BerandaBUDAYA DAN HIBURANMenjadikan Serambi Al-Qur'an sebagai Haluan Peradaban dan Kebudayaan NTB

Menjadikan Serambi Al-Qur’an sebagai Haluan Peradaban dan Kebudayaan NTB


Oleh : Kepala Dinas Kebudayaan NTB Muhammad Ihwan
Jika berbicara tentang gagasan NTB sebagai Serambi Al-Qur’an, sesungguhnya kita tidak sedang membangun identitas baru. Kita hanya sedang menemukan kembali jati diri yang sudah lama hidup dalam sejarah masyarakat NTB.


Sebelum istilah Serambi Al-Qur’an digaungkan oleh Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal saat pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), 9 Juni 2026, masyarakat Sasak, Samawa, dan Mbojo telah hidup berdampingan dengan nilai-nilai Al-Qur’an selama berabad-abad.


Islam datang ke NTB bukan melalui pedang, tetapi melalui dakwah, pendidikan, perdagangan, dan kebudayaan. Dari kampung-kampung adat di Bayan, masjid-masjid kuno di Lombok, Kesultanan Bima, Kesultanan Dompu, hingga Kesultanan Sumbawa, Al-Qur’an menjadi sumber nilai yang membentuk cara berpikir masyarakat, tata pemerintahan, hukum adat, hingga seni dan tradisi.
Di Lombok lahir generasi tuan guru yang menjadikan masjid sebagai pusat pendidikan masyarakat. Di Sumbawa berkembang falsafah Adat Barenti Ko Syara’, Syara’ Barenti Kitabullah. Di Bima tumbuh falsafah Maja Labo Dahu yang sesungguhnya merupakan pengejawantahan nilai-nilai Qurani tentang rasa malu, tanggung jawab moral, dan ketakwaan kepada Allah.


Karena itu, Serambi Al-Qur’an bukan sekadar program keagamaan. Ia adalah upaya mengonsolidasikan kembali fondasi peradaban NTB.


NTB dan Tradisi Al-Qur’an yang Tidak Pernah Putus
Banyak daerah memiliki tradisi Islam yang kuat. Namun tidak banyak daerah yang secara konsisten melahirkan qari dan qariah bertaraf dunia seperti NTB.


Dalam dua dekade terakhir, NTB menjadi salah satu lumbung tilawah Al-Qur’an Indonesia. Nama yang paling dikenal tentu adalah Syamsuri Firdaus. Qari muda asal Bima ini menjadi simbol keberhasilan pembinaan Al-Qur’an di NTB setelah menjuarai berbagai MTQ internasional, termasuk di Turki dan Kuwait.


Pada MTQ Internasional di Istanbul, Turki, ia meraih juara pertama dan menerima penghargaan langsung dari Presiden Turki. Prestasi tersebut kemudian disusul kemenangan pada MTQ Internasional Kuwait yang semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu qari terbaik dunia.
Bahkan hingga tahun 2026, Syamsuri masih terus menorehkan prestasi di berbagai ajang internasional dan menjadi ikon tilawah Indonesia di dunia Islam.


Namun keberhasilan NTB tidak berhenti pada Syamsuri. Awal tahun 2026, Indonesia kembali dibuat bangga oleh seorang qari cilik asal Kota Bima bernama Muhammad Zian Fahrezi. Pada usia yang sangat muda, ia berhasil meraih Juara I MTQ Internasional Al-Ameed di Karbala, Irak. Prestasi tersebut mendapat perhatian nasional hingga memperoleh apresiasi langsung dari Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto berupa dukungan pendidikan sampai perguruan tinggi.

Di tahun yang sama, qari muda NTB lainnya, Imranul Karim, juga berhasil meraih juara pertama MTQ Internasional di Rusia. Prestasi ini memperlihatkan bahwa keberhasilan NTB bukanlah kebetulan yang lahir dari satu generasi, tetapi hasil dari tradisi pembinaan Al-Qur’an yang panjang dan berkelanjutan.


Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa NTB sesungguhnya telah memiliki modal sosial dan modal budaya yang sangat kuat untuk menjadi Serambi Al-Qur’an Indonesia.


Serambi Al-Qur’an Bukan Sekadar Banyaknya Hafiz dan Qari. Namun kita juga harus jujur. Serambi Al-Qur’an tidak boleh hanya diukur dari jumlah MTQ, jumlah hafiz, atau banyaknya piala yang diraih.
Sebab Al-Qur’an diturunkan bukan untuk diperlombakan semata. Al-Qur’an diturunkan untuk membentuk manusia.


