KETUA DPRD Provinsi NTB, Hj Baiq Isvie Ruapaeda didampingi Wakil Ketua, pimpinan Komisi dan Fraksi turun meninjau Dusun Adat Sade di Desa Rambitan, Kabupaten Lombok Tengah yang terkena bencana kebakaran hebat hingga menghanguskan ratusan rumah adat milik warga, Kamis (27/8).
Dalam kunjungan itu, Baiq Isvie berdialog langsung dengan warga yang menjadi korban. Dia mendengarkan langsung apa yang menjadi harapan dan aspirasi warga Dusun Adat Sade yang rumahnya ludes terbakar. Terutama terkait dengan rencana pembangunan kembali rumah adat Sade.
“Ya mereka (warga) menyampaikan ingin cepat-cepat kembali. Karena itu kami dari DPRD mendorong agar pemerintah segera mempercepat proses penambangan kembali rumah-rumah warga,” ujar Isvie yang dikonfirmasi di sela-sela kunjungan.
Namun demikian Isvie juga meminta masyarakat untuk bersabar, sebab proses pembangunan membutuhkan waktu dan perencanaan. Karena itu dia mendorong pemerintah agar proaktif membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat agar proses pembangunan rumah-rumah adat Sade bisa berjalan dengan baik dan lancar.
“Ya tentu pemerintah harus mendengarkan apa yang menjadi aspirasi masyarakat. Begitu juga sebaliknya masyarakat juga harus bisa memahami, tidak bisa serta merta langsung dilakukan pembangunan. Karena itu saya kira harus ada kompromi (komunikasi) yang baik antara pemerintah dengan masyarakat,” ucap Isvie.
Politisi Partai Golkar itupun mengusulkan agar proses pembangunan kembali rumah-rumah adat Sade tersebut tidak menggunakan jasa arsitektur dari luar. Namun pembangunan dilakukan sendiri oleh masyarakat yang lebih memahami konsep-konsep rumah adat suku Sasak itu.
“Saya kira pemerintah cukup siapkan dan sediakan bahan-bahannya. Nanti masyarakat sendiri yang membangun. Karena yang lebih tahu konsepnya ya mereka sendiri, kalau pakai arsitek luar nanti belum tentu sesuai,” ujar Isvie.
Namun demikian terlepas dari itu, Isvie tetap menekankan bahwa dalam proses pembangunan kembali rumah-rumah adat di Sade tersebut. Harus tetap memperhatikan kesiapan mitigasi bencana, agar keberadaan rumah adat Sade ke depannya lebih sigap dalam mengantisipasi potensi bencana ke depannya.
“Masyarakat memang meminta segera dilakukan pembangunan. Tapi mereka mau buat sesuai dengan konsep sendiri, karena mereka mau rumah yang langsung bisa dipakai untuk berjualan juga. Tapi yang paling penting dari itu adalah mitigasi bencananya,” tekan Isvie.
Terakhir Isvie pun menegaskan bahwa untuk memastikan proses pembangunan kembali dusun Adat Sade itu. Dia akan segera melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah dan pihak-pihak terkait agar masyarakat segera mendapat kepastian. (ndi)


