SETELAH mungkin merasa sukses dengan Bird Box (2018) dan Leave the World Behind (2023), Netflix kembali membuat film sejenis berjudul The Last House tahun ini. Sebuah film apokalips (kiamat) nanggung yang agaknya membangkitkan ingatan kita tentang “lockdown” era pandemi Covid-19.
Menceritakan sebuah keluarga yang terjebak di rumahnya selama lima tahun lebih karena hujan yang tak kunjung henti, yang juga mengunci segala pintu keluar dari rumah itu—The Last House mencoba gagah datang sebagai film survival yang sepertinya begitu mudah untuk dilupakan.
Diperankan Greta Lee (Ann) dan Wagner Moura (Jason) sepasang suami istri yang memiliki dua orang anak Ruth dan Graham, film ini mencoba untuk mengikuti jejak A Quiet Place (2018). Semacam ingin memberikan tensi ketegangan lewat cara bertahan hidup keluarga tersebut. Alih-alih ingin menunjukkan pergolakan drama bertahan hidup, film yang selama 110 menit hanya menampilkan keluarga Jason ini malah terasa hambar.
Bayangkan, sepanjang film kita hanya mengikuti satu keluarga, tetapi rasa empati terhadap mereka tak kunjung terasa. Apalagi saat kalimat “5 tahun kemudian” muncul di tengah layar. Penonton tidak mendapat apa-apa selain Jason yang sangat ingin didambakan sebagai juru selamat keluarganya.
Latar tempat pada film ini hanya di rumah Jason dan Ann, dan kita hanya mengikuti keluarga mereka. Namun, keterikatan emosi antara anak dan ayah atau ibunya tidak benar-benar terbangun. Bahkan ketika Ruth, anak perempuan keluarga ini, berada di ambang kematian, kefrustrasian Jason dan Ann sebagai orang tua terasa berlalu begitu saja.
Mungkin tidak perlu menyalahkan akting para aktornya atas film yang begitu kurang ini. Sedari awal, naskah film ini memang sudah dangkal. Agaknya mirip jikalau kamu meminta akal imitasi (AI) untuk membuat skripnya. Greta Lee harusnya tidak menyia-nyiakan kekaguman penonton pada dirinya lewat Past Lives (2023) dengan memilih naskah film ini sebagai projek selanjutnya.
Sepertinya ada dua cara untuk membuat sebuah film apokalips banyak disukai penonton. Yang pertama, buat film itu banyak berkutat dengan drama antar tokohnya. Atau kedua, buat filmnya spektakel penuh aksi. Film ini tentu sudah gagal menggunakan cara yang pertama. Apalagi yang kedua.
Dibuka dengan kalimat sok misterius tentang bagaimana bumi sejatinya adalah lautan. Matthew Robinson (penulis) dan Louis Leterrier (sutradara) seolah menjanjikan sesuatu yang besar. Kita mungkin berharap lebih dengan premis itu. Bukan hanya mendapati bahwa manusia di bumi tak bisa keluar dari rumahnya karena hujan mengunci rumah mereka. Dan monster raksasa yang merupakan makhluk purba (yang diketahui di akhir film).
Perjumpaan dengan si monster secara langsung juga berlangsung singkat. Aksi perlawanan keluarga Jason yang harusnya terlihat heroik dalam beberapa momen justru terasa konyol.
Mungkin kreator film ini sengaja menaruh begitu banyak plot hole supaya terkesan misterius karena mereka merencanakan adanya sekuel (terlihat dari ending filmnya). Meskipun seharusnya film ini berhenti sampai di sini, tapi Netflix agaknya suka meneruskan sebuah film atau serial dengan kualitas serba nanggung begini.
Sepertinya kita lebih berharap film ini tayang di tahun 2012 untuk menambah koleksi film “popcorn” soal kiamat. (Mita)
Judul: The Last House
Sutradara: Louis Leterrier
Rumah Produksi: Netflix
Durasi: 110 menit
Tahun: 2026


