Baru 20 Unit

PEMERINTAH Kelurahan Mayura, Kecamatan Cakranegara, baru merealisasikan sekitar 20 unit Tempah Dedoro dari target 70 unit pada tahun 2026. Program pengelolaan sampah berbasis lingkungan tersebut terus dioptimalkan sebagai upaya mengurangi volume sampah rumah tangga yang dibuang ke tempat pembuangan sementara (TPS), sekaligus mendorong masyarakat mengelola sampah organik dari sumbernya.

Lurah Mayura, I Komang Oka Tri Cahyadi P, menjelaskan target pembangunan Tempah Dedoro disesuaikan dengan kemampuan anggaran kelurahan. Setiap lingkungan ditargetkan memiliki 10 unit Tempah Dedoro. Dengan tujuh lingkungan yang ada di Kelurahan Mayura, total kebutuhan mencapai 70 unit.

“Target kami setiap lingkungan memiliki 10 unit Tempah Dedoro sehingga totalnya 70 unit. Namun, realisasinya dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan anggaran,” ujarnya, Kamis (23/7).

Hingga pertengahan tahun ini, pembangunan baru mencapai sekitar 20 unit. Meski demikian, pemerintah kelurahan tetap berupaya menambah jumlah Tempah Dedoro secara bertahap agar target yang telah ditetapkan dapat tercapai.

Menurut Komang, keberadaan Tempah Dedoro di setiap lingkungan diharapkan mampu mengurangi jumlah sampah organik yang selama ini langsung dibuang ke TPS. Sampah organik yang dikelola melalui Tempah Dedoro akan terurai di lokasi sehingga dapat menekan beban pengangkutan sampah oleh pemerintah.

“Kalau sampah organik bisa selesai di lingkungan masing-masing, otomatis volume sampah yang dibawa ke TPS juga akan berkurang. Itu yang ingin kita dorong,” katanya.

Ia menjelaskan, pembangunan Tempah Dedoro tidak hanya bergantung pada ketersediaan anggaran, tetapi juga mempertimbangkan kondisi wilayah. Tidak semua lingkungan memiliki lahan yang memadai untuk membangun fasilitas tersebut.

Salah satu wilayah yang menghadapi keterbatasan lahan adalah Lingkungan Pandan Salas. Karena itu, pembangunan Tempah Dedoro di kawasan tersebut disesuaikan dengan kesiapan lokasi dan permintaan masyarakat.

“Kami tidak bisa memaksakan pembangunan di semua lingkungan dengan jumlah yang sama apabila lahannya tidak tersedia. Jadi, kami melihat kondisi di lapangan terlebih dahulu,” ujarnya.

Untuk sementara, pembangunan lebih difokuskan di tiga lingkungan, yakni Sweta Barat, Sweta Selatan, dan Sweta Timur. Ketiga lingkungan tersebut dinilai memiliki lahan yang lebih luas sehingga lebih memungkinkan untuk pengembangan Tempah Dedoro.

Komang menambahkan, pembangunan satu unit Tempah Dedoro membutuhkan anggaran sekitar Rp500 ribu. Dana tersebut digunakan untuk penyediaan material, seperti gumbleng, penutup, serta biaya penggalian. Menurutnya, besaran anggaran relatif sama dengan kelurahan lain di Kecamatan Cakranegara karena menggunakan rekanan yang sama.

“Rata-rata anggaran di wilayah Cakranegara sekitar Rp500 ribu per unit karena menggunakan rekanan yang sama,” pungkasnya.

Ia berharap pembangunan Tempah Dedoro dapat terus berlanjut sehingga seluruh lingkungan di Kelurahan Mayura memiliki fasilitas pengolahan sampah organik. (pan)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO