Peringatan Hari Jadi ke-131 Kabupaten Lombok Timur (Lotim), Senin (31/8/2026), berlangsung sederhana namun sarat makna di Lapangan Tugu Selong, Lotim. Puncak rangkaian kegiatan diisi dengan tablig akbar yang menghadirkan Gubernur NTB periode 2008–2018, Dr. TGH. M. Zainul Majdi (TGB), sebagai penceramah.
Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin menegaskan, peringatan hari jadi tidak semestinya hanya dimaknai sebagai seremoni tahunan. Momentum tersebut harus menjadi ruang untuk memahami sejarah sekaligus melakukan introspeksi terhadap perjalanan pembangunan daerah.
“Yang kita rayakan bukan sekadar hari. Tapi kita harus tahu sejarahnya,” kata Bupati.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan Lombok Timur sebagai rumah bersama. Menurutnya, perbedaan massa, pilihan, maupun cara dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat merupakan bagian dari dinamika pemerintahan. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh menghilangkan semangat bersama untuk membangun daerah.
“Silaturahmi harus lebih tinggi dari perbedaan. Lombok Timur harus kita jaga bersama,” tegasnya.
Bupati juga menyampaikan apresiasi kepada para pemimpin Lombok Timur sebelumnya, termasuk H. Abdul Kadir, Dr. H. Ali Bin Dachlan, dan Drs. H. M. Sukiman Azmy. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada TGB H. M. Zainul Majdi yang pernah memimpin NTB dan dikenal sebagai putra Lombok Timur.
Menurut H. Iron, sapaan Bupati Lotim, pembangunan daerah merupakan pekerjaan lintas generasi. Karena itu, setiap keringat yang dicurahkan para pendahulu maupun generasi saat ini merupakan bagian dari sejarah Lombok Timur.
“Terima kasih kepada bupati-bupati sebelumnya. Tugas kita menjaga dan terus membangun,” ujarnya.
Haerul menekankan, peringatan hari jadi harus menjadi momentum mengevaluasi sejauh mana Lombok Timur telah berjalan, apa yang telah dicapai, dan apa yang masih harus diperjuangkan.
Ia berharap pembangunan tidak hanya terlihat melalui jalan dan gedung pemerintahan, tetapi juga dirasakan langsung di rumah-rumah masyarakat. “Kita ingin Lombok Timur semakin smart. Pembangunan tidak hanya jalan dan gedung, tetapi terlihat di rumah masyarakat. Anak-anak kita harus memiliki masa depan yang cerah, semakin produktif dan sejahtera. Kita ingin masyarakat rukun, saling menghormati dan menjaga persaudaraan,” katanya.
Menariknya, seluruh rangkaian peringatan Hari Jadi ke-131 tersebut tidak dialokasikan dalam APBD Kabupaten Lombok Timur 2026.
Haerul mengatakan kegiatan diselenggarakan melalui kolaborasi berbagai pihak sehingga tidak membebani keuangan daerah.
“Acara ini tidak ada dalam APBD. Kita kolaborasi,” tegasnya.
Ketua Panitia Hari Jadi ke-131 Lombok Timur, H. M. Juaini Taofik, yang juga Sekda Lombok Timur menjelaskan, sesuai arahan Bupati, peringatan tahun ini dilaksanakan secara sederhana. Namun tetap penuh makna.
Juaini menerangkan, dasar peringatan Hari Jadi Lombok Timur mengacu pada Perda Nomor 1 Tahun 2013. Secara filosofis dan yuridis, hari jadi ditetapkan pada 31 Agustus 1895, yang merujuk pada momentum pertama kalinya Lombok Timur tercatat sesuai peraturan perundang-undangan pada masa tersebut.
Rangkaian kegiatan juga diisi dengan berbagai aktivitas sosial dan pemberdayaan masyarakat. Salah satunya penggalangan dana untuk membantu korban gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT). Donasi yang dihimpun dari ASN dan berbagai pihak mencapai sekitar Rp480 juta.
Selain itu, bazar UMKM digelar pada 30–31 Agustus dan dirangkaikan dengan pentas hiburan rakyat. Tablig akbar menjadi salah satu puncak kegiatan sekaligus ruang muzakarah dan refleksi bersama.
