BerandaPENDIDIKANKualitas Semua Sekolah Setara

Kualitas Semua Sekolah Setara


Mataram (Suara NTB) – Kantor Cabang Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (KCD Disdikpora) Wilayah I menegaskan bahwa kualitas seluruh SMA, SMK, dan SLB di Nusa Tenggara Barat (NTB) saat ini sudah setara. Penegasan ini disampaikan untuk merespons ketimpangan jumlah siswa pada Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) yang dipicu oleh stigma masyarakat terkait adanya sekolah favorit dan sekolah pinggiran.

Kepala KCD Disdikpora Wilayah I, Purni Susanto mengungkapkan bahwa kendala utama SPMB selama ini, sebenarnya bukan terletak pada masalah teknis, melainkan pada mentalitas masyarakat yang masih terpaku pada labelisasi tersebut. Akibatnya, tidak sedikit orang tua yang menghalalkan segala cara, agar anak mereka bisa menembus sekolah yang diincar.


Menurut Purni, pelabelan keliru ini menciptakan jurang pemisah yang lebar, sehingga sekolah-sekolah yang dicap tidak favorit atau pinggiran mengalami kekurangan murid yang drastis. Padahal, kualitas tenaga pendidik, fasilitas pendukung, hingga metode pembelajaran di seluruh sekolah kini sudah merata dan memiliki standar yang sama baiknya.


“Menurut saya, yang paling penting itu adalah bahwa masyarakat, anak-anak kita, orang tua siswa mestinya menyadari, legowo ketika jalur-jalur resmi yang dibuka oleh Dinas Pendidikan itu dia tidak diterima. Sekolah yang yang masih ada kuotanya itu kualitasnya bagus, guru-gurunya bagus, sarananya bagus,” ujarnya pekan kemarin.

Purni menuturkan bahwa sekolah bukanlah faktor penentu utama prestasi seorang anak, melainkan kerja keras dan usaha dari siswa itu sendiri. Bersekolah di tempat yang punya nama besar sekalipun tidak akan menjamin prestasi jika siswa tersebut tidak rajin belajar.

Ia mengatakan, beberapa sekolah yang sepi peminat dan kekurangan murid dipastikan akan segera mengambil tindakan. Salah satu langkah konkret yang disiapkan adalah mengarahkan para calon siswa yang tidak lolos di sekolah pilihan pertama ke sekolah-sekolah terdekat yang kuotanya belum terpenuhi.

“Dinas atau cabang dinas itu setiap tahun berupaya ada intervensi dilakukan. Jadi dengan mengarahkan mereka baik melalui sistem. Calon siswa yang tidak lulus melalui jalur terakhir jalur zonasi atau domisili ini kemudian mereka diarahkan ke sekolah-sekolah yang masih lowong,” pungkasnya. (sib)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN






VIDEO