Dompu (Suara NTB) – Petani tebu di Desa Pekat, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu meminta harga tebu dinaikan dari pembelian Rp550 ribu per ton menjadi Rp600 ribu per ton. Pasalnya, musim giling perusahaan tebu masih mengandalkan pasokan tebu rakyat seperti pada musim-musim sebelumnya. Hal ini disampaikan Aliansi Petani Tebu Kecamatan Pekat saat menggelar aksi di kawasan pabrik gula PT SMS pada, Rabu (8/7).
Aksi yang dikoordinasikan Nasuhi dan Tamrin Hadu itu juga menuntut penurunan biaya pemanfaatan lahan kemitraan on hand dari Rp1,5 juta menjadi Rp500 ribu per hektare, agar setara dengan tarif lahan hak guna usaha (HGU). Selain itu, petani meminta lahan HGU yang dimitrakan dengan kelompok tani di Desa Doropeti tidak dialihkan ke wilayah lain.
Aksi tersebut merupakan kali kedua dilakukan aliansi petani sejak dimulainya musim giling tebu 2026. Massa sempat menutup akses jalan menuju perusahaan hingga akhirnya diterima berdialog dengan jajaran manajemen PT SMS.
General Manager Plantation PT SMS, Bahtiar menyampaikan, usulan kenaikan harga tebu masih dibahas di tingkat manajemen dan dipastikan akan mengalami penyesuaian pada musim giling 2026. Sementara itu, biaya pemanfaatan lahan akan dievaluasi untuk penyesuaian tarif dan diseragamkan bagi seluruh kemitraan setelah proses giling selesai.
Koordinator Aksi, Nasuhi meminta komitmen perusahaan dituangkan dalam dokumen tertulis sebagai bentuk kepastian bagi petani. Tamrin Hadu juga berharap perusahaan mempertimbangkan kembali rencana relokasi lahan kelompok tani, sehingga petani tetap dapat memanen tebu yang telah mereka tanam.
Manager Humas PT SMS, Muhammad Haryanto, menegaskan seluruh aspirasi petani akan diteruskan kepada pimpinan perusahaan untuk dibahas lebih lanjut. Menurutnya, perusahaan berkomitmen mengevaluasi harga pembelian tebu maupun biaya pemanfaatan lahan sebagai bagian dari upaya mencari solusi yang mengakomodasi kepentingan seluruh pihak.
Dialog yang turut dihadiri Polres Dompu menghasilkan kesepahaman awal yang dituangkan dalam berita acara bermaterai. Dalam dokumen tersebut, PT SMS berkomitmen mengkaji secara serius kenaikan harga pembelian tebu setelah musim giling 2026 berjalan, menurunkan biaya pemanfaatan lahan menjadi di bawah Rp1,5 juta per hektare dengan mekanisme yang berlaku bagi seluruh kemitraan, serta melanjutkan pembahasan mengenai lahan Research and Development (RnD) melalui musyawarah bersama kelompok tani. (ula)

