BerandaPENDIDIKANLiterasi-Numerasi Masih Jadi PR di NTB

Literasi-Numerasi Masih Jadi PR di NTB

- Advertisement -

Mataram (Suara NTB) – Peningkatan kualitas pendidikan di Nusa Tenggara Barat (NTB) terus digenjot. Fokus utamanya adalah memperkuat kemampuan literasi, numerasi serta pembentukan karakter peserta didik.

Kepala KCD Dikpora Wilayah I NTB, Purni Susanto menyebut, peningkatan literasi dan numerasi masih menjadi pekerjaan rumah (PR) besar dunia pendidikan di NTB. Pasalnya, capaian daerah ini masih berada di bawah rata-rata nasional sehingga membutuhkan perhatian dan strategi khusus.

“Peningkatan numerasi merupakan salah satu PR terbesar kita. Literasi dan numerasi saat ini masih berada di bawah garis rata-rata nasional. Ini tugas kita dalam meningkatkan kualitas literasi dan numerasi peserta didik,” kata Purni.

Ia menjelaskan, peningkatan kemampuan akademik siswa tidak bisa dilepaskan dari kualitas proses pembelajaran di sekolah. Karena itu, guru dituntut tidak hanya hadir mengajar, tetapi mampu memberikan pembelajaran yang terencana, berkualitas dan berorientasi pada peningkatan kompetensi siswa.

“Masalah kualitas pembelajaran, guru-guru jangan sampai ada banyak jam kosong. Jangan sampai guru mengajar tapi kemudian asal-asalan. Guru harus mengajar dengan penuh dedikasi, penuh perencanaan, punya target, punya tujuan, dan berkualitas. Ini tentu akan berdampak langsung terhadap kualitas siswa-siswi kita,” tegasnya.

Selain penguatan akademik, KCD Wilayah I juga memberikan perhatian besar terhadap pengembangan karakter peserta didik. Purni menilai derasnya arus informasi saat ini menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda.

Menurutnya, sekolah harus menjadi benteng dalam membangun karakter agar peserta didik tidak mudah terpengaruh oleh berbagai informasi negatif yang dapat mengikis nilai budaya dan sopan santun.

“Dengan adanya godaan informasi yang luar biasa masuk ke kepala anak-anak kita, situasi yang sangat terbuka ini menyebabkan semacam virus sampah yang masuk. Maka hal-hal negatif itu perlu dinetralisir dengan pengembangan karakter di sekolah,” ujarnya.

Penguatan karakter tersebut, lanjut Purni, dapat dilakukan melalui berbagai program seperti penguatan nilai keagamaan, literasi kitab suci, kedisiplinan, hingga kegiatan yang melatih kejujuran dan tanggung jawab siswa.

Ia mencontohkan konsep kebun kejujuran sebagai salah satu inovasi pembinaan karakter yang dapat diterapkan di sekolah. Konsep ini mirip dengan kantin kejujuran. Artinya, siswa dilatih untuk bertanggung jawab tanpa pengawasan langsung.

“Kebun kejujuran ini dalam rangka melatih anak-anak bekerja, mendisiplinkan diri dan membina mental serta spiritualitas mereka. Misalnya, siswa yang terlambat datang ke sekolah bisa ikut membersihkan atau menyiram tanaman. Ini bagian dari pembentukan karakter,” jelasnya.

Selain itu, pihaknya juga mendorong sekolah menciptakan budaya sekolah aman dan nyaman. Program tersebut bertujuan memastikan lingkungan pendidikan terbebas dari berbagai bentuk kekerasan, baik fisik maupun verbal.

“Budaya sekolah aman dan nyaman ini tujuannya agar sekolah-sekolah kita terbebas dari kekerasan. Anak-anak bisa tumbuh aman, nyaman, memiliki karakter yang baik, spiritualitas yang baik, dan mental yang sehat,” katanya.

Untuk mendukung program tersebut, sekolah didorong membentuk tim atau satuan tugas (satgas) sekolah aman dan nyaman yang bertugas melakukan pengawasan serta mengambil langkah apabila ditemukan pelanggaran.

Di sisi lain, peningkatan kompetensi guru juga menjadi perhatian utama. Ia meminta para pendidik terus mengembangkan kemampuan melalui berbagai kegiatan berbagi praktik baik dan pembelajaran antarguru. Purni mengatakan, program hari belajar guru harus dimanfaatkan secara maksimal sebagai ruang peningkatan kualitas tenaga pendidik.

“Hari belajar guru harus menjadi hari di mana mereka saling berbagi ilmu, berbagi praktik baik, membangun jaringan kerja sama, dan terus belajar dari guru-guru lainnya,” ujarnya.

Ia berharap peningkatan kompetensi guru tersebut mampu memberikan dampak langsung terhadap motivasi belajar siswa hingga hasil belajar, terutama dalam mengejar ketertinggalan capaian literasi dan numerasi.

“Praktik baik melalui program hari belajar guru ini diharapkan membuat guru semakin semangat meningkatkan kualifikasi kemampuan mengajar dan strategi pembelajarannya. Pada akhirnya akan berdampak terhadap semangat belajar siswa, motivasi belajar siswa, dan hasil belajar siswa,” pungkasnya (sib).

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN











VIDEO