Selong (Suara NTB) – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Patuh Karya milik Pemerintah Kabupaten Lombok Timur (Lotim) yang ada di wilayah Kecamatan Keruak kini sudah lima tahun beroperasi. Sejauh ini, sudah bisa mendatangkan Rp1,2 miliar pendapatan per tahun. Hanya saja, sebagian besar pendapatan itu diperuntukkan untuk menutupi operasional.
Direktur Utama RSUD Patuh Karya Lotim, Qomarul Huda kepada Suara NTB belum lama ini menyebutkan jumlah tenaga kesehatan yang bekerja 277 orang. Dari jumlah itu, 199 merupakan PPPK Paruh Waktu. Ada juga tenaga yang diangkat lewat Surat Keputusan (SK) Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).
“Upah dan operasional dari tenaga itu yang harus ditanggung oleh rumah sakit. Sehingga dana Rp1,2 miliar habis bayar gaji, intensif tenaga kesehatan dan operasional lainnya,” ucapnya.
Menurut Direktur, rumah sakit patuh karya baru bisa normal keuangannya ketika sudah bisa tembus pendapatan sekitar Rp1,6 miliar. Jumlah ini sedang dicoba capai sehingga ke depan bisa merencanakan bangunan tambahan.
Menurut Qomarul Huda, seandainya semua layanan bisa masuk, maka diyakini target pendapatan lebih besar bisa dicapai. Seperti layanan media mata dengan alkesnya juta layanan penyakit saraf dan lainnya.
RSUD yang sudah menjadi BLUD ini terus berbenah. Sejauh ini diakui belum bisa dibilang susah bisa berdiri sendiri tanpa ikut campur Pemda dalam pembiayaan. “Masih tetap disuntik dana oleh Pemda Lotim untuk memenuhi kebutuhan obat dan bahan habis pakai,” imbuhnya
Di tengah masih banyaknya keterbatasan, diyakinkan tetap akan memberikan yang terbaik untuk pelayanan. Pelayanan dasar sendiri saat ini semua terpenuhi sesuai standar. Empat dokter spesialis penentuan dan tiga dokter spesialis penunjang sudah ada. Seperti spesialis penyakit dalam, spesialis anak dan kandungan serta spesialis bedah. Penunjang sudah ada radiologi, dan anestesi. Nambahagi ke depan spesialis jiwa.
RSUD Patuh Karya Keruak ini saat ini memiliki tempat tidur 57 tempat tidur. Tahun 2027 diupayakan bisa bertambah jadi 100 unit.
Rumah sakit daerah yang wilayah kerjanya di Lotim bagian selatan ini juga sudah menerima layanan Kepesertaan BPJS Kesehatan. Hanya saja masih ada juga pasien yang tidak ter-cover BPJS Kesehatan sehingga harus bayar lewat jalur umum, seperti kasus-kasus kecelakaan lalu lintas.
“Kadang masyarakat itu kendalanya, kita coba usahakan bantu agar bisa diurus lewat Jasa Raharja pembayaran tanggungannya, akan tetapi masyarakat banyak yang malas mengurusnya,” ucapnya. (rus)


