Giri Menang (Suara NTB) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Barat (Lobar) mengalami kendala dalam penanganan kekeringan. Keterbatasan armada menjadi salah satu kendala yang dihadapi BPBD dalam mempercepat distribusi bantuan air bersih ke daerah terdampak bencana.
Bahkan, BPBD belum memiliki mobil tangki air yang menjadi salah satu kebutuhan paling mendesak dalam operasi penanganan darurat. Kepala Bidang Darurat dan Logistik BPBD Lombok Barat, Toni Hidayat, mengungkapkan, armada yang dimiliki untuk penanganan bencana kekeringan masih terbatas. Beberapa armada tersebut, truk serbaguna, satu unit pikap Strada dan dua unit pikap Isuzu.
“Itu saja yang kami miliki saat ini. Kalau untuk mobil tangki kami belum punya. Kami sudah mengusulkan bantuan kepada BNPB, namun sampai sekarang belum terealisasi. Padahal kebutuhan itu sangat mendesak bagi BPBD dalam mendukung penanganan bencana,” katanya, Senin (29/6/2026).
Menurut Toni, ketiadaan mobil tangki menjadi persoalan yang terus dihadapi BPBD, terutama ketika harus mendistribusikan air bersih kepada masyarakat terdampak kekeringan maupun bencana lainnya. Meski menghadapi keterbatasan tersebut, bukan menjadi alasan pihaknya tak berupaya maksimal dalam menangani bencana kekeringan.
Menyiasati keterbatasan aramda ini, pihaknya dalam melaksanakan tugas di lapangan memaksimalkan kolaborasi dengan berbagai pihak. Pihaknya memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan dengan mengedepankan kerja sama lintas instansi. Selama ini distribusi air bersih dan penanganan darurat dilakukan bersama sejumlah mitra.
“Kami terus berkolaborasi dengan Bank NTB, PTAM Giri Menang, PMI, Damkarmat Lombok Barat hingga BPBD Provinsi. Kolaborasi ini menjadi solusi sementara untuk mengatasi berbagai kendala armada yang kami hadapi,” ucapnya.
Berdasarkan pengalaman penanganan bencana dari tahun ke tahun, kebutuhan armada ideal untuk mendukung distribusi bantuan sedikitnya mencapai lima unit kendaraan operasional yang dapat bekerja secara normal.
Selain mengusulkan bantuan ke pemerintah pusat melalui BNPB, BPBD Lombok Barat juga terus berupaya mendapatkan dukungan kendaraan melalui Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops).
“Kami terus berupaya meminta dukungan kendaraan dari pemerintah pusat. Sementara ini, penanganan tetap kami maksimalkan dengan memanfaatkan armada milik para mitra yang selama ini selalu membantu,” ujarnya.
Toni menambahkan, pengadaan satu unit mobil tangki air sebenarnya tidak membutuhkan anggaran yang terlalu besar. Menurutnya, kendaraan berkapasitas sekitar 5.000 liter lebih sesuai dengan kondisi geografis Lombok Barat yang didominasi wilayah perbukitan.
“Harga satu unit mobil tangki tidak sampai Rp1 miliar. Kami memilih kapasitas sekitar 5.000 liter karena lebih aman dan efektif digunakan di medan perbukitan yang banyak terdapat di Lombok Barat. Kapasitas yang terlalu besar justru akan menyulitkan mobilitas saat distribusi bantuan,” katanya. (her)