Usai tablig akbar, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan dialog untuk menampung aspirasi masyarakat. Sejumlah unsur masyarakat turut dilibatkan, di antaranya perwakilan kader Posyandu terbaik, Forum Komunikasi Kepala Desa (FKKD), serta pelaku pariwisata.
Rangkaian peringatan kemudian ditutup dengan makan malam gratis bagi sekitar 10 ribu warga yang telah mendapatkan kupon.
TGB: Lotim Punya Marwah
Dalam ceramahnya, TGB H. M. Zainul Majdi mengaku baru mengetahui bahwa usia Kabupaten Lombok Timur telah ditetapkan mencapai 131 tahun.
Ia mengajak masyarakat Lombok Timur terus menjaga persatuan. Menurutnya, pembangunan tidak mungkin diwujudkan apabila masyarakat terpecah oleh konflik dan perbedaan.
“Tidak mungkin terwujud pembangunan kalau kita terpecah belah,” pesannya.
TGB mengingatkan masyarakat agar tidak mudah diadu domba. Konflik berkepanjangan, katanya, hanya akan menghilangkan marwah Lombok Timur yang selama ini dikenal sebagai daerah yang menjunjung kebaikan.
Ia kemudian mengulas sejumlah karakter yang menurutnya menjadi kekuatan masyarakat Lombok Timur. Salah satunya adalah kecintaan terhadap ilmu pengetahuan.
Menurut TGB, banyak putra Lombok Timur yang menempuh pendidikan hingga ke berbagai daerah dan negara. Ia menyebut mahasiswa asal Lombok Timur banyak ditemukan di Mesir, Jakarta, Yogyakarta, hingga Malang.
Ketika dirinya menjabat Gubernur NTB, kata TGB, banyak pejabat yang berasal dari Lombok Timur. Ia juga secara khusus menyebut Bupati Haerul Warisin sebagai sosok yang sejak dahulu memiliki bakat kepemimpinan. “Bupati Lotim ini lain dari dulu. Punya bakat dari dulu,” ujar TGB.
Ia juga mengingatkan sejarah panjang tradisi keilmuan Lombok Timur. Salah satu ulama yang disebutnya adalah TGH Umar Kelayu yang dikenal pernah berkhidmat dalam tradisi keilmuan Islam Nusantara dan disebut sebagai salah satu guru dari Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama.
Selain itu, terdapat TGH Zainuddin Abdul Madjid yang dikenal sebagai salah satu ulama besar asal Lombok dan tokoh penting dalam sejarah pendidikan Islam di NTB.
TGB menyebut tradisi tersebut sebagai warisan besar masyarakat Lombok Timur.
“Lombok Timur adalah kota warisi pecinta ilmu. Orang yang diakui ulama dunia. Itulah putra Lotim,” katanya.
Ia juga menggambarkan masyarakat Lombok Timur sebagai masyarakat yang berani merantau, terbuka terhadap pendatang, sekaligus memiliki keberanian dalam menegakkan kebenaran.
Menurutnya, ada tiga karakter besar yang perlu terus dijaga, yakni cinta ilmu, berani bepergian untuk mencari pengalaman dan pengetahuan, serta terbuka terhadap siapa pun.
“Pergilah belajar, lalu pulang bangun Lombok Timur,” pesannya.
TGB menilai besarnya jumlah penduduk Lombok Timur sekaligus membuat persoalan yang dihadapi daerah ini lebih banyak. Namun, kondisi tersebut semestinya dipandang sebagai tantangan yang harus diselesaikan bersama.
“Lombok Timur paling banyak penduduk, paling banyak masalah. Orang Lombok Timur dilahirkan untuk menyelesaikan masalah,” katanya.
Ia mengajak masyarakat mengokohkan karakter-karakter baik tersebut karena sejalan dengan nilai agama. Terlebih Lombok Timur dikenal sebagai daerah religius dengan banyak pondok pesantren dan tuan guru.
Di akhir pesannya, TGB kembali mengajak seluruh masyarakat menjaga persatuan dan marwah daerah. Perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk saling menjauh, sebab pembangunan Lombok Timur membutuhkan kebersamaan seluruh masyarakat. “Lombok Timur adalah rumah kita bersama,” menjadi semangat yang kembali ditekankan dalam peringatan Hari Jadi ke-131 tersebut. (rus)


