Mataram (Suara NTB) –– Minat masyarakat Kota Mataram untuk bergabung dalam program SPALD-T (Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat) atau Program Citywide Inclusive Sanitation Project (CISP) masih tergolong rendah. Hingga saat ini, baru sekitar 1.500 rumah yang menyatakan kesediaan untuk tersambung ke jaringan, padahal pemerintah menargetkan 4.000 sambungan rumah pada tahap pertama pembangunan.
Kepala BPBPK (Balai Penataan Bangunan, Prasarana) NTB, Dedes Prinandes, ST., M.Si., mengatakan rendahnya jumlah calon pelanggan menjadi tantangan dalam pelaksanaan Program Citywide Inclusive Sanitation Project (CISP) yang merupakan bagian dari RKJPN 2025–2045.
Menurutnya, kapasitas instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang dibangun pada tahap pertama dirancang mampu melayani hingga 13.500 rumah tangga. Namun, pemerintah pusat melalui APBN hanya membiayai 4.000 sambungan rumah, sementara 9.500 sambungan lainnya diharapkan dapat dipenuhi secara bertahap oleh Pemkot Mataram.
“Yang kita laksanakan saat ini baru sekitar 1.500 rumah yang bersedia menyambung. Karena itu, sosialisasi kepada masyarakat terus dilakukan agar target sambungan rumah dapat tercapai,” ujar Dedes.
Seperti diketahui, Pemkot Mataram menjadi salah satu daerah sasaran pelaksanaan program ini dalam Rencana Kerja Jangka Panjang Nasional (RKJPN) 2025–2045. Program yang didukung pendanaan pinjaman tersebut ditujukan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan sanitasi yang aman.
Pada tahap pertama, IPAL dibangun dengan kapasitas sekitar 8.000 meter kubik per hari, meski kapasitas akhir yang direncanakan mencapai 24.000 meter kubik per hari.
Ia menjelaskan, proyek CISP akan berlangsung hingga tahun 2030. Karena itu, pemerintah daerah diharapkan dapat mengalokasikan anggaran secara bertahap, baik melalui APBD maupun skema pendanaan lainnya, agar target layanan sanitasi dapat tercapai.
Selain pembangunan fisik, program ini juga mencakup penguatan kelembagaan pengelola sistem sanitasi, optimalisasi operasional, serta edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya layanan sanitasi terpusat.
Dedes mengungkapkan, sosialisasi kepada masyarakat sebenarnya telah dilakukan sejak usulan program disampaikan pada 2019. Namun, seiring dimulainya pelaksanaan proyek pada 2025, pemerintah kembali melakukan sosialisasi secara berjenjang mulai dari tingkat pemerintah kota, kecamatan, kelurahan hingga lingkungan dan RT.
Dia berharap dukungan seluruh pemangku kepentingan, termasuk DPRD Kota Mataram, dapat mempercepat penyediaan anggaran dan mendorong partisipasi masyarakat sehingga target layanan sanitasi aman bagi 13.500 rumah tangga dapat tercapai sesuai rencana. (fit)
.

