BerandaNTBKOTA BIMA36 Kasus Kekerasan Terhadap Anak di Bima

36 Kasus Kekerasan Terhadap Anak di Bima

Bima (Suara NTB) – Kasus kekerasan terhadap anak di Kota Bima, masih menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Hingga pertengahan tahun 2026, tercatat sebanyak 36 kasus kekerasan terhadap anak yang telah dilaporkan dan ditangani oleh instansi terkait.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Bima, Syahruddin, mengatakan berbagai bentuk kekerasan terhadap anak masih ditemukan di tengah masyarakat. Kasus yang terjadi tidak hanya berupa kekerasan fisik, tetapi juga perundungan (bullying), kekerasan psikis, hingga persoalan pernikahan usia dini yang berdampak pada masa depan anak.

“Berbagai bentuk kekerasan terhadap anak, seperti perundungan (bullying), pernikahan usia dini, dan bentuk kekerasan lainnya, masih menjadi perhatian bersama yang membutuhkan penanganan lintas sektor,” ujarnya, Selasa (23/6).

Menurut Syahruddin, penanganan kasus kekerasan terhadap anak tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata. Diperlukan keterlibatan berbagai pihak untuk memperkuat upaya pencegahan sekaligus memastikan setiap kasus yang muncul dapat ditindaklanjuti secara cepat dan tepat.

Ia mengungkapkan, sepanjang tahun 2026 terdapat 36 kasus kekerasan terhadap anak yang telah dilaporkan. Seluruh kasus tersebut, ditangani melalui kolaborasi dengan lembaga dan pihak terkait sesuai kewenangan masing-masing.

“Sepanjang tahun 2026 tercatat sebanyak 36 kasus kekerasan terhadap anak yang dilaporkan dan telah ditindaklanjuti melalui kolaborasi berbagai pihak terkait,” katanya.

Syahruddin menilai, penguatan sinergi antarinstansi menjadi salah satu langkah penting dalam menekan angka kekerasan terhadap anak. Selain penanganan kasus, upaya pencegahan juga terus dilakukan melalui edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya perlindungan anak sejak lingkungan keluarga.

Menurut dia, perubahan pola pergaulan dan perkembangan teknologi juga menghadirkan tantangan baru dalam perlindungan anak. Karena itu, pengawasan dari orang tua, sekolah, dan lingkungan sekitar perlu terus diperkuat agar anak terhindar dari berbagai bentuk kekerasan maupun eksploitasi.

Ia berharap seluruh elemen masyarakat dapat berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi anak. Kesadaran untuk melaporkan setiap indikasi kekerasan juga dinilai penting,agar korban dapat segera memperoleh perlindungan dan pendampingan.

“Melalui sinergi yang kuat, kami berharap lahir berbagai gagasan dan langkah konkret yang dapat diimplementasikan di tengah masyarakat untuk mencegah kekerasan terhadap anak,” ujarnya.

Pihaknya terus mendorong penguatan sistem perlindungan anak melalui kerja sama lintas sektor. Langkah tersebut diharapkan mampu menekan angka kekerasan sekaligus mewujudkan lingkungan yang lebih aman dan ramah bagi anak di Kota Bima. (hir)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN






VIDEO