BAGAIMANA manusia menemukan cinta sebelum internet hadir? Dahulu, pertemuan bisa bermula dari lingkungan pertemanan, keluarga, sekolah, atau tempat kerja. Ada pula yang berkenalan secara langsung, kemudian menjaga komunikasi melalui surat-menyurat. Semuanya berlangsung melalui proses mengenal, menunggu, dan membangun kedekatan secara perlahan. Sangat organik.
Kini, cara tersebut berubah. Kehadiran telepon pintar, media sosial, aplikasi percakapan, dan aplikasi kencan membuat manusia semakin mudah menemukan orang baru. Seseorang bahkan dapat mengenal orang lain yang berada ribuan kilometer jauhnya hanya melalui layar.
Perubahan itulah yang menjadi salah satu persoalan menarik dalam buku Cinta dan Seks di Era Digital karya Ester Pandiangan.
Ester tidak hanya membicarakan cinta sebagai sesuatu yang romantis. Ia mengajak pembaca melihat bagaimana teknologi memengaruhi cara manusia membangun relasi, memahami kedekatan, hingga memandang seksualitas. Tema tersebut terasa relevan karena kehidupan manusia saat ini hampir tidak dapat dipisahkan dari ruang digital.
Berdasarkan deskripsi buku, Ester membandingkan cara generasi sebelumnya membangun hubungan melalui pertemuan langsung dengan kondisi saat ini ketika teknologi memungkinkan seseorang berkenalan dengan orang dari berbagai tempat tanpa harus bertatap muka terlebih dahulu. Perubahan itu pada akhirnya turut memengaruhi cara masyarakat memaknai hubungan romantis.
Salah satu kekuatan buku setebal 199 halaman ini terletak pada kemampuannya menangkap fenomena yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Media sosial memungkinkan seseorang mengetahui berbagai sisi kehidupan orang lain bahkan sebelum benar-benar mengenalnya.
Foto, unggahan, komentar, pesan pribadi, hingga aktivitas di media sosial dapat menjadi pintu masuk sebuah hubungan. Perasaan dapat tumbuh melalui percakapan virtual. Kedekatan emosional pun dapat terbentuk meski dua orang belum pernah bertemu secara langsung.
Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan persoalan baru. Identitas seseorang di dunia maya belum tentu sepenuhnya menggambarkan dirinya di dunia nyata. Apa yang terlihat di media sosial sering kali hanya bagian tertentu dari kehidupan yang sengaja dipilih untuk diperlihatkan.
Karena itu, hubungan yang dimulai dari ruang digital membutuhkan kemampuan untuk membedakan kenyataan dan representasi. Pembaca diajak menyadari bahwa mengenal seseorang melalui layar tidak selalu sama dengan mengenalnya dalam kehidupan nyata.
Pembahasan mengenai seksualitas menjadi bagian lain yang menarik dalam buku ini. Seks masih menjadi topik yang kerap dianggap tabu untuk dibicarakan secara terbuka. Ester Pandiangan justru banyak mengangkat persoalan seksualitas dan relasi dalam karya-karyanya.
Beberapa karya sebelumnya antara lain Akibat Menabukan Seks (2020), Sebab Kita Semua Gila Seks (2021), Maaf, Orgasme Bukan Hanya Urusan Kelamin(2022), dan Seks Kita Memang Perlu Dibantu (2024).
Dalam konteks digital, persoalan seksualitas menjadi semakin kompleks. Informasi mengenai seks dapat ditemukan dengan mudah melalui internet. Namun, kemudahan memperoleh informasi tidak selalu diikuti kemampuan untuk memahami, menyaring, dan memverifikasi kebenarannya.
Ruang digital juga membuat persoalan privasi semakin penting. Percakapan pribadi, foto, video, dan informasi mengenai hubungan dapat menjadi jejak digital yang sulit dihapus. Sesuatu yang awalnya dibagikan kepada orang lain dalam situasi penuh kepercayaan dapat menimbulkan konsekuensi berbeda ketika tersebar ke ruang yang lebih luas.
Karena itu, pembahasan dalam buku ini tidak berhenti pada seks sebagai aktivitas fisik. Ada persoalan yang lebih luas, seperti relasi, kepercayaan, komunikasi, batas pribadi, privasi, dan tanggung jawab.
Latar belakang Ester sebagai alumnus FISIP Universitas Sumatera Utara jurusan Jurnalistik juga turut memengaruhi cara ia mengangkat isu tersebut. Pengalamannya dalam menulis persoalan seksualitas terlihat dari upayanya membawa tema yang sensitif menjadi pembahasan yang lebih mudah didekati pembaca.
Keberanian mengangkat tema yang sering dihindari menjadi salah satu kelebihan buku ini. Seks tidak semata-mata ditempatkan sebagai sesuatu yang tabu, tetapi sebagai bagian dari kehidupan manusia yang perlu dibicarakan secara terbuka, sehat, dan bertanggung jawab.
Tema digital membuat buku ini semakin relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini. Bagi generasi yang sehari-hari hidup bersama media sosial dan teknologi komunikasi, persoalan yang dibahas bukan sesuatu yang jauh. Sebaliknya, pembaca dapat menemukan banyak situasi yang dekat dengan pengalaman sehari-hari.
Buku ini layak dibaca oleh pembaca yang ingin memahami perubahan hubungan manusia di tengah perkembangan teknologi digital. Meski demikian, karena mengangkat pembahasan mengenai seksualitas, buku ini lebih tepat dibaca dengan pendampingan dan pertimbangan usia bagi pembaca di bawah umur. (Pandi Apriadi)
Judul: Cinta dan Seks di Era Digital
Penulis: Ester Pandiangan
Penerbit: Warning Books
Tahun terbit: 2026
Tebal: 199 halaman
ISBN: 978-623-5879-19-2


