Kota Bima (Suara NTB) – Gerakan Rabu Amal Sampah yang digagas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bima, berhasil menghimpun 171,93 kilogram sampah botol plastik selama Januari-Juli 2026.
Sampah yang dikumpulkan dari lingkungan kerja aparatur sipil negara (ASN) itu, selanjutnya diserahkan ke Bank Sampah Induk Karaso Rasa sebagai bagian dari upaya mengurangi timbulan sampah plastik sekaligus membangun budaya memilah sampah dari sumbernya.
Kepala DLH Kota Bima, Syahrial Nuryadin mengatakan selama tujuh bulan pelaksanaan gerakan tersebut telah melibatkan 820 pegawai, dengan rata-rata sekitar 35 orang berpartisipasi setiap pekan. Dalam setiap kegiatan, rata-rata sampah botol plastik yang berhasil dikumpulkan mencapai sekitar tujuh kilogram sebelum disalurkan ke Bank Sampah Induk Karaso Rasa.
Menurut Syahrial, capaian tersebut menunjukkan tren partisipasi yang terus meningkat. Pada Januari terkumpul 18,50 kilogram botol plastik dari 102 pegawai. Jumlah itu naik menjadi 22,08 kilogram pada Februari dengan melibatkan 112 pegawai. Sementara pada Maret terkumpul 12 kilogram dari 51 pegawai, lalu kembali meningkat pada April menjadi 18,75 kilogram dari 97 pegawai.
Peningkatan semakin terlihat pada Mei dengan perolehan 26 kilogram dari 124 pegawai. Sementara pada Juni terkumpul 17,75 kilogram dari 125 pegawai. Capaian tertinggi terjadi pada Juli, ketika 209 pegawai berhasil mengumpulkan 56,85 kilogram sampah botol plastik, sekaligus menjadi perolehan terbaik sejak program tersebut dilaksanakan.
“Bulan Juli menjadi capaian tertinggi sejak Gerakan Rabu Amal Sampah dilaksanakan. Ini menjadi indikator bahwa kesadaran pegawai untuk memilah dan mengumpulkan sampah plastik terus meningkat,” katanya, Kamis (30/7).
Keberhasilan tersebut tidak lepas dari keterlibatan lintas organisasi perangkat daerah (OPD). Gerakan Rabu Amal Sampah ini telah diikuti oleh DLH, Bappeda, Inspektorat, BPKAD, BKPSDM, Sekretariat DPRD, Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman, Kantor Camat Rasanae Barat, DPMPTSP, DP3A, serta BRIDA Kota Bima.
“Pengelolaan sampah bukan hanya menjadi tanggung jawab DLH. Dibutuhkan kolaborasi seluruh perangkat daerah agar kebiasaan memilah sampah dapat tumbuh menjadi budaya,” tegasnya.
Syahrial mengatakan, capaian tersebut juga mencerminkan perubahan perilaku yang mulai tumbuh di lingkungan pemerintah daerah. Menurutnya, gerakan sederhana yang dilaksanakan secara rutin setiap hari Rabu mampu mendorong kesadaran pegawai untuk lebih peduli terhadap pengelolaan sampah.
“Kami mengapresiasi seluruh jajaran yang terus konsisten menjalankan Gerakan Rabu Amal Sampah. Hasil ini menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan bersama secara berkelanjutan,” ujarnya.
Pihaknya berharap partisipasi dalam Gerakan Rabu Amal Sampah terus meluas, tidak hanya di lingkungan pemerintah daerah, tetapi juga melibatkan sekolah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, hingga masyarakat umum. Semakin banyak pihak yang berpartisipasi, semakin besar pula kontribusi yang diberikan dalam mengurangi sampah plastik di Kota Bima.
“Kami berharap gerakan ini dapat menjadi kebiasaan bersama. Memilah sampah dari rumah, membawa botol plastik ke kantor, lalu menyetorkannya ke bank sampah merupakan langkah sederhana yang memberi manfaat besar bagi lingkungan dan masa depan Kota Bima,” pungkasnya. (hir)

