Di ujung selatan Pulau Lombok, hamparan tanah kering dan tandus menjadi pemandangan sehari-hari bagi warga Kecamatan Jerowaru. Berbeda jauh dengan wilayah Lombok Timur bagian tengah dan utara yang hijau dengan melimpahnya mata air, kawasan selatan ini nyaris minim sumber air. Namun di tengah keterbatasan itu, ada satu tempat yang menjadi penyelamat- Masyarakat sekitar menanyakannya Lingkok (Sumur) Tutuq.
PERJALANAN menuju Sumur Tutuq ditempuh sekitar satu jam dari pusat Kota Selong. Lokasi sumur ini saat ini sangat strategis dan sangat mudah dijangkau. Begitu tiba di Sumur Tutuq, pemandangan berbeda terlihat. Antrean tangki air berjejer rapi, menunggu giliran mengisi muatan.
Sumur Tutuq, adalah satu-satunya mata air yang tidak pernah kering di wilayah yang sebagian besar berada di pinggir pantai ini. Setiap hari, puluhan tangki air datang silih berganti untuk mengambil air dari sumur-sumur yang dibuat mandiri oleh masyarakat setempat.
“Sumur ini sudah ada sejak lama, bahkan sebelum kami lahir. Airnya tidak pernah berhenti mengalir, baik musim hujan maupun kemarau,” ujar seorang warga Dusun Tutuq yang ditemui di lokasi, Sabtu (18/7/2026).
Camat Jerowaru, Sirah, menjelaskan bahwa masyarakat Dusun Tutuq kini turut mengkomersialkan air dari sekitar sumber mata air tersebut. Saat ini terdapat enam unit sumur yang dibuat secara mandiri oleh warga.
“Setiap hari tangki-tangki air bergiliran mengambil air di sumur-sumur warga. Warga membeli air,” ungkap Sirah.
Harga satu tangki air ukuran 5.000 liter dibanderol antara Rp400 ribu hingga Rp500 ribu, tergantung jarak tempuh pengiriman. Wilayah yang dijangkau meliputi desa-desa sekitar hingga ke Desa Sekaroh yang jaraknya cukup jauh.
“Masyarakat Tutuq buat sendiri sumur untuk usaha pengisian mobil tangki. Jumlah sumur masyarakat ada 6 sumur,” tambahnya.
Bisnis air ini menjadi tulang punggung perekonomian bagi sebagian warga Dusun Tutuq. Mereka tidak hanya menjual air, tetapi juga menyediakan jasa pengisian dan pengangkutan yang menyerap tenaga kerja setempat.
Pemerintah Kabupaten Lombok Timur sebenarnya telah berupaya mengatasi krisis air di wilayah selatan. Beberapa kali proyek pengaliran air dari Sumur Tutuq ke rumah-rumah warga digagas. Salah satunya dengan membangun tower tinggi, dengan harapan bisa menjangkau titik-titik kritis air bersih di Jerowaru.
Namun sayang, proyek bernilai miliaran rupiah itu tidak bisa terwujud. Dua tower yang dibangun megah kini hanya menjadi “penjaga sumur”—terbengkalai tanpa fungsi.
“Tower yang dibangun dengan dana miliaran rupiah itu kini terlihat mangkrak. Dua tower yang dibangun hanya jadi penjaga sumur,” ujar warga lainnya dengan nada prihatin.
Kekeringan di wilayah Jerowaru memang sudah menjadi langganan setiap tahun. Tahun 2026 diprediksi akan lebih parah dengan fenomena El Nino yang diperkirakan berlangsung panjang.
Kondisi ini semakin memprihatinkan mengingat sumber air bersih sangat terbatas. Warga berharap pemerintah memiliki langkah nyata untuk mengatasi krisis air, terutama bagi desa-desa yang belum terjangkau layanan PDAM.
Meski persoalan air bersih masih menjadi pekerjaan rumah besar, hadirnya proyek pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Pantai Selatan yang menelan dana Rp120 miliar ini telah sampai ke rumah-rumah wasgam Untuk Desa Seriwe dan Desa Ekas Buana, permintaan air bersih kini sudah berkurang karena sebagian wilayahnya telah terlayani oleh Perusahaan Daerah Air (PDAM) sebagai pengelola proyek SPAM Selatan ini.
Hanya saja, Camat Jerowaru mengakui belum bisa semua rumah disambungkan air bersih. Seperti Desa Sekaroh, warga masih membutuhkan bantuan air bersih. Pemasangan sambungan rumah (SR) PDAM masih dalam proses untuk bisa menjangkau seluruh rumah warga secara bertahap.
“Untuk Desa Sekaroh masih membutuhkan bantuan air bersih karena pemasangan sambungan rumah PDAM on proses,” ungkap Camat Sirah.
Di balik segala keterbatasan, Sumur Tutuq tetap menjadi simbol ketahanan dan harapan bagi warga Jerowaru. Sumur yang tak pernah kering itu seakan berbisik: di mana ada air, di situ ada kehidupan. Dan di tanah kering selatan Lombok, ia menjadi berkah yang tak ternilai. (Rusliadi)

