenyataannya sampai saat ini tunjangan yang menjadi hak bagi guru PAI yang sudah bersertifikasi tersebut belum juga dibayar. “Ada apa dengan Kemenag Loteng?,” tanyanya.
Sugiarto mengaku awalnya ada ratusan guru PAI yang mau turun aksi. Tetapi karena diduga ada upaya intimidasi dari oknum pengawas dan pejabat di Kemenag Loteng, banyak para guru PAI yang kemudian memutuskan tidak ikut aksi. Karena khawatir dengan ancaman sanksi jika tetap memaksa untuk turun aksi. Padahal yang dituntut adalah haknya sebagai seorang guru.
Jalannya aksi sempat berlangsung panas saat para guru PAI memaksa untuk masuk ke kantor Kemenag Loteng. Namun tidak diizinkan oleh pihak Kemenag Loteng. Emosi para guru PAI kian memuncak saat diberitahu kalau Kepala Kemenag Loteng yang mereka cari sedang tidak ada di kantornya. Alasannya, karena masih menjalankan ibadah haji di Mekkah. Ditambah lagi aksi salah satu pegawai Kemenag Loteng yang diduga mencoba memprovokasi massa aksi dengan melontarkan kata-kata dengan nada tinggi, membuat aksi sempat ricuh.
Namun situasi berhasil dikendalikan apparat kepolisian bersama Sat Pol PP Loteng yang turun mengamankan aksi. Merasa tuntutannya tidak bisa dipenuhi lantaran Kepala Kemenag Loteng tidak bisa ditemui, para guru PAI akhirnya memutuskan untuk membubarkan diri. Kendati Pelaksana Harian (Plh) Kasi. PAI Kemenag Loteng H.M. Arbain sempat menemui para guru PAI di depan kantor Kemenag Loteng.
Saat dikonfirmasi awak media usai aksi demontrasi, Plh. Kasi. PAI Kemenag Loteng H.M. Arbain, membenarkan kalau TPG bagi para guru PAI tersebut belum dibayar. Namun itu bukan karena Kemenag Loteng tidak mau membayar, tapi anggarannya belum turun dari pemerintah pusat.
“Bukan kami tidak mau membayar, tapi memang anggarannya masih kurang. Karena belum turun dari pemerintah pusat,” jelasnya.
Arbain menjelaskan, guru PAI yang TPG-nya belum cair tersebut rata-rata guru dengan status tenaga Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).Kalau guru dengan status PNS, hampir semuanya sudah dibayarkan TPG-nya. “Kenapa bisa anggaran belum turun? karena memang pembayaran TPG-nya baru diusulkan tahun ini,” imbuhnya.
Biasanya, usulan pembayaran TPG itu diajukan setahun lebih awal. Jadi untuk pembayaran TPG tahun 2026, diusulkan melalui perencanaan di tahun 2025. Adapun guru PAI PPPK tersebut rata-rata baru diangkat awal tahun 2026, sehingga karena ada perubahan status itulah pembayaran TPG tidak bisa diusulkan di tahun 2025 dan, baru bisa diusulkan setelah ada perubahan status menjadi tenaga PPPK.
“Jadi sekali lagi tidak ada maksud atau niat kami untuk menunda pembayaran tunjangan bagi guru-guru PAI tersebut. Itu terjadi karena memang anggaran dari pemerintah pusat belum turun. Kalau anggaranya sudah turun, hari ini juga akan kita bayar,” tandasnya seraya menambahkan terkait dugaan intimidasi, ia mengaku pihaknya meminta para guru PAI untuk tidak melakukan demo. Mengingat, saat ini Loteng sedang menjadi tuan rumah MTQ.
Disinggung total anggaran TPG yang belum dibayar, Arbain mengaku tidak mengetahui secara persis jumlahnya, karena setiap guru besaran TPG-nya bisa berbeda-beda. Tapi kalau dirata-ratakan sekitar Rp. 2 juta per guru. Dengan jumlah guru PAI yang TPG-nya belum dibayar sekitar 250 orang. “Yang mengetahui persis jumlah anggarannya bagian perencanaan,” kilahnya. (kir)


