BUNDA PAUD sekaligus Bunda Literasi Provinsi NTB, Hj. Sinta M. Iqbal, menegaskan pentingnya pembentukan karakter anak sejak usia dini, serta mendorong peningkatan kapasitas para tenaga pendidik. Hal itu disampaikan saat membuka Forum Diskusi Terpumpun Penguatan Ekosistem Pendidikan Melalui Kolaborasi Peningkatan Kompetensi Literasi Guru PAUD, di Prime Park Hotel, Mataram, Sabtu (13/6).
Kegiatan strategis yang diinisiasi melalui kolaborasi antara Bunda PAUD, Kelompok Kerja (Pokja) Bunda Literasi, dan program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) Provinsi NTB ini bertujuan untuk merumuskan program-program pendidikan yang sederhana, aplikatif, dan berkelanjutan dalam memajukan kecakapan literasi generasi emas di daerah.
Bunda Sinta mengapresiasi para guru dan relawan PAUD, atas dedikasi tanpa pamrih yang mereka berikan. Menurutnya, investasi pendidikan di tingkat usia dini sangat berharga karena akan memberikan dampak dan kemajuan jangka panjang bagi daerah hingga dua dekade mendatang.
“Apresiasi saya terhadap para pendidik, para guru-guru PAUD dan juga para relawan PAUD serta literasi karena apa yang akan kita lakukan hari ini hasilnya akan kita dapatkan sampai 10 hingga 20 tahun ke depan. Semoga kita diberikan kesehatan sehingga kita bisa melihat anak-anak yang hari ini kita bina bisa menjadi orang-orang yang lebih baik lagi ke depannya, jauh lebih baik daripada generasi sekarang,” ujarnya.
Diakuinya jenjang PAUD merupakan fondasi krusial atau titik kunci tempat karakter anak mulai dibentuk, dan rasa cinta terhadap sekolah ditanamkan. Oleh karena itu, setiap tenaga pendidik dituntut untuk mengedepankan pendekatan pengajaran yang berbasis hati dan kelembutan, untuk mencegah munculnya pengalaman buruk bagi anak.
“Kalau di PAUD ini mereka mengalami hal yang tidak baik, biasanya ke depannya mereka punya trauma tersendiri terhadap sekolah. Ibu, Bapak, coba dekati anak-anak itu dengan kelembutan. Jadi menurut saya posisi PAUD ini adalah posisi yang sangat krusial, dan kita membutuhkan para pendidik yang bekerja dengan hati,” terangnya.
Ia juga menyoroti keragaman karakteristik lingkungan anak di berbagai daerah, sehingga pendekatan pengajaran mutlak tidak bisa disamaratakan. Guna menjawab tantangan tersebut, peningkatan kapasitas pendidik menjadi sangat krusial, mengingat masih banyak guru PAUD di pelosok yang selama ini mengajar secara otodidak tanpa berbekal latar belakang akademis pendidikan anak usia dini.
“Pendekatan setiap PAUD itu tidak bisa pendekatan yang sama, PAUD di Lombok Barat tidak bisa disamakan dengan PAUD yang ada di Sape karena karakternya berbeda. Banyak guru-guru PAUD kita yang tidak memiliki latar belakang pendidikan berkaitan dengan anak usia dini, sehingga mereka berharap bisa mendapatkan peningkatan kapasitas. Kewajiban kita yang berada di provinsi ini adalah mendampingi, mendengarkan, serta membantu mencarikan solusinya,” papar Bunda Sinta. (ham)