Di sinilah tantangan besar NTB ke depan. Bagaimana menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Bagaimana nilai kejujuran menjadi budaya birokrasi. Bagaimana nilai amanah menjadi budaya kepemimpinan. Bagaimana nilai membaca menjadi budaya masyarakat. Bagaimana nilai kebersihan menjadi budaya lingkungan. Bagaimana nilai musyawarah menjadi budaya politik. Bagaimana nilai kasih sayang menjadi budaya keluarga.


Jika ini berhasil dilakukan, maka Serambi Al-Qur’an tidak lagi menjadi slogan, tetapi menjadi karakter masyarakat NTB.


Kebudayaan NTB Harus Bertumpu pada Nilai-Nilai Qurani. Dalam penyusunan Haluan Kebudayaan NTB 2026–2045, gagasan Serambi Al-Qur’an seharusnya ditempatkan sebagai salah satu fondasi utama pembangunan kebudayaan. Bukan untuk menghilangkan budaya lokal. Tetapi justru untuk memperkuatnya.


Karena kebudayaan NTB yang tumbuh selama ratusan tahun pada hakikatnya lahir dari perjumpaan antara adat dan Islam.


Tarian boleh berkembang. Musik boleh berinovasi. Festival boleh bertambah. Teknologi boleh berubah. Tetapi nilai dasarnya harus tetap sama: akhlak, adab, ilmu, dan kemanusiaan.
Karena itu, pengembangan 12 Objek Pemajuan Kebudayaan NTB harus diarahkan untuk memperkuat nilai-nilai Qurani tersebut.


Tradisi lisan menjadi media pendidikan karakter. Manuskrip kuno menjadi sumber literasi Islam Nusantara. Adat istiadat menjadi sarana membangun harmoni sosial. Bahasa daerah menjadi media penyebaran nilai-nilai kebajikan. Permainan rakyat menjadi sarana pembentukan karakter generasi muda.


Seni menjadi instrumen dakwah kebudayaan. Cagar budaya menjadi ruang pembelajaran sejarah peradaban Islam NTB. Implementasi Serambi Al-Qur’an dalam Kebijakan Kebudayaan NTB
Jika gagasan Serambi Al-Qur’an ingin diwujudkan secara nyata, maka perlu diterjemahkan menjadi program kebudayaan yang konkret.


Pertama, pendirian Museum Tuan Guru, Ulama, dan Perkembangan Islam NTB sebagai pusat narasi sejarah Islam di NTB.

Kedua, digitalisasi manuskrip Islam NTB yang tersimpan di pesantren, keluarga bangsawan, dan masyarakat adat.


Ketiga, pengembangan Jalur Peradaban Islam NTB yang menghubungkan Bayan, Pejanggik, Ampenan, Bima, Dompu, dan Sumbawa sebagai destinasi wisata sejarah dan religi. Keempat, integrasi nilai-nilai Al-Qur’an dalam muatan lokal budaya NTB di sekolah. Kelima, pembentukan Duta Budaya Qurani Desa Berdaya yang menggabungkan literasi budaya dan literasi Al-Qur’an.
Keenam, Festival Serambi Al-Qur’an NTB yang menggabungkan seni, budaya, manuskrip, kaligrafi, ekonomi kreatif, dan tradisi Islam lokal.


Ketujuh, pembangunan Pusat Kajian Peradaban Islam NTB yang melibatkan perguruan tinggi, pesantren, budayawan, dan pemerintah daerah.

Menatap NTB 2045
Ketika Gubernur NTB menggaungkan Serambi Al-Qur’an, sesungguhnya beliau sedang menawarkan arah pembangunan yang lebih besar daripada sekadar program keagamaan. Beliau sedang menawarkan arah peradaban. Peradaban yang menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber nilai.
Peradaban yang memuliakan ilmu pengetahuan. Peradaban yang menghormati adat dan budaya. Peradaban yang menjaga lingkungan. Peradaban yang membangun kesejahteraan.


Peradaban yang melahirkan generasi seperti Syamsuri Firdaus, Muhammad Zian Fahrezi, Imranul Karim, dan ribuan anak NTB lainnya yang tidak hanya pandai membaca Al-Qur’an, tetapi juga mampu menerjemahkan Al-Qur’an dalam kehidupan. Karena pada akhirnya, Serambi Al-Qur’an bukanlah tentang banyaknya ayat yang dibaca.


Melainkan tentang seberapa jauh nilai-nilai Al-Qur’an hidup dalam kebudayaan masyarakat. Dan jika itu berhasil diwujudkan, maka Serambi Al-Qur’an tidak hanya menjadi identitas NTB. Ia akan menjadi jalan NTB menuju peradaban yang makmur, berbudaya, dan mendunia.

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN






VIDEO