Di balik sorot lampu ruang rapat Komisi XII DPR RI di Senayan, Jakarta, ambisi besar Indonesia untuk lepas dari kutukan ekspor bahan mentah kembali diuji. Di tengah tantangan teknis, dinamika keselamatan kerja, serta gejolak kesiapan pasar domestik, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT/AMMAN) bertarung menyeimbangkan komitmen hilirisasi nasional dengan realitas operasional yang kompleks di lapangan.
Jakarta (suarantb.com) — Di atas kertas, skenario hilirisasi mineral Indonesia tampak begitu linier dan menjanjikan: melarang ekspor bahan mentah, mewajibkan pembangunan fasilitas pemurnian (smelter), lalu memanen produk olahan berharga tinggi di dalam negeri. Pemerintah memproyeksikan rantai pasok ini akan mengunci nilai tambah ekonomi, menyerap tenaga kerja lokal, dan mengokohkan fondasi industri manufaktur berbasis energi bersih.
Namun, ketika narasi besar tersebut diturunkan ke meja operasional di Pulau Sumbawa, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang terjadi adalah serangkaian dinamika teknis, keuangan, dan keselamatan yang sangat rumit. Hilirisasi bukan sekadar meresmikan bangunan megah, melainkan maraton panjang yang menuntut presisi engineering tanpa cela.
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dan Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi XII DPR RI pada Selasa, 14 Juli 2026 di Senayan, Jakarta, Presiden Direktur PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) Rachmat Makkasau, memaparkan potret utuh perjalanan tambang Batu Hijau dan fasilitas pemurniannya. Paparan tersebut tidak sekadar menyajikan angka-angka target produksi, melainkan memotret bagaimana sebuah raksasa tambang bertransisi di tengah imperatif regulasi nasional.
Langkah AMMAN menjadi cerminan nyata dari ujian kepatuhan industri ekstraktif nasional. Sebagai pemegang izin Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus Operasi Produksi (IUPK-OP) seluas 25.000 hektar yang beralih sejak 2017, perusahaan ini memikul beban moral dan hukum untuk menuntaskan integrasi dari penambangan hulu hingga peleburan hilir.

Jalan Berkelok Fasilitas Pemurnian: Dari Kebocoran hingga Pemulihan
Jantung dari ambisi hilirisasi AMMAN terletak pada fasilitas smelter yang dibangun mengadopsi double flash technology—sebuah teknologi mutakhir yang dirancang untuk memberikan efisiensi tinggi serta emisi yang lebih rendah. Fasilitas terintegrasi ini dirancang dengan kapasitas input konsentrat tembaga mencapai 900.000 ton per tahun, yang dipasok langsung dari tambang terbuka (open pit) Batu Hijau.
Namun, mengoperasikan mesin raksasa berteknologi tinggi di area terpencil terbukti tidak semudah membalik telapak tangan. Dimulai sejak fase uji coba operasional (commissioning) pada Juni 2024, jaringan operasional AMMAN sempat dihantam kendala teknis yang memicu alarm kewaspadaan.
Kebocoran pada sistem pendingin asam (acid cooling) serta gangguan pada tungku peleburan utama (flash smelting furnace) memicu insiden kebakaran ringan di area operasional pada awal 2025. Meskipun insiden tersebut berhasil ditangani tanpa korban jiwa, dampaknya menjalar ke seluruh rantai produksi perusahaan.
Tantangan teknis di hilir ini berimbas langsung pada ritme produksi hulu. Sepanjang tahun 2025, volume produksi konsentrat tembaga AMMAN mengalami penurunan mendasar. Perusahaan terpaksa menyesuaikan strategi dengan memfokuskan alat-alat berat untuk kegiatan pengupasan batuan buangan (stripping Fase 8) di tambang hulu, sembari tim teknologis bekerja maraton menyelesaikan hambatan di fasilitas pemurnian.
“Perbaikan intensif kami lakukan secara menyeluruh dan terukur hingga awal 2026,” tegas Rachmat Makkasau di hadapan para anggota Komisi XII DPR RI.
Ujian teknis yang menguras energi dan investasi tersebut baru memperlihatkan hasil positif setelah proses peningkatan kapasitas (ramp-up) kembali berjalan stabil pada April 2026. Memasuki Juni 2026, smelter tersebut akhirnya memecahkan rekor operasionalnya: sanggup memproses seluruh volume konsentrat hasil produksi tambang Batu Hijau secara penuh.
Kendati demikian, manajemen AMMAN memilih untuk tidak terburu-buru berpuas diri. Menyadari tingginya risiko operasional pada fasilitas peleburan bersuhu tinggi, perusahaan telah menjadwalkan rencana shutdown singkat pada periode Desember 2026 hingga Januari mendatang. Penutupan sementara ini dirancang untuk melakukan penggantian dan penyempurnaan beberapa komponen kritis guna memastikan keandalan jangka panjang.

