Selong (Suara NTB) – Upaya mengembalikan kejayaan kopi Arabika Sembalun mulai digerakkan dari hulu. Bukan hanya soal menanam dan memperbanyak bibit, tetapi membangun sistem pertanian yang sehat, berkelanjutan, mandiri dalam input, hingga mampu meningkatkan nilai ekonomi petani.
Ikhtiar ini dilakukan melalui Program Profesor Berdampak yang memasuki kegiatan lanjutan ketiga dan keempat di kawasan Agrowisata Sembalun, Lombok Timur, 8–9 Agustus 2026.
Program bertema “Melalui Program Profesor Berdampak Kita Tingkatkan Sinergitas untuk Membangun Pertanian Terpadu Berkelanjutan di Kawasan Agrowisata Sembalun” itu dipimpin Prof. M. Sarjan, M.Agr.CP., Ph.D., dengan melibatkan sejumlah perguruan tinggi dan mitra lokal.
Di antaranya Universitas Hamzanwadi, Universitas 45 Mataram, Universitas Muhammadiyah Mataram, SMKPP Negeri Mataram, serta kelompok pemuda lokal Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN).
Yang menarik, langkah awal yang dipilih para profesor bukan memberikan teori kepada petani. Mereka justru mendengar langsung persoalan yang dihadapi masyarakat.
Dalam diskusi hari pertama, tim menghadirkan petani maju senior, petani muda, anggota Kelompok Wanita Tani dan pengurus BPAN. Persoalan kopi dan sejumlah komoditas unggulan Sembalun dibedah dari perspektif petani sendiri.
Ketua Tim Program Profesor Berdampak, Prof. M. Sarjan, mengatakan petani merupakan pihak yang paling mengetahui persoalan di lapangan.
“Yang merasakan dan mengetahui masalah selama budidaya dan usaha tani adalah petani sendiri. Kami dari berbagai bidang datang mendengarkan dan bersama-sama mencari solusi terbaik yang bisa dilakukan,” ujarnya.
Pendekatan ini sekaligus membuka ruang bagi petani menyampaikan persoalan, gagasan dan harapan terkait keberlanjutan program.
Menghidupkan Kembali Kopi Arabika Sembalun
Salah satu harapan kuat datang dari tokoh petani H. Ruspaini. Ia berharap Program Profesor Berdampak mampu membantu petani membangun pertanian berbasis budidaya tanaman sehat, khususnya kopi.
Ia juga mengajak komunitas petani Sembalun bersama-sama mengembalikan kejayaan kopi Arabika asli Sembalun.
Menurut dia, langkah bisa dimulai dengan memperbanyak pembibitan sejak sekarang, terlebih Unram telah membawa program yang secara khusus memberi perhatian pada komoditas kopi.
Harapan serupa disampaikan Ustaz Qudus. Ia mengaku senang dapat berinteraksi langsung dengan para profesor dan berharap petani ikut aktif mendukung program tersebut.
Tak hanya menyampaikan gagasan, Qudus bahkan telah mulai bergerak.
Bersama mahasiswa KKN Unram, ia berinisiatif melakukan pembibitan sekitar 20 ribu pohon kopi untuk disiapkan ditanam pada musim hujan berikutnya.
Petani Minta Pendampingan Tak Berhenti di Hulu
Petani milenial Akbar mengingatkan agar program pengembangan kopi tidak berhenti pada persoalan budidaya.
Penerapan Good Agricultural Practices (GAP), menurut dia, membutuhkan panduan teknis yang sederhana dan mudah diterapkan petani.
Ia berharap Unram dapat membantu menyusun SOP sebagai pedoman penerapan GAP pada tanaman kopi.
Lebih dari itu, petani juga membutuhkan pendampingan di sektor hilir, terutama pengolahan dan pemasaran.
“Program ini jangan hanya pada kegiatan di hulu. Kami juga perlu dibantu bagaimana masalah di hilir, seperti processing dan pemasaran. Tolong kami diberikan juga panduan sederhana terkait masalah perkopian di hilir,” ujarnya.
Artinya, upaya mengembalikan kejayaan kopi Sembalun tidak cukup hanya dengan memperbanyak tanaman. Petani juga harus memiliki kemampuan menghasilkan produk berkualitas, mengolah hasil panen dan memperoleh akses pasar yang lebih baik.
Strawberry Didorong Lebih Aman
Diskusi juga berkembang pada komoditas lain yang menjadi daya tarik Agrowisata Sembalun, yakni strawberry.
