BerandaNTBKOTA MATARAMDishub Evaluasi dengan Pemprov NTB, Rekayasa Lalulintas Satu Arah di Jalan Dakota...

Dishub Evaluasi dengan Pemprov NTB, Rekayasa Lalulintas Satu Arah di Jalan Dakota Dikeluhkan

Mataram (Suara NTB) – Rekayasa lalu lintas berupa penerapan sistem satu arah di Jalan Dakota menuai keluhan dari sejumlah pengendara. Skema yang diuji coba tersebut dinilai justru memperparah kemacetan, terutama di simpang tiga Jalan Dr. Wahidin dan Jalan Dakota.

Rekayasa lalu lintas ini merupakan inisiatif Pemerintah Provinsi NTB yang bertujuan mengurai kepadatan kendaraan di kawasan tersebut. Namun, selama uji coba yang berlangsung pada Senin hingga Rabu (20–22/7), arus lalu lintas justru mengalami antrean panjang, terutama pada jam sibuk pagi dan sore.

Pantauan Suara NTB pada Kamis (23/7) sekitar pukul 08.00 Wita menunjukkan arus lalu lintas dari arah Gunungsari menuju Mataram melalui Jalan Dr. Wahidin kembali lancar setelah rekayasa dihentikan. Meski masih terjadi kepadatan sesaat, kondisinya jauh lebih baik dibandingkan saat sistem satu arah diberlakukan.

Salah seorang pengendara, Muhdin, menilai penerapan sistem tersebut membuat antrean kendaraan semakin panjang. Pengendara dari arah Gunungsari yang hendak menuju Jalan Dakota dan kawasan Udayana terpaksa melaju lurus hingga Simpang Empat Rembiga sebelum dapat berputar arah.

“Kami yang mau masuk ke Jalan Dakota menuju Udayana harus terus lurus terlebih dahulu. Ditambah harus melewati lampu lalu lintas, akhirnya antrean kendaraan menjadi semakin panjang,” ujarnya saat ditemui di Jalan Dakota, Kamis (23/7).

Menurut Muhdin, pengaturan lalu lintas dengan sistem buka-tutup yang sebelumnya dilakukan petugas Dinas Perhubungan Kota Mataram dinilai lebih efektif. Meskipun kemacetan tetap terjadi, antreannya tidak separah saat rekayasa satu arah diterapkan.

Ia menambahkan, protes dari masyarakat akhirnya membuat pembatas jalan yang dipasang di Jalan Dakota dibuka kembali sehingga arus lalu lintas kembali normal.

Keluhan serupa disampaikan pengendara lainnya, Nanang. Menurutnya, kondisi Jalan Dr. Muhidin yang memiliki lebar terbatas tidak mendukung penerapan sistem satu arah di Jalan Dakota.

“Jalan Dakota selama ini menjadi jalur alternatif bagi pengendara yang menuju ke arah barat sehingga tidak menumpuk di satu titik. Kalau ditutup seperti kemarin, kemacetannya justru semakin parah,” katanya.

Ia berharap pemerintah lebih mempertimbangkan kondisi infrastruktur dan volume kendaraan sebelum menerapkan rekayasa lalu lintas, sekaligus mencari solusi yang lebih efektif untuk mengatasi kemacetan di kawasan tersebut.

Menanggapi keluhan masyarakat, Kepala Dinas Perhubungan Kota Mataram, Zulkarwin, menjelaskan bahwa uji coba rekayasa lalu lintas yang diinisiasi Pemerintah Provinsi NTB telah dihentikan sejak Rabu (22/7) setelah menimbulkan kepadatan arus kendaraan.

“Kami juga menurunkan personel untuk membantu pengaturan lalu lintas. Rekayasa sudah dibuka sejak kemarin, dan hari ini sudah tidak diberlakukan lagi,” ujarnya.

Menurut Zulkarwin, Pemerintah Provinsi NTB akan menggelar rapat koordinasi bersama Dinas Perhubungan Kota Mataram langsung pada Kamis (23/7) untuk mengevaluasi hasil uji coba tersebut dan mengkaji kemungkinan langkah lanjutan.

Ia mengakui, berdasarkan laporan petugas di lapangan, banyak masyarakat yang menyampaikan keberatan terhadap penerapan sistem satu arah tersebut.

“Keluhan masyarakat memang cukup banyak. Bahkan tanpa rekayasa pun kawasan itu sebenarnya sudah sering mengalami kemacetan,” katanya.

Mantan Camat Selaparang itu menambahkan, selama tiga hari pelaksanaan uji coba, tingkat kemacetan di lokasi meningkat cukup signifikan. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, kapasitas ruas Jalan Dr. Wahidin sudah tidak mampu menampung peningkatan volume kendaraan ketika arus dialihkan.

“Karena itu kami memberikan masukan kepada Pemerintah Provinsi selaku inisiator rekayasa agar hasil evaluasi benar-benar mempertimbangkan kondisi riil di lapangan,” pungkasnya. (pan)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO