Balikpapan (suarantb.com) – Setiap hamparan lahan yang kini digarap Edi Purwanto menyimpan jejak perjuangan panjang yang dimulai dari mimpi sederhana: bertahan hidup melalui pertanian. Jauh sebelum memiliki usaha yang terus berkembang seperti sekarang, Edi adalah seorang petani yang menggarap lahan milik orang lain. Bermodalkan ketekunan, kesabaran, dan semangat pantang menyerah, ia perlahan membangun masa depan yang lebih baik.
Perjalanan itu dimulai pada tahun 1995. Di tengah keterbatasan modal dan berbagai tantangan yang dihadapi petani kecil, Edi memilih menekuni dunia pertanian sebagai sumber penghidupan. Selama bertahun-tahun ia mengolah lahan dengan penuh kesungguhan, sembari menyimpan harapan suatu hari nanti dapat mengembangkan usahanya sendiri.

Edy Purwanto sedang melakukan penyemprotan pada tanamannya.
Harapan tersebut mulai menemukan jalannya pada tahun 2006 ketika Edi memutuskan mengajukan pinjaman kepada BRI. Keputusan itu berawal dari hal yang sederhana: kantor BRI merupakan bank yang paling dekat dengan tempat tinggalnya, ditambah pelayanan yang menurutnya cepat dan memudahkan masyarakat.
“Awal mula karena kantor Bank BRI adalah yang terdekat di wilayah saya. Dan juga pelayanannya cepat,” kenang Edi mengingat awal perjalanannya menjadi nasabah BRI.
Sejak saat itu, hubungan terjalin terus bertumbuh seiring berkembangnya usaha pertaniannya. Melalui dukungan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI, Edi memperoleh tambahan modal secara bertahap melalui fasilitas suplesi yang disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan usahanya.

Edy Purwanto sedang mendengar penjelasan Mantri BRI terkait penyaluran pembiayaan dari BRI.
Dimulai dari plafon kredit sebesar Rp5 juta, pembiayaan tersebut kemudian meningkat menjadi Rp25 juta, naik kembali menjadi Rp50 juta yang berhasil dilunasi dengan rekam jejak pembayaran yang baik, hingga kini memperoleh fasilitas KUR senilai Rp100 juta yang masih dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas usahanya.
Tambahan modal tersebut menjadi titik balik yang mempercepat perkembangan usaha pertaniannya. Modal yang sebelumnya menjadi kendala kini berubah menjadi kekuatan untuk memperluas lahan garapan, meningkatkan produktivitas, sekaligus menjaga keberlangsungan usaha.
“Alhamdulillah semakin berkembang, dana untuk modal berkebun ada, dan lahan pertanian jadi semakin luas,” ungkapnya penuh rasa syukur.
Di balik perkembangan tersebut, Edi juga merasakan peran penting pendampingan dari Mantri BRI yang senantiasa hadir di tengah aktivitas usahanya. Bagi Edi, Mantri BRI bukan sekadar petugas yang menyalurkan pembiayaan, tetapi juga menjadi mitra yang memberikan pendampingan, informasi, dan edukasi mengenai pengelolaan usaha serta permodalan.
Pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan membuat Edi semakin memahami bagaimana mengelola arus kas, memanfaatkan pembiayaan secara produktif, hingga mengatur perputaran modal agar usaha tetap berjalan dengan sehat dan mampu menghadapi berbagai risiko yang dihadapi sektor pertanian.
Kedekatan inilah yang membuat kehadiran BRI terasa begitu nyata bagi Edi. Baginya, akses terhadap layanan keuangan bukan lagi sesuatu yang sulit dijangkau, melainkan menjadi bagian dari perjalanan membangun kehidupan yang lebih baik.
“BRI dekat dengan rakyat, sangat membantu sekali. Apalagi dengan petani-petani seperti saya, sangat terbantu dengan adanya Bank BRI,” tuturnya.
Kisah Edi Purwanto menjadi potret nyata bagaimana akses pembiayaan yang inklusif, ketika disertai kerja keras dan semangat pantang menyerah, mampu mengubah kehidupan seorang pelaku usaha dari bawah. Dari seorang penggarap lahan milik orang lain, kini ia berhasil memperluas usaha pertaniannya dan terus melangkah menuju masa depan yang lebih baik. (r)

