BerandaNTBLOMBOK BARATWarga Desak Perbaikan Gedung SMAN 1 Gunungsari

Warga Desak Perbaikan Gedung SMAN 1 Gunungsari

Giri Menang (Suara NTB) – Ratusan siswa SMAN 1 Gunungsari, Lombok Barat (Lobar) terpaksa belajar di luar ruang kelas setelah ruang belajar disegel karena kondisinya dinilai rawan roboh. Para siswa kini menjalani kegiatan belajar mengajar di lokasi darurat, mulai dari lobi sekolah, kantin, musala, gudang, hingga laboratorium.


Warga pun mendesak agar Pemprov NTB segera bertindak menangani sejumlah ruang kelas tersebut. Pantauan media di SMAN 1 Gunungsari, Rabu (29/7/2026), enam ruang kelas dipasangi garis pengamanan dan tidak lagi digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Kondisi itu memaksa pihak sekolah mengatur ulang tempat belajar ratusan siswa.


Komite Sekolah SMAN 1 Gunungsari sekaligus Anggota DPRD Dapil Gunungsari – Batulayar, Saeun mengatakan bahwa pihaknya telah beberapa kali rapat dengan pihak sekolah untuk menyikapi kondisi itu. “Karena itu sangat memperihatinkan, beberapa ruang kelas disegel itu sudah lama sekali. Tapi dari Pemprov NTB sampai hari ini belum ada,” tegasnya politisi PAN itu.


Pasalnya, dampaknya ditutupnya emalr ruangan kelas ini sangat menganggu proses belajar mengajar siswa. Karena mereka terpaksa belajar di musala, kantin hingga gudang. Padahal sekolah ini termasuk unggulan. Atas kondisi ini, ia pun mendesak Pemprov untuk segera menindaklanjuti.


Warga merasa sangat kecewa atas lambannya penanganan gedung sekolah ini. Karena warga melihat sendiri anak-anaknya belajar tidak nyaman, belum lagi kekhawatiran warga ancaman gedung sekolah itu yang rawan ambruk. Bahkan kondisi sekolah rawan ambruk itu bukan hanya di SMA 1 Gunungsari, tetapi di beberapa sekokah lainnya.


Sementara itu, Kepala SMAN 1 Gunungsari, Musyrifin, berharap pemerintah segera melakukan perbaikan agar proses belajar mengajar dapat kembali berjalan normal. Menurutnya, belajar di ruang darurat membuat siswa tidak nyaman. “Kami dari sekolah berharap agar segera ini diperbaiki, karena beda belajar di ruangan dengan di tempat darurat seperti ini. Siswa banyak ngeluh panas, kemudian di kantin berdebu,” tandas nya


Pihaknya sendiri telah melakukan upaya penyegelan beberapa ruang kelas, setelah hasil pemeriksaan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi NTB merekomendasikan agar ruang kelas tersebut dikosongkan demi alasan keselamatan.


“Kalau dari hasil pemeriksaan PUPR Provinsi, kami disarankan untuk sterilkan ruang kelas. Tapi sejak awal kami sudah kekurangan empat kelas. Makanya kalau dihitung, sekitar 360 siswa yang terdampak,” ujarnya di lokasi.


Ia menjelaskan, bangunan yang disegel memiliki konstruksi yang dinilai tidak ideal. Atap bangunan menggunakan beton, sedangkan penyangganya berbahan kayu, sehingga dikhawatirkan membahayakan apabila tetap digunakan. “Karena atapnya ini beton, sedangkan penopangnya kayu. Secara keseluruhan, ruang kelas yang sama dengan konstruksinya dengan yang disegel itu lebih dari 20 ruangan,” katanya.


Sebelumnya, Dinas PUPRKP NTB menyegel enam ruang kelas di SMAN 1 Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat. Penyegelan dilakukan karena kondisi bangunan dinilai tidak lagi layak digunakan dan berpotensi ambruk sehingga membahayakan keselamatan siswa dan guru.


Kepala Dinas PUPRKP NTB, Lalu Kusuma Wijaya, mengatakan langkah tersebut merupakan upaya mitigasi untuk mencegah terulangnya insiden ambruknya bangunan sekolah, seperti yang sebelumnya terjadi di SMAN 7 Mataram dan SMAN 1 Lingsar Lombok Barat beberapa waktu lalu.


“Kami proteksi dini untuk mengantisipasi, jangan sampai digunakan dan tiba-tiba ambruk. Habis itu mencederai dan membuat ada korban,” kata Wijaya di Lombok Tengah, Senin (27/7/2026).


Meski sejumlah ruangan disegel, Wijaya memastikan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) siswa SMAN 1 Gunungsari tetap berjalan. Pemerintah NTB telah menyiapkan tenda darurat dan memanfaatkan ruangan lain yang dinilai aman untuk sementara waktu.


Wijaya mengungkapkan, temuan enam kelas tak layak di SMAN 1 Gunungsari merupakan hasil pengecekan tim di lapangan. Rata-rata bangunan sekolah yang sudah berumur dua dekade mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan struktural sehingga berbahaya untuk digunakan.”Saya tidak merekomendasikan untuk digunakan, nanti ambruk. Tidak ada korban saja kami kaget, apalagi ada korban,” tegasnya.


Wijaya mengatakan keterbatasan personel untuk mengecek seluruh sekolah di NTB satu per satu, Dinas PUPRKP meminta pihak sekolah yang bangunannya sudah tua untuk melakukan asesmen mandiri secara visual.


Setelah dilaporkan, Wijaya berujar, Tim penilai Dinas PUPRKP akan diturunkan ke lokasi untuk memastikan kelaikan fisik bangunan setelah mendapat laporan awal. “Jadi kami coba untuk asesmen dulu. Sekolah-sekolahnya kami minta melakukan asesmen sendiri, melihat secara visual sendiri,” pungkasnya. (her)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO