Selong (Suara NTB) – Langit mendung tidak selalu berarti hujan akan turun. Bagi sebagian petani di Lombok Timur (Lotim), mendung justru menjadi awal dari penantian panjang: kapan tanah kembali basah, kapan benih bisa ditanam, dan kapan tanaman dapat tumbuh tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan untuk air. Luas kawasan lahan kering di Lotim ini dicatat mencapai 113 ribu hektare.
Bupati Lotim, H. Haerul Warisin menyebutkan dalam sebuah kesempatan di Selong belum lama ini, ribuan hektare lahan tersebut tersebar terutama di Kecamatan Peringgabaya, Sambalia, Sakra Timur, Keruak, dan Jerowaru.
Besarnya kawasan lahan kering membuat persoalan air menjadi salah satu tantangan utama pertanian di Lombok Timur. Menurut H. Iron, sapaan Bupati Lotim, masyarakat di wilayah-wilayah tersebut telah mengembangkan strategi masing-masing untuk menghadapi keterbatasan air.
Di wilayah selatan, misalnya, sebagian petani mengalokasikan sebagian lahan untuk membuat embung sebagai tempat menampung air hujan. Dari lahan seluas 1,5 hektare, sekitar 0,5 hektare bahkan dapat digunakan untuk embung.
Sementara di wilayah utara, petani umumnya mengandalkan air hujan untuk musim tanam pertama. Jika ingin melakukan penanaman kedua, mereka harus mengandalkan sumur bor.
Artinya, bagi petani lahan kering, air hujan bukan sekadar bagian dari siklus alam. Air hujan menentukan seberapa luas lahan yang dapat ditanami dan seberapa besar modal yang harus dikeluarkan.
Wilayah Kecamatan Jerowaru, salah satu wilayah di Lotim bagian selatan yang paling luas lahan kering. Lahan yang hanya mengandalkan air hujan. Tidak ada alternatif irigasi. Tidak ada pilihan sumber air yang bisa membasahi lahan.
Setiap musim kemarau seperti saat ini, terlihat kondisi lahan yang banyak menganggur. Belum ada aktivitas apapun yang bisa dilakukan. Meski kadang sesekali ada sejumlah petani yang terlihat mulai bersiap untuk menyambut datangnya sumber penghidupan bagi lahan-lahan tadah hujan tersebut.
Murni, salah satu petani di Jerowaru menuturkan saat kemarau seperti sekarang ia hanya bisa menunggu. Tidak ada alternatif cara yang bisa dilakukan untuk memulai bercocok tanam. Akan terlihat beda situasinya ketika musim hujan tiba, sebagian besar lahan terlihat hujau. Seperti tidak ada tempat yang tidak ditanami.
Kondisi tidak jauh beda dengan di Kecamatan Suela. Meski berada di bawah kaki Gunung Rinjani, tidak membuat lahan pertanian banhyak air. Pada lahan-lahan yang tidak bisa dijangkau air irigasi, petani juga tetap hanya bisa menanti hujan.
Muslihan, petani yang telah puluhan tahun menggarap lahan kering di wilayah tersebut, masih mengingat pola musim yang dulu lebih mudah diprediksi. November biasanya menjadi penanda bagi petani untuk mulai mengolah tanah dan menanam jagung.
Berdasarkan pengalaman kebiasaan tahun-tahun sebelumnya, pada bulan Oktober ini biasanya sudah diguyur hujan. Bulan November sudah mulai bercocok tanam, karena hanya mengandalkan hujan, hanya tanaman jagung sekali dalam satu musim bisa ditanam. “Tahun ini kayaknya bulan Desember baru mulai mulai hujan, itu pun tidak merata,” ujar Ihan saat ditemui pada Rabu (1/10/2026).
Langit Lombok Timur beberapa hari terakhir ini memang sudah mulai memperlihatkan ada tanda-tanda bakal turun hujan. Namun, petani tetap tidak berani berspekulasi. Pengalaman beberapa tahun lalu tidak sedikit petani yang gagal panen. Menanam terlalu cepat jelas sangat berisiko.
Hujan yang mengguyur pertama kali biasanya tidaklah merata sebarannya. Jika dipaksakan untuk menanam, maka modal besar bisa amblas. Pasalnya, benih yang sudah terlanjur ditanam ini tidak mungkin akan diambil kembali.
Modal tanam jagung meski di atas lahan kering juga membutuhkan modal yang tidak sedikit. Kebiasaan Muslihan, di atas lahannya ia mempersiapkan 12 kilogram benih jagung. Harga benih saat ini dinilai cukup mahal. Rp120-130 ribu per kilogram. Dari benih ini saja butuhkan modal Rp1,5 juta. Belum lagi biaya-biaya lainnya. (rus)



