BerandaHEADLINEPemprov NTB Sebut Kenaikan Harga Pertamax Picu Inflasi Daerah

Pemprov NTB Sebut Kenaikan Harga Pertamax Picu Inflasi Daerah

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB mengakui kebijakan pemerintah pusat menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax yang semula Rp12.250 menjadi Rp16.250 bisa menekan ekonomi daerah. Kenaikan hingga Rp4 ribu itu bisa menyebabkan kenaikan inflasi, yang berdampak pada kenaikan harga bahan-bahan pokok kebutuhan sehari-hari.


Hal ini bukan tanpa alasan, melainkan karena Pertamax sebagai salah satu BBM dengan pengguna yang cukup tinggi. Naiknya harga BBM tentu berpengaruh dengan mobilitas barang, sehingga kenaikan ini tidak hanya akan dirasakan oleh pengendara, tetapi juga pelaku usaha dengan mobilitas barang tinggi.


Asisten II Setda NTB, H. Lalu Mohammad Faozal membenarkan kenaikan harga Pertamax dapat meningkatkan inflasi daerah. Meski begitu, hingga kini pihaknya belum menemukan solusi penyelesaian karena kenaikan harga ini serentak di seluruh Indonesia.


“Ya tentu berdampak ke peningkatan inflasi, namanya juga naik kan,” ujarnya saat dikonfirmasi usai mengikuti acara Sosialisasi dan edukasi SPKLU di NTB di Gedung Sangkareang Kantor Gubernur NTB, Jumat, 12 Juni 2026.


Dengan kenaikan ini, satu-satunya langkah yang bisa dilakukan masyarakat adalah dengan beralih ke kendaraan listrik. Namun, hal itu juga belum bisa disebut solusi mengingat pengguna kendaraan listrik belum begitu banyak di NTB.


“Ya di semua pemerintah memang dari awal kan emang didorong ke situ (menggunakan kendaraan listrik, red). Makanya ada diskon kan,” kata mantan Penjabat Sekda NTB ini.
Sebelumnya, berdasarkan data Badan Pusat Statistika (BPS) inflasi di NTB per bulan Mei 2026 mencapai 3,78 persen. Angka ini lebih tinggi dibanding rata-rata nasional yang berada di kisaran 3,08 persen.


Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTB, Lalu Mirza Amir Hamzah mengatakan dua komoditi penyumbang inflasi di seluruh kabupaten/kota di NTB yaitu bahan bakar rumah tangga dan minyak goreng.


Sementara itu, di tingkat masyarakat, sejumlah komoditas mengalami kenaikan harga sejak rendahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat.


Pedagang di Pasar Kebon Roek, Nurmansyah mengatakan salah satu komoditas yang mengalami lonjakan adalah bawang putih hingga Rp40 ribu per kilogram. Selain karena faktor Dolar yang berimbas pada pasokan kiriman dari luar, pasokan barang secara keseluruhan di tingkat pedagang memang sedang berkurang.


“Kalau bawang putih memang kiriman dari luar dan stoknya sekarang agak sedikit. Kami pedagang kecil di sini biasanya hanya mengambil eceran sekitar 5 sampai 10 kilogram saja per hari untuk dijual kembali,” jelasnya.

Nurmansyah juga menambahkan, selain bawang putih, lonjakan harga yang paling mengagetkan justru terjadi pada komoditas tomat dan bawang merah. Harga tomat meroket dari Rp 15 ribu menjadi Rp 20 ribu per kilogram. Sementara bawang merah menyentuh harga Rp 60 ribu per kilogram untuk kualitas tertentu di lapaknya.


“Kalau tomat sekarang naik jadi Rp 20 ribu. Padahal kalau lagi musim dan murah, harganya bisa jatuh sampai Rp 4 ribu atau Rp 5 ribu saja per kilo,” pungkasnya. (era)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO