Mataram (Suara NTB) – Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB mengungkapkan terdapat beberapa Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di provinsi ini mengalami kerusakan hingga 40 persen. Hal ini disampaikan setelah setiap sekolah melakukan asesmen untuk melakukan pendataan sekolah-sekolah mana saja yang butuh perbaikan.
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) NTB, Syamsul Hadi, mengatakan bangunan yang kerap kali rusak yaitu bangunan gedung, dan sejumlah ruangan kelas. Namun, untuk jumlah total sekolah yang membutuhkan perhatian, ia enggan membeberkan.
“Kerusakan 30-40 persen itu di masing-masing sekolah. Bukan jumlah sekolah yang rusak,” ujarnya, Jumat, 7 Agustus 2026.
Ia melanjutkan, sekolah rusak didominasi oleh sekolah negeri. sebagai contoh, sebuah sekolah yang memiliki 30 ruang belajar dengan 10 ruang mengalami kerusakan dapat dikategorikan memiliki tingkat kerusakan sekitar 30 persen.
“Artinya bukan 40 persen dari jumlah sekolah, tetapi persentase kerusakan pada gedung atau ruang di masing-masing sekolah,” lanjutnya.
Untuk memetakan kondisi bangunan sekolah, Dinas Dikpora NTB telah lebih dulu mengeluarkan surat edaran agar seluruh sekolah melakukan pemeriksaan fisik secara mandiri. Jika ditemukan kerusakan yang memerlukan penanganan segera, sekolah diminta berkoordinasi dengan dinas pekerjaan umum (PU) untuk dilakukan asesmen.
“Sudah ada surat edaran sejak lama. Sekolah harus memeriksa kondisi fisiknya, kemudian jika diperlukan langkah cepat, harus meminta PU melakukan asesmen,” jelasnya.
Menurutnya, hampir seluruh sekolah telah mengikuti proses asesmen. Hasil sementara menunjukkan tingkat kerusakan bangunan di sejumlah sekolah memang cukup tinggi. “Hampir semuanya sudah masuk asesmen. Tingkat kerusakannya memang cukup tinggi. Mudah-mudahan dalam dua sampai tiga tahun ini akan selesai semuanya,” katanya.
Di sisi lain, ia juga memastikan adanya dukungan pendanaan dari pemerintah pusat untuk percepatan rehabilitasi sekolah, khususnya sekolah-sekolah yang sudah tercatat dalam daftar perbaikan seperti SMAN 1 Gunungsari.
“Insyaallah dalam waktu dekat akan ada penandatanganan perjanjian kerja sama. Saat ini tim dari pusat masih melakukan analisis setelah pemeriksaan lapangan,” pungkasnya.
Terpisah, Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, mengatakan revitalisasi SMAN Gunungsari akan dilakukan bulan Agustus ini. Rehab dilaksanakan oleh sekolah tanpa lewat pihak ketiga dengan anggaran dikirim langsung oleh pusat ke rekening sekolah.
“Tapi pada prinsipnya setiap persoalan pendidikan apapun itu baik sarana prasarana mutu layanan selama kita bisa tidak usah berlama lama. Bisa dilaksanakan bulan ini, bulan Agustus,” katanya.
Ia melanjutkan, pihaknya sudah berkomunikasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk revitalisasi tersebut. Saat ini, tim dari Menteri dikatakan sedang melakukan pengecekan lapangan untuk mengetahui kondisi riil sekolah.
Di lain sisi, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, dan Kawasan Permukiman (PUPRKP), Lalu Kusuma Wijaya, mengatakan saat ini sebagian siswa SMAN 1 Gunungsari melaksanakan kegiatan belajar mengajar di ruangan yang tidak layak. Seperti kantin, lorong-lorong, dan lainnya. Untuk itu, ia berharap pusat segera menganggarkan agar revitalisasi segera dilakukan.
“Kalaupun itu segera diusulkan, realisasikan oleh Komisi X, ya sangat kita dukung supaya tidak terlalu lama juga siswa kita belajar di luar ruang kelas,” katanya.
Meski ruangan yang dijadikan tempat belajar dinilai kurang layak, dirinya mengaku pilihan pensegelan enam sekolah itu guna menghindari risiko-risiko yang bisa membahayakan siswa dan guru. “Sehingga kita coba untuk tidak digunakan terlebih dahulu ruang kelasnya. Dan harapan kami sih jangan lama-lama. Segera bisa dilakukan penanganan,” pungkasnya. (era)

