PENGADAAN seaplane atau pesawat amfibi pertama di NTB yang akan mendarat di Bendungan Batujai, Lombok Tengah hingga kini masih berproses di sejumlah kementerian. Meski sempat ditarget akan beroperasi perdana pada April 2026 lalu, pengadaan seaplane ini masih terkendala Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal).
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) NTB, Irnadi Kusuma, mengatakan pengadaan seaplane di NTB tidak hanya mengurus satu izin. Melainkan perlu adanya persetujuan dari sejumlah kementerian, seperti Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Perhubungan, Kementerian Pekerjaan Umum, hingga terakhir di Kementerian Investasi.
“Itu kompleks perizinannya, jadi kita tidak hanya berbicara bagaimana izin usahanya, tetapi juga izin bagaimana mereka dengan perhubungan udara,” ujarnya pekan kemarin.
Selain mengurus Amdal, izin seaplane NTB juga sedang berproses di Kemenhub untuk mengetahui bagaimana kelayakan pesawat air ini beroperasi membawa penumpang. Karena investor seaplane ini merupakan Penanaman Modal Asing (PMA), Irnadi mengaku seluruh proses perizinan berada di bawah kewenangan pusat.
Sementara, Pemprov NTB hanya berperan dalam evaluasi dan monitoring sea plane tersebut. Monev yang dilakukan oleh Pemprov NTB dimulai sejak awal PMA ini tertarik membangun seaplane di NTB, hingga dengan pesawat itu benar-benar beroperasi.
“Ketika sudah mulai berjalan, setiap fase itu kan kita dilibatkan untuk monev. Sekarang sedang bersamaan prosesnya di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Perhubungan,” ungkapnya.
Seaplane perdana di NTB ini dikelola oleh PT Abadi Mega Angkutan Nusantara (AMAN) dan akan mendarat di Bendungan Batujai, Lombok Tengah. Dengan tujuan Gili Balu Kabupaten Sumbawa Barat, Teluk Saleh di Kabupaten Sumbawa, Satonda di Kabupaten Bima, Gili Tramena di Lombok Utara dan Kawasan Mandalika.
Alasan memilih Bendungan Batujai untuk landasan seaplane ini, agar lebih dekat dengan bandara. Sehingga ketika wisatawan datang ke Lombok dan ingin mengunjungi pulau-pulau tersebut, bisa langsung diantar menggunakan seaplane.
Irnadi juga mengatakan proses pengadaan pesawat air ini masih berproses di pusat. Menyinggung soal kesiapan lokasi pendaratan, ia mengaku sejak akhir tahun 2025 lalu Pemkab Loteng sudah bersiap untuk membangun tempat mendarat dengan mengusung konsep alam. Rencananya, akan dibangun ruang tunggu penumpang menggunakan bambu.
“Semua dari konsep alam, dari bambu, kayu, itu untuk fasilitas penumpang menunggu juga. Ada semacam lounge,” jelasnya.
Rute seaplane ini akan menghubungkan antar destinasi wisata di Bali dan Lombok. Ke depannya, akan terhubung juga dengan destinasi yang ada di NTT, sesuai dengan kesepakatan pada Kerja Sama Regional Bali, NTB, dan NTT.
“Iya tergantung nanti di mana destinasi yang disepakati. Makanya kita sedag mencoba menambah destinasinya,” ujarnya. (era)

