Oleh: Oryza Pneumatica Inderasari
(Mahasiswa Doktoral Ilmu Sosial FISIP Universitas Airlangga)
Pernahkah kita merenungkan pertanyaan: siapa yang sesungguhnya menjaga tenun tetap hidup hingga hari ini? Jawabannya tentu bukan hanya satu atau dua peran orang semata. Pertanyaan ini penting karena masa depan tenun pada akhirnya tidak ditentukan oleh kain yang dihasilkan, melainkan oleh manusia yang memproduksinya. Sebagus apa pun promosi budaya dilakukan, sekuat apa pun branding daerah dibangun, dan sebesar apa pun pasar yang tersedia, semuanya akan kehilangan makna apabila tidak ada lagi generasi yang menenun. Karena itu, membicarakan masa depan tenun berarti membicarakan masa depan para penenun.
Di berbagai sentra tenun di Nusa Tenggara Barat, perempuan masih menjadi aktor utama dalam menjaga keberlanjutan tradisi ini. Mereka tidak hanya menghasilkan kain, tetapi juga mewariskan pengetahuan budaya, menjaga motif dan teknik produksi tradisional, serta memastikan tradisi tersebut dapat diteruskan kepada generasi berikutnya. Di tangan merekalah pengetahuan tentang tenun terus hidup dan berkembang.
Keberlangsungan tenun merupakan hasil kerja kolektif yang melibatkan banyak pihak dan berlangsung lintas generasi. Selama ini, tenun lebih sering dipahami sebagai produk budaya yang memiliki nilai estetika sekaligus nilai ekonomi. Kehadirannya dalam berbagai festival, pameran, dan promosi pariwisata semakin memperkuat citra tersebut. Namun, ada sisi lain yang kerap luput dari perhatian, yaitu eksistensi tenun. Bukan hanya karena adanya pasar atau kebijakan promosi, melainkan karena keberadaan orang-orang yang tekun merawat pengetahuan, mewariskan keterampilan, dan menjaga tradisi yang menyertainya dari waktu ke waktu. Mereka adalah aktor-aktor budaya yang memastikan tenun tetap hadir, bermakna, dan relevan dalam kehidupan masyarakat hingga hari ini.
Penelitian yang dilakukan oleh penulis di Lombok Timur menjadi dasar penulisan artikel ini. Penelitian yang melibatkan 46 informan, terdiri dari penenun, pelaku usaha, komunitas budaya, media, birokrat, dan pelaku pariwisata, menunjukkan bahwa aktivitas menenun tidak dapat dipahami semata-mata sebagai aktivitas ekonomi. Menenun merupakan praktik sosial dan budaya yang melekat dalam kehidupan sehari-hari perempuan. Aktivitas ini berlangsung bersamaan dengan berbagai peran lain yang mereka jalankan sebagai ibu, istri, anggota komunitas, sekaligus penopang ekonomi keluarga.
Berbeda dengan industri manufaktur yang memisahkan ruang kerja dan ruang keluarga secara tegas, produksi tenun berlangsung di ruang domestik. Rumah menjadi tempat berbagai aktivitas berjalan bersamaan. Temuan ini menegaskan bahwa produksi tenun berlangsung dalam bentuk embedded cultural labour yaitu pekerjaan budaya yang melekat dalam pekerjaan domestik.
Realitas ini menunjukkan bahwa tenun bukan hanya persoalan produk budaya, tetapi juga persoalan kerja budaya yang menopang keberlanjutan tradisi. Sayangnya, dimensi ini sering kali tidak terlihat dalam berbagai narasi pembangunan. Yang lebih sering ditampilkan adalah kainnya, motifnya, festivalnya, atau kontribusinya terhadap perekonomian daerah. Sementara proses panjang yang memungkinkan semua itu terjadi justru kerap berada di belakang layar.
