Giri Menang (Suara NTB) – Kisah Desita (14) siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SR-MP) Lombok Barat (Lobar) patut menjadi inspirasi. Tumbuh dari keluarga tak mampu dan menjadi anak yatim piatu sejak kecil, remaja asal Dusun Jeranjang Desa Taman Ayu Kecamatan Gerung itu mampu berprestasi pada level nasional.
Ditemui di rumah neneknya Rabu (1/7/2026), Desi, panggilan akrabnya, menuturkan bahwa ia ditinggal orang tuanya sejak kecil. Bahkan ia tak ingat pada umur berapa ia ditinggal orang tuanya. Ia dibesarkan dan tinggal di rumah neneknya yang juga seorang janda. Ia tidak sendiri diasuh neneknya, melainkan bersama dua saudaranya.
Mengingat kondisi ekomoni yang terbatas itu, ia pun berpikir kemungkinan tidak bisa melanjutkan sekolah selepas tamat SD. Hingga akhirnya pihak desa memintanya untuk mendaftar di SRMP untuk melanjutkan pendidikannya. Ia pun lolos terpilih sebagai siswa SRMP. Saat ini ia telah naik ke VII. Ia mengaku betah menempuh pendidikan di SRMP.
Akhir bulan lalu, ia ikut kejuarnas Lombok Arisaka Championship 2026 mewakili sekolahnya pada Cabor Pencak Silat. Kejurnas itu diikuti selama dua hari, tanggal 27-28 Juni lalu di GOR Turida Mataram. “Alhamdulillah saya juara 1 dapat medali emas,” kata Desi. Dari sekolahnya terdapat delapan siwa yang ikuti kejuaraan tersebut. Dalam kejurnas itu, ia menghadapi pelajar dari sekolah lain.
Dengan perjuangan keras, ia pun keluar sebagai juara. Sebelum mengikuti kejurnas itu, ia menjalani latihan selama dua bulan di Sesela yang diadakan oleh pihak sekolah. Ia senang bisa meraih juara, sehingga bisa membawa nama baik daerah dan sekolahnya.
Desi berjanji tetap semangat dalam meraih prestasi pada cabang olahraga yang disenanginya tersebut. Hal ini juga menjadi motivasinya dalam menempuh pendidikan di SRMP. Karena ia memiliki harapan dan cita-cita menjadi dokter sehingga bisa mengangkat derajat keluarganya.
Di tempat yang sama Papuq Merah, menuturkan bahwa ia merawat empat cucunya termasuk Desita sejak masih kecil. Ia mencari nafkah menghidupi cucu-cucunya dari hasil kerja serabutan. Semasih masih kuat bekerja, ia kerja tak pandang bulu asalkan halal. Namun, semenjak usia yang kian menua menggerogoti tubuhnya, ia tak lagi kuat bekerja. Ia pun hanya bisa mencari rezeki dari buruh pepes sisa padi yang dipanen.
“Itu pun cukup untuk sekadar makan sehari-hari,” imbuhnya. Bahkan untuk makan sehari-hari, terkadang ia diberikan oleh tetangga yang berbaik hati.
Sementara itu, Kades Taman Ayu, M Tajudin mengaku bangga pada Desita yang berhasil membawa nama baik desa, daerah dan sekolah rakyat di level nasional melalui prestasi juara I yang diraihnya pada Kejurnas.
Pihaknya pun mengunjungi Desita untuk menanyakan kebutuhan yang bisa diberikan Pemda sebagai hadiah atas prestasinya tersebut. Ia bangga pada Desita, di tengah keterbatasan, di mana anak yatim piatu yang dibesarkan oleh neneknya. Dengan bekerja serabutan, neneknya mampu membesarkan cucu-cucunya. Ia pun berterima kasih kepada pemerintah karena telah membangunkan rumah untuk nenek Desita melalui program RST (Rumah Sejahtera Terpadu).
Ia juga terima kasih kepada sekolah rakyat yang telah memberikan akses pendidikan kepada Desita. Sehingga keterbatasan ekonomi tidak menghalangi Desita bisa mengenyam pendidikan. Pihaknya pun berupaya membantu kendala listrik dan air yang dialami Papuq Merah. (her)

