_Di tengah maraknya isu negatif yang mengancam generasi muda, seperti narkoba, pernikahan dini, seta kasus kenakalan remaja lainnya seorang kader posyandu di Kelurahan Rakam, Kecamatan Selong, Lombok Timur, tak tinggal diam. Rina Astuti, kader Posyandu Pelangi Rinjani di Lingkungan Bagik Lunggek Barat, melahirkan sebuah inovasi bernama “Kerabat” (Kelas Remaja Hebat) untuk menarik minat remaja datang ke posyandu._
ATAS dedikasi dan inovasinya ini, Rina Astuti baru-baru ini diganjar hadiah umrah dari Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, dan didaulat sebagai kader posyandu terbaik di Provinsi NTB. Rina menjadi kader posyandu sejak sejak 2019 lalu. Menjadi kader merupakan panggilan jiwa.
Rina mengaku ide ini lahir dari kegelisahan. “Kita berangkat dari masalah. Sekarang kan Posyandu sudah ILP (Integrasi Layanan Primer) yang melayani seluruh siklus hidup, mulai dari ibu hamil, bayi, balita, anak sekolah, remaja, dewasa, hingga lansia. Tapi untuk kehadiran remaja itu kurang,” ujarnya, menjawab Suara NTB, Jumat (21/8/2026).
Selama tujuh tahun menjadi kader, Rina bersama dengan rekannya sering melaporkan capaian nol untuk sasaran remaja ke puskesmas. “Kalau kita terus-terusan seperti itu, nggak ada sasaran yang hadir. Selalu malu kita mengirimkan laporan capaiannya nol ke puskesmas. Dari sana kita mikir, gimana ya?” kenangnya.
Kekhawatiran akan lingkungan yang tidak kondusif juga menjadi pendorong. “Isu lingkungan kita, misalnya gebrakan dari Polisi, Pol PP soal penggerebekan narkoba, itu menjadi kekhawatiran kita. Kita mau ubah gimana caranya biar generasi berikutnya di Bagik Lunggek ini tidak terjerumus ke isu-isu sosial negatif,” tegas Rina.
Berbekal tekad tersebut, Rina menggagas “Kerabat” pada tahun 2024. Berbeda dengan posyandu umumnya yang digelar pagi, kegiatan ini khusus diadakan di sore hari agar tidak mengganggu jam sekolah remaja.
Untuk menarik minat, Rina berkolaborasi dengan lintas sektor. Mereka menghadirkan Duta Genre untuk memberikan edukasi pencegahan perkawinan anak, serta mengadakan seminar parenting dengan psikolog Ustaz Lalu Yulhaidir sebagai narasumber. Pihak puskesmas juga dilibatkan untuk memberikan fasilitas kesehatan berupa screening anemia. Kerjasama juga digelar bersama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana.
“Tujuannya untuk mencegah stunting sejak hulu. Kita persiapkan adik-adik remaja menjadi sehat, cerdas, produktif, unggul, dan berprestasi untuk menyongsong Generasi Indonesia Emas 2045,” jelas Rina.
Hasilnya pun mulai terlihat. Awalnya hanya hanya dua sampai tiga orang saja yang hadir, kini jumlahnya bertumbuh menjadi 25 hingga 30 remaja aktif. “Yang semula dari beberapa orang sasaran, terus bertambah jadi sepuluh, terus lima belas, dua puluh, dua puluh lima. Sampai bulan kemarin nambah lagi jadi tiga puluh orang,” paparnya bangga.
Keberhasilan ini tak lepas dari peran para remaja yang saling mengajak temannya. “Setelah mereka ikut kegiatan, jadi bisa saling ajak. ‘Kak, ini temanku mau ikut Kerabat, kapan jadwalnya?’ gitu,” cerita Rina.
Meski terbilang sukses, Rina mengakui ada tantangan, terutama soal waktu. “Anak-anak kan terkadang di sore hari ada yang ngaji, ada juga yang sekolah sampai sore. Tapi insyaAllah itu tidak menghalangi kami untuk tetap melaksanakan kegiatan,” ujarnya.
Dengan insentif sebagai kader yang hanya sekitar Rp200 ribu per bulan dan cairnya pun sering tertunda, semangat Rina tetap menyala. “Kita kalau udah cinta kerjaan, udah nggak ada lagi rasa apa itu namanya,” katanya sambil tersenyum.
Rina berharap inovasi “Kerabat” dapat menjadi contoh bagi daerah lain di Lombok Timur. “Saya ingin generasi di desa kita ini tidak terjerumus ke hal-hal negatif. Mereka adalah calon orang tua yang akan melahirkan generasi sehat dan bebas stunting,” demikian kisahnya. (rus)