Peta Target Produksi 2026: Berkah Logam Mulia dan Produk Turunan
Dengan pulihnya dan beroperasinya fasilitas pemurnian secara penuh, kalkulasi bisnis serta kontribusi ekonomi AMMAN mengalami pergeseran yang signifikan. AMMAN tidak lagi sekadar mengekspor pasir konsentrat, melainkan menghasilkan komoditas olahan bernilai tambah tinggi yang menjadi tulang punggung industri modern.
Untuk tahun 2026, proyeksi target hasil olahan smelter AMMAN mencakup kisaran volume yang signifikan:
- Katoda Tembaga: 162.000 ton (Bahan baku utama industri kabel, komponen listrik, dan kendaraan listrik)
- Emas murni: 16 ton (Hasil pemurnian logam mulia/precious metal refinery)
- Perak murni: 45 ton
- Selenium: 91 ton (Komponen penting industri kaca dan elektronik)
- Telurium: 1,96 ton (Bahan baku panel surya dan paduan logam)
- Asam Sulfat: 572.000 ton (Produk sampingan vital untuk industri pupuk dan pemrosesan nikel)
Angka-angka ini memperlihatkan betapa besarnya potensi pemutaran roda ekonomi yang dihasilkan dari satu lokasi tambang di Sumbawa Barat. Kehadiran pemurnian logam mulia (Precious Metal Refinery) memastikan bahwa kandungan emas dan perak yang selama ini melekat pada konsentrat tembaga kini dapat dimurnikan 100 persen di dalam negeri.

Dilema Penyerapan Domestik: Siapkah Industri Manufaktur Lokal?
Namun, ketika masalah teknis di dalam smelter berhasil diatasi, muncul pertanyaan baru yang jauh lebih strategis: Ke mana seluruh produk hilirisasi raksasa ini akan disalurkan?
Di hadapan Komisi XII DPR RI, Rachmat Makkasau menegaskan bahwa komitmen utama AMMAN adalah memprioritaskan penjualan seluruh hasil pemurnian untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik. Kebijakan ini berdasar pada cita-cita nasional yang menginginkan ekosistem manufaktur dalam negeri—mulai dari pabrik transformasi kabel, otomotif, hingga rantai pasok baterai kendaraan listrik—mendapatkan kepastian pasokan bahan baku dari dalam negeri. Opsi ekspor baru akan dipertimbangkan apabila seluruh kapasitas produksi sudah maksimal dan benar-benar melebihi daya serap pasar nasional.
Komitmen AMMAN ini secara tidak langsung melemparkan bola panas kembali ke pemerintah dan pelaku industri hilir nasional. Pasokan katoda tembaga sebesar 162 ribu ton dan produk sampingan berupa asam sulfat sebanyak lebih dari 570 ribu ton membutuhkan kesiapan infrastruktur penyerapan yang matang.
- Pasar Katoda Tembaga: Industri manufaktur kabel dan komponen elektronik dalam negeri harus mampu meningkatkan kapasitas produksinya agar katoda tembaga olahan AMMAN tidak menumpuk di gudang penyimpanan.
- Tantangan Asam Sulfat: Produksi asam sulfat dalam jumlah masif memerlukan sinergi erat dengan industri pupuk nasional (seperti PT Petrokimia Gresik) serta industri pengolahan nikel berbasis High Pressure Acid Leach (HPAL). Tanpa keterikatan kontrak jual-beli (offtaker) yang kuat di dalam negeri, komoditas cair berisiko tinggi ini dapat memicu kendala logistik dan lingkungan yang serius.
Jika rantai penyerapan industri hilir di dalam negeri belum siap menampung limpahan produksi tersebut, maka tujuan utama hilirisasi untuk menciptakan nilai tambah di dalam negeri berpotensi mengalami penyumbatan pasokan (supply bottleneck).
Maraton Hilirisasi yang Belum Selesai
Paparan terbuka Presiden Direktur PT AMNT di Senayan menegaskan satu realitas penting dalam industri pertambangan modern: hilirisasi bukan sekadar urusan meresmikan pabrik atau memotong pita seremonial. Hilirisasi adalah ujian daya tahan atas keandalan teknologi, ketepatan manajemen risiko, keselamatan kerja, serta keselarasan antara pasokan hulu dan kesiapan industri hilir.
AMMAN telah membuktikan kemampuannya bangkit dari kendala teknis operasional dan mengembalikan performa peleburan ke tingkat optimal. Target produksi 162 ribu ton katoda tembaga serta belasan ton emas pada 2026 menjadi bukti nyata kontribusi mereka terhadap transformasi ekonomi nasional.
Kini, keberhasilan utuh dari proyek megah di Sumbawa Barat ini bergantung pada kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, DPR, dan pelaku industri manufaktur harus bergerak bersama memastikan bahwa logam mulia dan bahan baku murni yang keluar dari tungku peleburan AMMAN benar-benar terserap oleh industri dalam negeri, memutar roda ekonomi nasional, dan membuktikan bahwa Indonesia mampu menjadi pemain utama industri mineral dunia. Pertaruhan sesungguhnya baru saja dimulai. (fan)