Perwakilan BPAN, Endo, yang selama ini fokus pada pengembangan kopi, mengusulkan adanya inovasi penggunaan input nonkimia, baik pupuk maupun pestisida, untuk budidaya strawberry.
Hal ini dinilai penting karena strawberry Sembalun banyak dikembangkan dalam konsep wisata petik sendiri dan dikonsumsi langsung di lokasi.
“Kalau produk seperti strawberry dikonsumsi segar, mestinya ada jaminan aman dikonsumsi,” ujarnya.
Gagasan tersebut sejalan dengan konsep pertanian sehat yang ingin dikembangkan melalui Program Profesor Berdampak.
Tim mendorong pemanfaatan bahan baku lokal untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap input dari luar. Limbah pertanian dan peternakan dapat diolah menjadi pupuk organik, sementara agen hayati dapat diproduksi secara mandiri.
Petani komoditas segar juga didorong mulai mengurus sertifikasi Prima 3 sebagai salah satu bentuk jaminan keamanan pangan produk segar.
Dengan sertifikasi dan pelabelan tersebut, produk diharapkan memiliki nilai tambah dan peluang memperoleh harga lebih baik di pasar.
Kearifan Lokal Dipadukan Teknologi
Persoalan pertanian berkelanjutan di Sembalun ternyata tidak hanya berkaitan dengan teknologi.
Dalam diskusi, muncul pula pentingnya mempertahankan kearifan lokal, termasuk penentuan jadwal tanam dan tradisi gotong royong yang masih hidup di tengah masyarakat.
Namun, modernisasi dan digitalisasi perlahan mengubah praktik tersebut.
Karena itu, tim mendorong model pertanian yang tidak meninggalkan kearifan lokal, tetapi memadukannya dengan intervensi teknologi modern.
Kearifan lokal menjadi fondasi, sementara teknologi menjadi penguat.
Pendekatan itu dinilai penting agar pembangunan pertanian Sembalun tidak kehilangan karakter sosial dan budaya masyarakat setempat.
Dari Diskusi Langsung Praktik di Kebun
Komitmen Program Profesor Berdampak tidak berhenti di ruang diskusi.
Tim Unram yang terdiri atas Prof. Taufik Fauzi, Prof. Ruth Stella, Prof. Aluh Nikmatullah, Prof. Yusron Saadi, Prof. Sulhaeni dan Ir. Hery Haryanto, M.Si., sepakat melanjutkan pendampingan langsung kepada petani.
Fokusnya mencakup penerapan GAP pada kopi dan budidaya sehat untuk berbagai komoditas unggulan, termasuk produk yang dikonsumsi segar seperti strawberry.
Setelah diskusi, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan pupuk organik yang diperkaya agen hayati Trichoderma cair.
Tim juga memperagakan pembuatan pestisida berbahan lokal dari daun paitan sebagai alternatif untuk mengurangi penggunaan pestisida kimia.
Pada hari kedua, Minggu (9/8/2026), pendampingan masuk ke tahap praktik penerapan GAP di lapangan. Tim bersama petani melakukan pemberian pupuk organik berbahan kotoran kambing pada kebun kopi mitra, yakni kebun milik Asel Norman Tanjung dan Amaq Azrin.
Kolaborasi Diperluas
Program ini juga mendapat dukungan dari perguruan tinggi mitra.
Universitas Hamzanwadi melalui Prof. Khirjan Nahdi, Universitas 45 Mataram melalui Ir. Baharudin, MP., dan Universitas Muhammadiyah Mataram melalui Budi Wiryono, SP., M.Si., menyatakan kesiapan mendukung kolaborasi pendampingan petani Sembalun.
Kepala SMKPPN Mataram, Sugiarta, S.Pi.,M.Pd.,M.Si., yang saat ini menempuh program doktor di Pascasarjana Unram, juga menyatakan dukungan, termasuk dalam penyediaan tenaga kompetensi dan fasilitas laboratorium, khususnya laboratorium kultur jaringan.
Dukungan turut datang dari LSPB Mataram dan MAPORINA NTB yang menyatakan kesiapan terlibat aktif dalam program kolaborasi tersebut.
Dengan pola kolaborasi lintas perguruan tinggi, komunitas dan petani, Program Profesor Berdampak diharapkan tidak berhenti sebagai program akademik.
Targetnya lebih jauh: membangun ekosistem pertanian Sembalun yang sehat, mandiri dan berkelanjutan.
Dan untuk kopi Arabika Sembalun, langkah itu dimulai dari hal paling dasar: bibit, budidaya yang benar, tanah yang sehat, pengolahan yang baik, hingga pasar yang mampu memberi nilai lebih kepada petani.(bul)