Belakangan, proses menenun mengambil tempat istimewa dalam berbagai program pembangunan daerah. Tenun hadir dalam promosi pariwisata, pameran pada ajang ekonomi kreatif, festival budaya, bahkan agenda pemerintah. Ini tentu merupakan pujian yang layak karena menunjukkan meningkatnya perhatian terhadap budaya lokal. Namun, pertanyaan mendasar kembali muncul: apakah popularitas menenun yang kian berkembang berjalan seiring dengan penguatan posisi para penenun?
Keberhasilan pembangunan budaya tidak bisa diukur secara sederhana melalui banyaknya eksposur publik atau meningkatnya jumlah acara promosi. Budaya pada kenyataannya hidup melalui para pelakunya. Dengan demikian, efektivitas pembangunan budaya juga harus diukur dari sejauh mana budaya tersebut memberikan manfaat, pengakuan, dan peluang untuk kemajuan bagi mereka yang bekerja di bidang ini.
Di berbagai daerah, para penenun masih menghadapi berbagai tantangan. Regenerasi menjadi salah satu persoalan utama. Tidak semua generasi muda tertarik melanjutkan tradisi menenun karena sektor lain dianggap menawarkan pendapatan yang lebih cepat dan peluang yang lebih menjanjikan. Dalam situasi seperti ini, keberlanjutan tenun tidak hanya bergantung pada kemampuan menjaga produk budaya, tetapi juga pada kemampuan menciptakan lingkungan sosial dan ekonomi yang membuat generasi muda dapat melihat bahwa menenun merupakan aktivitas yang bernilai dan memiliki masa depan.
Selain itu, persoalan serius yang juga harus menjadi fokus intervensi kebijakan adalah akses pasar, ketersediaan bahan baku, perlindungan pengetahuan lokal, serta posisi tawar ekonomi. Tidak sedikit penenun berada pada posisi yang relatif lemah dalam rantai nilai industri budaya. Mereka menghasilkan produk dengan nilai simbolik dan budaya yang tinggi, tetapi belum selalu menikmati manfaat ekonomi yang sebanding dengan nilai yang mereka ciptakan.
Temuan lainnya menunjukkan bahwa perempuan penenun dapat menjadi agen perubahan bersama komunitasnya. Mereka mengembangkan jaringan pemasaran, melakukan inovasi produk, serta terlibat dalam berbagai kegiatan promosi budaya. Hal ini menunjukkan kesiapan mereka beradaptasi sekaligus mempertahankan identitas budaya yang mereka miliki. Dengan demikian, penenun perempuan selayaknya tidak hanya diposisikan sebagai penerima manfaat pembangunan, sebab mereka dapat menunjukkan peran sebagai aktor yang aktif membentuk arah pengembangan tenun. Keberhasilan tenun yang bertahan hingga hari ini tidak mungkin dilepaskan dari proses mereka dalam menegosiasikan dinamika sosial, ekonomi, dan budaya.
Pengalaman dari industri tenun Sasak di Lombok Timur memberikan pelajaran penting bahwa masa depan industri tenun di Nusa Tenggara Barat ditentukan oleh kebijakan pemerintah, kekuatan pasar, serta keberhasilan promosi wisata. Namun, eksistensi budaya ditentukan oleh keberadaan komunitas yang terus memelihara dan mereproduksi pengetahuan budaya dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa komunitas dan para pelaku budaya, berbagai program pengembangan budaya akan kehilangan fondasi utamanya. Sebagai pelaku budaya, mereka berkontribusi dalam mempertahankan eksistensi budaya sehingga tetap relevan di tengah dinamika masyarakat. (*)
Kepakaran penulis: Sosiologi Industri dan Pemberdayaan Komunitas
Biodata: Oryza Pneumatica Inderasari adalah kandidat Doktor Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga. Fokus kajiannya meliputi sosiologi industri, industri kultural, gender, pemberdayaan komunitas, dan kajian poskolonial. Penelitiannya mengkaji bagaimana tenun Sasak berkembang sebagai industri berbasis budaya yang mempertemukan perempuan penenun, komunitas, pasar, dan kebijakan pemerintah.

