BerandaHEADLINERehab SMAN 1 Gunungsari Direncanakan Bulan Ini

Rehab SMAN 1 Gunungsari Direncanakan Bulan Ini


Mataram (Suara NTB) – Rehabilitasi enam gedung di SMAN 1 Gunungsari direncanakan bulan Agustus 2026. Anggaran untuk revitalisasi bukan berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK), melainkan memiliki anggaran khusus yaitu revitalisasi satuan pendidikan yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).


Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, mengatakan revitalisasi ini dilaksanakan oleh sekolah tanpa lewat pihak ketiga. Anggaran untuk rehabilitasi juga dikirim langsung ke rekening sekolah.


“Tapi pada prinsipnya setiap persoalan pendidikan apapun itu baik sarana prasarana mutu layanan selama kita bisa tidak usah berlama-lama. Bisa dilaksanakan bulan ini, bulan Agustus,” ujarnya, Senin, 3 Agustus 2026.


Pihaknya sudah berkomunikasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk revitalisasi tersebut. Saat ini, tim dari Menteri dikatakan sedang melakukan pengecekan lapangan untuk mengetahui kondisi riil sekolah.


Di lain sisi, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, dan Kawasan Permukiman (PUPRKP), Lalu Kusuma Wijaya, mengatakan saat ini sebagian siswa SMAN 1 Gunungsari melaksanakan kegiatan belajar mengajar di ruangan yang tidak layak. Seperti kantin, lorong-lorong, dan lainnya. Untuk itu, ia berharap pusat segera menganggarkan agar revitalisasi segera dilakukan.


“Kalaupun itu segera diusulkan, realisasikan oleh Komisi X, ya sangat kita dukung supaya tidak terlalu lama juga siswa kita belajar di luar ruang kelas,” katanya.


Meski ruangan yang dijadikan tempat belajar dinilai kurang layak, Kusuma Wijaya mengaku pilihan penyegelan enam ruang kelas itu guna menghindari risiko-risiko yang bisa membahayakan siswa dan guru. “Sehingga kita coba untuk tidak digunakan terlebih dahulu ruang kelasnya. Dan harapan kami sih jangan lama-lama. Segera bisa dilakukan penanganan,” tambahnya.


Sementara, untuk sekolah-sekolah yang perlu perbaikan, Kadis PUPRKP itu mengaku masih melakukan assesmen. Sekolah yang merasa bangunannya sudah cukup tua diminta untuk melakukan asesmen secara mandiri, jika ditemukan ada situasi yang berpotensi membahayakan siswa, sekolah wajib melaporkan.


Diakuinya, rata-rata sekolah yang berusia 20 tahun, memiliki kondisi yang hampir sama. Bangunannya sudah memberikan tanda-tanda yang harus diwaspadai. Terakhir saat pengecekan di SMAN 1 Gunungsari terdapat enam kelas yang tidak direkomendasikan untuk digunakan.
“Saya tidak merekomendasikan untuk digunakan, nanti ambruk. Tidak ada korban saja kita kaget, apalagi ada korban,” ungkapnya.


Diakuinya, dinasnya mengalami keterbatasan untuk melakukan asesmen langsung, sehingga meminta sekolah secara mandiri melakukannya untuk mengamati visual dari bangunan tersebut. Barulah nanti setelah mendapatkan gambaran dari sekolah, tim penilai dari Dinas PUPRPKP untuk turun menilai langsung agar bisa dipastikan kondisi sekolah tersebut. (era)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO